3 Tingkatan Puasa dan Penjelasannya


3 Tingkatan Puasa dan Penjelasannya 1

Tak terasa agenda puasa Ramadhan yang kita laksanakan, sudah berjalan satu minggu. Meski, kita saat ini berada dalam kondisi yang tak menentu akibat merebaknya wabah di berbagai daerah.

Penting kita renungkan kembali sabda Nabi Saw berikut ini, “Siapa saja yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan (syarat) iman dan hanya semata-mata mengharap ridhaNya, maka dosanya yang telah lalu  akan diampuni oleh Allah Swt.”

Jelasnya, untuk meraih konsekwensi “ghufira lahu maa taqaddama min dzanbihi” di atas, telah Nabi Saw tegaskan syaratnya, yaitu “iman” dan “ihtisab” bagi orang yang senantiasa berpuasa di bulan Ramadhan. Hal itu merupakan syarat logis bagi kita untuk selalu memperbaiki keyakinan dan fokus hati, bahwa semua amal kita semata-mata li ajlillahi ta’ala (murni karenaNya). Sebab, yang mengampuni dosa kita adalah Allah Swt. Jadi, sangat rasional jika hanya karenaNya-lah fokus amal kita, bukan karena yang lain.

Kiranya sudah ma’lum bagi kita mengenai syarat-rukun shaum (puasa) dalam persfektif fiqih, bahwa puasa merupakan al-imsak (menahan/meninggalkan) makan, minum, dan bersenggama). Namun, juga menjadi maklum kiranya kita melaksanakan agenda puasa ini tidak hanya terbatas pada menjalankan kewajiban semata tanpa memperhatikan kualitas. Ibarat bercocok tanam, kita tak hanya melakukan rutinitas bertani semata tanpa peduli akan mutu bibit, dan bagaimana bibit-bibit tersebut tumbuh bermutu.

Artinya, puasa kita tidak berhenti pada aspek dhahir semata. Akan tetapi, bagaimana agar batin kita bersih (meski tidak 100 persen) dari penyakit yang membuat amal puasa kita tidak bermakna. Sebab, Nabi Saw bersabda, “Betapa banyak orang yang menjalankan ibadah puasa, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu, kecuali rasa lapar dan dahaga.”

Untuknya Imam Al-Ghazali memberikan sebuah klasifikasi dalam karya monomentalnya, Ihya’ Ulumiddin, bahwa ada tiga tipe golongan orang berpuasa. Di sini Al Ghazali, memberikan sebuah tangga, yaitu:

1. Shaumu al-umum.

Shaumul umum ini merupakan puasanya seseorang yang hanya menahan perut dan organ kemaluannya semata dari makan, minum, dan bersenggama. Artinya, ia hanya memenuhi aspek fiqih semata.

2. Shaumu al-Khushush

Shaum khusus, artinya selain ia memenuhi aspek fiqihnya, ia juga sedikit larut lebih dalam. Ia menjaga pendengarannya, pandangannya, lidahnya, tangannya, kakinya, dan sebagainya dari perbuatan tercela (dosa).

3. Shaumu al-Khushushu al-Khushus

Golongan orang yang berpuasa yang satu ini merupakan pangkat yang tertinggi. Setelah ia memenuhi kriteria yang pertama, pun melengkapinya dengan tipe yang kedua, ia juga menyempurnakannya dengan, hatinya pun berpuasa dari hal-hal yang berbau materi. Hati dan fikirannya fokus semata-mata karena Allah Swt. Tidak sedikitpun melirik pada hal-hal yang berbau profan. Bahkan, pada sesuatu yang mubahpun, yang tidak memiliki pangkal akhirat, ia hindari dan membuangnya jauh-jauh. Puasa tipe ini jarang sekali manusia yang mampu larut di dalamnya.

Untuk itu, sebelum bulan puasa yang kita kunjungi ini meninggalkannya. Mari, kita menakar diri, menghitung kemampuan kita demi kualitas amal ibadah kita. Setidaknya, kita memiliki komitmen, sedikitnya dengan berusaha dan mencoba semampu yang kita bisa.

Taqabbalallah minna waminkum shiyamana washiyamakum..


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Holikin

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap