3 Alasan Mengapa Tuchel Tidak Bisa Membawa Chelsea Sukses Secara Instan


3 Alasan Mengapa Tuchel Tidak Bisa Membawa Chelsea Sukses Secara Instan 1

Frank Lampard baru saja dipecat oleh Chelsea. Sang pemilik, Roman Abramovich, kemudian mendatangkan Thomas Tuchel untuk menjadi nahkoda baru bagi skuad The Blues. Kebetulan Tuchel sedang menganggur setelah dilepas oleh raksasa Prancis, Paris Saint-Germain (PSG).

Sebagai pelatih baru, Tuchel langsung memikul beban yang berat. Sebab, ekspektasi atas dirinya sangat tinggi untuk bisa mengeluarkan Chelsea yang sedang tersendat di papan tengah klasemen sementara Liga Inggris. Belum lagi jika melihat fakta bahwa tim ini telah menggelontorkan dana sebesar 247,2 juta Euro pada bursa transfer musim panas kemarin, tentunya bukan hal mudah untuk Tuchel menjawab tantangan tersebut.

Walaupun Tuchel datang dengan segudang record bagus di klub sebelumnya (Borussia Dortmund dan PSG), namun bukan berarti ia dapat langsung membawa Chelsea meraih banyak gelar juara secara instan. Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa Chelsea akan tetap sulit meraih gelar juara musim ini meski telah mendatangkan Thomas Tuchel sebagai pelatih baru.

Datang di Tengah Kompetisi dan Melatih Skuad yang Belum Solid Antara Satu dengan Lainnya

3 Alasan Mengapa Tuchel Tidak Bisa Membawa Chelsea Sukses Secara Instan 3

Seperti yang diketahui, setidaknya ada 6 pemain bintang baru yang berhasil didatangkan Chelsea di awal musim kemarin. Mulai dari kiper hingga penyerang, pemain baru ada di setiap lini dan hampir semuanya diproyeksikan mengisi skuad inti. Hal ini nyatanya menjadi tantangan tersendiri bagi Tuchel apalagi ia datang di tengah-tengah kompetisi yang sedang berlangsung.

Ya, fans Chelsea seharusnya tidak perlu terlalu berharap banyak sejak awal kedatangan Tuchel. Meski Tuchel langsung dihadapkan dengan pemain-pemain berlabel bintang, namun itu bukan jaminan bahwa ia bisa langsung klop dengan skuad Chelsea.

Salah satu permasalahan utama di skuad Chelsea adalah belum adanya kekompakan antar pemain lama dan pemain baru. Dengan banyaknya pemain baru yang datang awal musim kemarin, tentu butuh banyak waktu agar skuad ini bisa tampil lebih solid. Pergantian pelatih di tengah kompetisi seperti ini bisa saja justru menambah PR baru bagi skuad Chelsea.

Tantangan Berat Memaksimalkan Potensi Pemain Baru

3 Alasan Mengapa Tuchel Tidak Bisa Membawa Chelsea Sukses Secara Instan 4

Beberapa pemain baru Chelsea tampil dibawah ekspektasi. Nama yang paling banyak dibicarakan adalah Timo Werner dan Kai Havertz. Performa duo Jerman ini dianggap masih belum sebanding dengan harga transfer mereka yang selangit.

Werner terlihat belum menemukan tempat yang nyaman dibawah asuhan Lampard kemarin. Banyak yang menganggap bahwa menempatkan Werner sebagai sayap kiri adalah sebuah kesalahan. Meski ia senang mencari ruang dari sisi kiri, Werner tetap bukan seorang pemain sayap.

Selain itu, ia bukan pula striker murni bertipe nomor 9 layaknya Olivier Giroud atau Tammy Abraham. Sekarang, Thomas Tuchel harus lebih memutar otaknya agar pemain yang dibeli seharga 53 juta Euro ini bisa mencetak banyak gol seperti ketika di RB Leipzig musim lalu.

Sama seperti Werner, potensi Havertz di lini tengah juga masih belum terlihat. Pemain seharga 80 juta Euro ini sejatinya adalah gelandang serang bertipe nomor 10. Ia dianggap bisa memberikan potensi terbaik ketika diberi kebebasan sendirian dalam mengatur serangan tim.

Nyatanya, di bawah asuhan Lampard, Havertz lebih sering berbagi peran dengan Mason Mount di lini tengah dalam formasi dua gelandang serang. Ia bahkan sering dirotasi sebagai pemain sayap baik di sisi kiri ataupun kanan – di mana banyak yang menganggap bahwa itu bukanlah peran yang seharusnya dimainkan oleh Havertz. Menjawab ekspektasi atas peran Harvertz juga menjadi PR berat Thomas Tuchel saat ini. 

Belum Terbiasa dengan Kerasnya Liga Inggris

3 Alasan Mengapa Tuchel Tidak Bisa Membawa Chelsea Sukses Secara Instan 5

Banyak pemain baru Chelsea yang “kaget” dengan kultur sepak bola di Inggris. Di luar Ben Chilwell, pemain baru lain seperti Edouard Mendy, Thiago Silva, Kai Havertz, Hakim Ziyech, dan Timo Werner semuanya masih buta dengan gaya bermain di Inggris.

“Intensitas duel di sini sangat tinggi. Jujur kompetisi ini sangat berbeda dari liga-liga lain. Pertandingan di sini membuat saya sangat kelelahan,” Ucap Kai Havertz.

Di lain waktu, Timo Werner pun mengatakan hal yang kurang lebih sama. “Sepak bola di Liga Inggris berbeda, saya pikir karena beknya. Saya tidak pernah menghadapi tiga bek sebesar itu. Bek yang tinggi dan besar,” Katanya.

Bahkan, bek perpengalaman seperti Thiago Silva sampai harus merasakan sakit kepala ketika bermain di Inggris. “Sekarang di kompetisi Inggris, saya sering merasa sakit kepala. Selalu ada duel udara dengan kecepatan yang begitu tinggi. Ini sangat berbeda dari dua liga tempat saya bermain sebelumnya,” Ungkap Silva pada satu kesempatan.

Ya, begitupun dengan Thomas Tuchel yang baru pertama kali melatih di Inggris. Tentu pelatih asal Jerman ini harus menyesuaikan ide yang ada di kepalanya dengan cara bermain di Inggris. Tentu saja hal itu bukan sesuatu yang mudah.

Sekali lagi, meraih gelar juara yang instan adalah sesuatu yang sulit bagi Thomas Tuchel. Pelatih berusia 47 tahun ini memang punya peluang untuk bisa membawa Chelsea kembali menjadi tim yang disegani baik di Inggris maupun di Eropa, namun hal itu pasti membutuhkan waktu yang lama.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Mister IR

   

Akan membagikan segala informasi kepada Sobat Mister semua.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap