5 Hal yang beban keluarga wajib hindari menurut Psikologi-Islam

5 Hal yang beban keluarga wajib hindari menurut Psikologi-Islam 1

Tahun 2020 merupakan masa kelulusan bagi para pelajar yang dijuluki Covid 19 Generation . Hari-hari seusai kelulusan mungkin berjalan dengan wajar , makan, minum, main, dan tidur tidak ada hal yang berubah hingga masa perkuliahan tiba dan membuka mata kita betapa tak berdayanya ketika melihat orang tua berjuang keras untuk menghidupi anak-anaknya. Sedih? Terpuruk? Atau frustasi?

Stanley G Hall (Dalam Santrock , 2012 : 402) menyatakan bahwa masa remaja disebut sebagai Badai & Stress dimana kita sedang berada pada masa pencarian jati diri. Pemikiran yang lebih abstrak & idealis membuat kita cenderung memiliki gagasan atau ide yang terkadang tak sesuai realita, namun masa dewasa membuat kita memahami bahwa realita tak semanis ekpektasi.

Prasangka

Suudzon dalam islam adalah perilaku berprasangka buruk.Suudzon dibagi menjadi 3 kelompok :

1.   Suudzon kepada Allah

Yaitu menganggap Allah kejam atau sebagainya karena tidak membantu atau hanya memberikan ujian semata.

2.   Suudzon Kepada orang lain

Yaitu melihat segala perbuatan seseorang dari sudut pandang negatif tanpa melihat kebenaran yang sesungguhnya.

3.   Suudzon kepada diri sendiri

Yaitu suudzon yang diperbolehkan karena selalu merasa berdosa sehingga dapat meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Brown (Dalam Endah alfriani , 2019) terdapat beberapa ciri prasangka, yaitu:

  1. Keyakinan kognitif yang merendahkan
  2. Pengekspresian perasaan negatif
  3. Tindakan permusuhan
  4. Tindakan diskriminatif

Beberapa hal yang harus dihindari oleh beban keluarga dalam perspektif Psikologi & islam

1.   Persepsi Negatif

Ketika kita mempersepsikan segala sesuatu dari sudut pandang yang negatif maka akan melahirkan emosi yang negatif  karena emosi adalah perwujudan dari cara kita menilai suatu hal. Efeknya tidak hanya sampai disitu saja melainkan dapat mempengaruhi perkembangan emosi kita kedepannya. Contoh ketika kita melihat sebuah kegagalan sebagai hal buruk bisa saja melahirkan emosi negatif berupa sedih atau amarah yang nantinya jika terus berlanjut akan membuat kita menjadi sosok seorang yang tidak percaya diri atau tempramental.

Allah berfirman dalam QS.Al-Hajj : 15

Barangsiapa menyangka bahwa Allah tidak akan menolongnya (Muhammad) di dunia dan di akhirat, maka hendaklah dia merentangkan tali ke langit-langit,  lalu menggantung (diri), kemudian pikirkanlah apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya.

2.   Gagal move on

Move on dari kegagalan memang bukanlah hal yang mudah untuk kita lakukan, sulit memang menerima sebuah kenyataan apa yang kita dapatkan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan namun sampai kapan kita seperti itu?

3.   Terpapar tayangan negatif

Asupan tayangan tidak bermoral dapat mempengaruhi emosi kita, contohnya menonton seseorang yang mengalami kasus bullying. Tidak ada salahnya menonton hal tersebut jika dijadikan sebagai bahan pelajaran namun itu juga dapat meningkatkan kecemasan dalam berinteraksi sosial apabila dikonsumsi secara berlebih.

4.   Lingkungan negatif

Lingkungan yang buruk dapat mempengaruhi pandangan kita terhadap hidup, contohnya ketika memiliki teman atau tetangga yang kerjanya menghina dan ngurusin hidup orang lain ini bisa mengakibatkan rasa kawatir dalam melakukan aktivitas.

5.   Selalu menghina diri sendiri

Tidak jarang kita mengatakan pada diri kita bahwa kita seorang yang tidak berguna, jelek, bodoh, dan sebagainya. Apakah kita sadar ternyata hal itu dapat membuat kita memiliki kepercayaan diri yang rendah karena dapat mensugesti diri sehingga muncul persepsi & keyakinan buruk bagi diri yang nantinya melahirkan pribadi pemalu atau pribadi negatif lain.

Masalah memang sejatinya akan terus datang menghampiri namun disinilah pentingnya kita memahami bagaimana melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang positif dengan berkeyakinan bahwa Allah tidak memberikan cobaan untuk hambanya melebihi batas kemampuan hambanya (QS.Al-Baqarah ayat 286).

Dalam penelitiannya Gilbert menemukan bahwa orang yang berpikir positif dapat merasa lebih rileks dan memiliki kontrol emosi yang baik (Dalam Rusydi ,2012). Dapat disimpulkan bahwa merasa diri sebagai beban keluarga adalah sesuatu yang salah karena sejatinya kita merupakan salah satu karunia dari Allah yang diberikan kepada orang tua dalam wujud anak dan kalaupun kita dilanda oleh masalah alangkah baiknya kita berusaha menyelesaikannya dengan lebih produktif daripada hanya mengeluh & merendahkan diri sendiri.

Daftar pustaka

  • Elfariani, I. (2019). Prasangka dan Suudzon: Sebuah Analisa Komparatif. Volume 2 Nomor 1 Juli 2019 ,      1-4.
  •   J.W.Kalat. (2015). BIOPSIKOLOGI Biological Psychology (9 ed.). Jakarta: Salemba Humanika.  
  •   Robert L. Solso, Otto  H.Maclin, M.Kimberly Maclin. (2011). Psikologi Kognitif (8 ed.). Jakarta: Erlangga.  
  •   Rusydi, A. (2012). HUSN AL-ZHANN: KONSEP BERPIKIR POSITIF DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI ISLAM. Vol. 7 (1) 2012, 1-31 , 1-32.  
  •   Santrock, J. W. (2012). Life-Span Development (13 ed.). Jakarta: Erlangga.  

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

ADRIAN WIKRA WARDANA