1984 dan Peradaban di abad 21


1984 dan Peradaban di abad 21 1

Belakangan sebuah novel klasik karya Eric Arthur Blair, atau yang kita kenal sebagai George Orwell, dicetak ulang oleh banyak penerbit di luar maupun dalam negeri. Novel 1984 secara umum menggambarkan kondisi masyarakat Oceania di bawah pemerintahan totalitarianisme. Artinya setiap jengkal kehidupan masyarakat Oceania diatur dan diawasi oleh pemerintah melalui kementrian-kementrian yang ada, salah satunya adalah Ministry of Truth.

1984 dan Peradaban di abad 21 3

Meski novel ini ditulis Orwell dalam kurun waktu lebih kurang 2 tahun dan dipublikasi pada tahun 1949, situasi dan kondisi yang dialami masyarakat Oceania seolah gambaran masyarakat abad 21. Beberapa fenomena yang relevan dan dapat kita kenali dari novel ini adalah isu propaganda oleh pemerintahan melalui media, independensi, loyalitas, dan teknologi. 

Propaganda yang dilakukan partai penguasa melalui Ministry of Truth menguasai, menyeleksi, dan menyebarkan informasi kepada masyarakat. Dengan kata lain, realita dan identitas masyarakat dibentuk oleh informasi yang disebarkan. Media sepenuhnya dikuasai demi kepentingan partai penguasa sehingga alih-alih menyebarkan informasi yang aktual dan akurat, media memberikan informasi apa yang menurut partai penguasa benar dan perlu diketahui masyarakat.

Fenomena semacam ini dapat kita lihat pada kondisi dan situasi pemilu presiden di Amerika Serikat beberapa waktu lalu, misalnya. Kubu Trump selain menarasikan kampanye hitam terhadap lawan politiknya, Joe Biden, pun menguasai beberapa media elektronik besar seperti FOX News dan MAGA media lainnya.

Media massa pro Trump ini memunculkan fakta-fakta dan informasi yang tidak bersesuaian dengan fakta dan informasi di lapangan serta opini para ahli. Sebut saja mengenai prediksi kemenangan Biden berdasarkan polling oleh beberapa lembaga survei dan televisi, hingga hasil pemilihan yang memenangkan Biden dan berujung pendudukan Capitol oleh massa pro Trump pada 6 Januari 2021 lalu.

Sumber: www.usnews.com
Sumber: www.usnews.com

Sebagaimana masyarakat Oceania yang dituntut memiliki loyalitas tanpa batas terhadap partai penguasa, loyalitas pendukung Trump pun demikian. Dengan adanya ajakan Trump untuk melakukan penolakan dan protes di Gedung Capitol, para pendukung Trump berdatangan dari berbagai penjuru negara bagian. Mereka meyakini bahwa Trump akan hadir dan berada di barisan terdepan pada aksi tersebut, namun pada kenyataannya Trump berada di Oval Office, Gedung Putih sambil memantau kerusuhan melalui televisi. Loyalitas semacam ini pun banyak terjadi dan menyebabkan kerusakan.

Loyalitas seringkali mendorong kerusakan sebagaimana yang disorot berbagai media mengenai skandal korporat, mesin politik, kecurangan dalam olahraga dan pembunuhan kelompok.”John Angus D. Hildreth, dkk (2015)

Artinya, loyalitas yang tidak memberi ruang untuk keraguan dan patuh butalah yang mendorong terjadinya kerusakan. Pada akhirnya masyarakat Oceania dan kita secara tidak sadar melakukan hal ini entah sebagai bentuk identitas diri atau pemenuhan tuntutan. Kerusakan yang terjadi akibat loyalitas tanpa batas yang disebarkan propaganda media semakin memburuk dengan adanya penggunaan teknologi.

Jargon “The Big Brother is watching” ini merujuk pada telescreen milik pemerintah yang memudahkan Thought Police, mungkin kita bisa menyebutnya dengan polisi siber, mengawasi dan menangkap masyarakat Oceania yang menyimpang. Warga negara Cina di abad 21 ini mengalami hal serupa yangmana kehidupannya diawasi 24 jam secara transparan oleh pemerintah melalui CCTV yang berada di setiap sudut kota.

Sumber: www.hrw.org
Sumber: www.hrw.org

Telescreen pada 1984 dan Skynet dalam kehidupan masyarakat Cina memiliki teknologi pengenalan wajah dan identifikasi setiap individu. Teknologi ini memungkinkan pemerintah dengan mudah mengenali, mengamati dan mengawasi setiap individu di wilayah pemerintahannya. Selain itu, sebagaimana partai penguasa di Oceania, pemerintah Cina pun secara terbuka menyampaikan penggunaan teknologi ini. Dengan demikian, masyarakatnya tidak dapat berperilaku semena-mena.

Menarik bukan fenomena yang ada dalam novel 1984 ini? Wajar juga ya kalau novel ini dicetak berulang di seluruh dunia dan menjadi incaran khususnya di tahun 2020 dan awal 2021. Jadi, menurut kamu apakah 1984 karya Orwell ini memang mampu menggambarkan kondisi di abad 21 sekarang? 

 


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Nenden Rikma

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap