5 Kesalahan Investor Reksadana Yang Sering Dilakuin

5 Kesalahan Investor Reksadana Yang Sering Dilakuin 1

Di tahun 2021 ini bisa dibilang sebuah tahun yang dimana banyak banget anak-anak muda yang sudah melek soal yang namanya Investasi dan bahkan sebagian dari mereka tuh banyak banget yang mengetahui soal yang namanya investasi di reksadana yang saat ini lagi aku bahas.

Hal ini diakibatkan sudah banyak banget anak muda yang sudah mulai sadar soal yang namanya literasi keuangan ditambah ada banyak banget konten kreator di Youtube, Blog yang membahas soal ini, sehingga informasi ini lah yang membuat jumlah pertumbuhan investor di Indonesia meningkat. 

Meskipun banyak orang yang sudah ter-edukasi, tapi nyatanya pada praktiknya masih banyak banget orang-orang yang kadang suka kebingungan ketika mau berinvestasi di produk reksadana dan pada akhirnya malah menimbulkan kesalahan yang amat sangat fatal di kedepannya. 

1. Nggak ngerti tujuannya investasi tuh buat apa

Hal ini bisa dibilang kesalahan yang menurut aku cukup fatal, kalau diibaratkan seperti ketika kalian sedang memesan ojek online, namun kalian sendiri nggak tahu alasan kalian order ojek online itu untuk apa serta nggak tahu tujuan kalian itu mau ke daerah mana. 

Pada dasarnya sih ketika kalian mau mulai yang namanya berinvestasi, kalian harus bisa tuh yang namanya tentuin tujuan kalian berinvestasi misalnya entah ingin membeli mobil, untuk menikah, untuk dana pensiun, dan sebagainya, sehingga dengan adanya acuan ini bisa membuat kalian tahu tujuannya berinvestasi. 

2. Investor yang ngelakuin BPJS 

BPJS adalah kependekan dari Beli Pagi Jual Sore, Investor yang satu ini bisa dibilang tipe investor yang nggak sabaran banget, ngeliat portofolio nya untung sedikit ngejual, ngeliat pasar saham yang kondisinya lagi stabil ada rasa pengen jual, dan sebagainya. 

Seperti yang kalian tahu, ketika kalian mencoba menjadi seorang investor tentunya kalian nggak akan ngelakuin yang namanya BPJS, dan tipe investor baru akan menjual aset reksadana nya setelah tujuan investasi nya sudah selesai dan jangka waktu yang ia gunakan sudah cukup lama entah itu 5 sampai 10 tahun kedepan. 

Kalau kalian ngelakuin yang namanya BPJS, jelas-jelas itu namanya Trader dan bukan Investor. 

3. Asal-asalan dalam membeli produk Reksadana

Aku masih cukup sering sih nemuin orang yang begini, dia ingin menjadi seorang investor di reksadana tetapi dia sendiri nggak tahu produk reksadana yang dia beli itu isinya apa, prospek kedepannya bagaimana, kinerja nya seperti apa, total aset yang dikelola berapa, dan sebagainya. 

Kalau kalian merasa seperti ini, aku akan menyarankan kalian untuk belajar apa sih yang namanya reksadana, reksadana ada beberapa macam dan risiko. Sehingga dengan hal ini kalian bisa memilih produk reksadana yang cocok dengan kalian dan tentunya memiliki rasa keyakinan bahwa reksadana yang kalian pilih akan memiliki performa yang bagus.

4. Kena yang namanya FOMO 

Buat kalian yang masih asing dengan kata “Fomo” Fomo adalah kepanjangan dari Fear of Missing Out yang berarti sebuah fenomena yang dimana seseorang akan merasa takut karena diri mereka sendiri tidak mengikuti sebuah hal baru yang ada di media sosial. Loh terus apa hubungannya sama reksadana?

Jadi di platform itu kan ada banyak banget tuh produk reksadana dan juga tentunya ada sebuah platform chat yang isinya orang-orang untuk berdiskusi soal reksadana.

Aku yakin diantara para orang-orang itu pasti ada salah satu orang yang suka kasih informasi bahwa reksadana ini bagus, wajib dibeli dan dikoleksi, dan sebagainya. Akibatnya akan banyak banget orang-orang yang tertarik dengan perkataan orang tersebut dan memulai untuk membeli reksadana itu serta nggak mau ketinggalan kereta. Ketika kalian ikut juga membeli maka sudah dipastikan kalian terkena yang namanya FOMO. 

Jadi sebisa mungkin jangan sampai kalian membeli reksadana hanya terpengaruh dari orang-orang, yang padahal kalian sendiri belum tahu kinerja reksadana yang di FOMO-in seperti apa. 

5. Beli sekali lalu dilupakan 

Nggak sedikit orang yang pengen kaya secara cepat yaitu dengan cara membeli 1 reksadana, lalu berharap reksadana yang ia beli akan bertambah dengan pesat tanpa ia setor lagi, dan menurut aku ini adalah cara yang sangat keliru. 

Ketika kalian berinvestasi di reksadana, tentunya kalian harus melakukan yang namanya Dollar Cost Averaging yang berarti kalian harus rutin membeli reksadana yang kalian pilih selama 1 bulan sekali, 1 minggu sekali, atau bahkan 1 hari sekali. Dengan cara ini tentunya kalian akan mendapatkan imbal hasil yang cukup banyak serta mendapatkan NAV yang rata-rata. 

Jadi itulah dia 5 kesalahan investor reksadana yang sering dilakuin oleh pemula, semoga dengan adanya artikel ini bisa menjadikan kalian lebih berpengetahuan lagi dan lebih memilih keputusan yang tepat ketika berinvestasi, karena pada dasarnya kegagalan adalah guru terbaik yang pernah ada. 

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Giery

   

Halo, nama aku Giery, Aku akan membagikan semua pikiran aku melalui tulisan yang aku buat dan semoga bisa menghibur para pembaca