5 Cara Kenali Berita Hoax, Jadilah Netizen Yang Cerdas

hoax

Masyarakat dewasa ini dimudahkan dengan suguhan berbagai berita yang bisa diperoleh hanya dengan bermain jari. Namun, berita yang kamu terima perlu ditelisik, apakah berita benar atau hanya sekedar hoax.

Yap, berita hoax sepertinya sudah menjadi alat yang bisa memecah belah persatuan bangsa. Apalagi di tahun ini (2019) yang merupakan tahun pemilu. Sebagai pengguna media sosial harus cerdas mencermati kebenaran berita atau hanya berita bohong alias hoax.

Di kutip dari kompas.com hasil riset masyarakat telematika menyebutkan sebanyak 44,3 persen responden menerima berita hoax setiap harinya. Bahkan 17,2 persen responden menerima lebih dari satu berita hoax.

Jenis hoax terbanyak adalah terkait isu sosial politik (918%) , isu SARA (88,6%), dan 41,2 % tentang kesehatan. Oleh karena itu, 75,9 % responden menyatakan hoax mengganggu kerukunan.

Nah, untuk menjadi netizen yang cerdas, kamu bisa mencermati berita tersebut benar atau hoax dengan lima cara berikut ini.

 

1. Cek judul berita

Pastikan ketika membaca berita kamu mencermati judulnya. Pastikan judul berita tidak mengandung topik sensasional atau tidak masuk akal. Contohnya, saat terjadi gempa bumi, akan banyak berita yang muncul terkait gempa susulan. Berita yang menyatakan gempa susulan akan lebih besar.

Hal tersebut termasuk dalam kategori hoax, karena hingga saat ini gempa bumi tidak dapat diprediksi.

Kamu juga harus hati-hati dengan judul yang provokatif. Judul yang menyudutkan atau menuding pihak tertentu. Isi berita tersebut bisa saja diambil dari media resmi, namun judulnya di rubah agar menjadi provokatif.

 

2. Cek sumber berita

Pastikan berita yang kita baca berasal dari sumber yang terpercaya, baik artikel tersebut berasal dari penerbit terkenal maupun seorang ahli. Menelisik sumber berita sangatlah penting, karena jika tidak mencantumkan sumber berita, bisa jadi berita tersebut adalah hoax atau berita bohong.

Kamu juga harus mencermati alamat URL situs yang dimaksud. Jika berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi resmi pres, atau memiliki domain blog, bisa jadi berita tersebut masih meragukan.

 

3.Cermati keseluruhan isi berita

Cara selanjutnya adalah membiasakan membaca keseluruhan isi berita. Biasanya berita akan mencantumkan nama seseorang. Misalnya berita terkait kesehatan, berita tersebut akan terlihat kredibel dengan mencantumkan nama dokter. Kita dapat mengecek berita tersebut benar atau hoax dengan menelusuri nama dokter di internet.

Jika nama dokter tidak ditemukan dipastikan berita tersebut hoax. Selain itu kamu juga harus berpikir dua kali untuk membagikan berita tersebut jika belum dapat dipercaya.

Kamu juga mempertimbangkan sumber berita, jika hanya ada satu sumber maka pembaca belum memiliki gambaran yang utuh. Selain itu, amatilah berita tersebut merupakan fakta atau opini.

 

4. Cek foto yang ada dalam berita

Diera digutal seperti saat ini tidak hanya teks yang dapat dimanipulasi namun juga foto atau video. Berita palsu biasanya akan mencantumkan foto yang telah diedit yang bersifat provokatif.

Kamu dapat mengecek keaslian foto dengan memanfaatkan mesin google. Kamu dapat melakukan drag-and-drop ke mesin pencari google image. Hasilnya akan menampilkan foto-foto serupa yang terdapat diinternet kemudian bandingkan.

 

5. Ikutilah grup anti hoax

Saat ini banyak grup anti hoax yang dapat ikuti. Baik media sosial seperti facebook ataupun grup whatsapp..

Dalam grup tersebut kamu bisa bertanya terkait kebenaran berita yang kamu terima. Semua anggota bisa berkontribusi selayaknya crouwdsourcing yang memanfaatkan tenaga banyak orang.

Nah, jadilah netizen yang cerdas, yang bersikap bijak dan kritis saat menerima informasi. Jauhi konsep tiger happy yang hanya membagikan berita tanpa banyak merinci. Hal ini sudah menjadi kebiasaan para pengguna media sosial di Indonesia.

 

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Asih Kurniaty