5 Perempuan Pejuang Yang Tidak Viral di Generasi Millennial

5 Perempuan Pejuang Yang Tidak Viral di Generasi Millennial 1

Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia ke-76 dimasa pandemi, tentu memberikan dampak yang besar bagi generasi muda. Upacara peringatan yang biasa dilakukan juga masih terbatas dalam konsep virtual.

Kemerdekaan yang telah diraih melalui pengorbanan dan perjuangan, jangan sampai kita lupakan. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya sendiri.

Dok. Perempuan-perempuan pejuang yang terlupakan
Dok. Perempuan-perempuan pejuang yang terlupakan

Semoga informasi sejarah mengenai perempuan-perempuan pejuang ini dapat memberikan energi positif bagi kita dalam menghadapi pandemi. Mampu memberi inspirasi, bahwa perjuangan harus dilakukan bersama-sama, khususnya dalam melawan wabah Covid-19.

1. Nyi Mas Gamparan

Dok. Ilustrasi Nyi Mas Gamparan di Museum Multatuli, Banten
Dok. Ilustrasi Nyi Mas Gamparan di Museum Multatuli, Banten

Seorang perempuan pejuang dari Balaraja, Banten, ini menggelorakan perlawanan menentang kolonialisme Belanda pada tahun 1829. Ia mengangkat senjata karena melihat perilaku kesewenang-wenangan Belanda terhadap rakyat Banten. Selain dari persoalan dendam akibat dibubarkannya Kesultanan Banten oleh penguasa kolonial.

Ia memimpin pasukan dari para perempuan tangguh dari kalangan rakyat biasa yang dikenal dengan Srikandi. Pasukan ini dibentuk untuk memerangi para tuan tanah yang selalu berlaku tidak adil terhadap para petani lokal.

Daerah Balaraja dipakai untuk memusatkan kekuatan yang dibangunnya. Dari daerah inilah Nyi Mas Gamparan melakukan serangkaian serangan terhadap para tuan tanah hingga pos-pos jaga Belanda.

Upaya perlawanannya berakhir tatkala Belanda meminta bantuan dari Raden Tumenggung Kartanata dari Jasinga. Pengepungan secara besar-besaran oleh pasukan musuh membuat pasukannya takluk. Hingga pada tahun 1830 perjuangannya dapat dipadamkan.

2. Ida I Dewa Agung Istri Kanya

Dok. Lukisan Ida I Dewa Agung karya Seruni Bodjawati
Dok. Lukisan Ida I Dewa Agung karya Seruni Bodjawati

Perempuan pejuang ini berasal dari Bali, tepatnya Kerajaan Klungkung. Ia adalah seorang Ratu yang berkuasa pada 1814 hingga 1850. Semangat perjuangannya dimulai tatkala Hak Tawan Karang Kerajaan-Kerajaan Bali dilanggar oleh Belanda.

Gelar Istri Kanya disematkan pada akhir namanya, karena keputusan untuk tidak menikah selama seumur hidupnya. Ia sendiri bergelar Ratu penguasa Klungkung yang membawahi pasukan perang kerajaan.

Keterlibatannya dalam Puputan Jagaraga membuat dirinya mengobarkan Perang Kusamba pada tahun 1849. Pada pertempuran Kusamba, ia berhasil menewaskan Jenderal Andreas Michiels yang terkenal tangguh di setiap medan pertempuran. Michiels tewas terkena tembakan dari Meriam I Selisik yang terkenal sakral.

Perjuangannya berakhir ketika Kerajaan Kusamba sudah tidak lagi mampu membendung serangan Belanda. Diiringi jatuhnya Kerajaan-Kerajaan Bali ke tangan Belanda.

Usai laga Kusamba berakhir, perjuangannya tak lantas berhenti begitu saja. Kitab-kitab perang yang menceritakan mengenai perjuangannya ia selesaikan untuk dapat disebarluaskan. Tujuannya hanya satu, semangat perjuangannya tidak akan padam walau pertempuran telah padam.

3. Bulan Jihad

Dok. Ilustrasi Bulan Jihad, situs Kesultanan Banjar
Dok. Ilustrasi Bulan Jihad, situs Kesultanan Banjar

Tokoh perempuan pejuang ini berasal dari Kalimantan Timur. Ia berasal dari suku Dayak Kenyah dan turut terlibat dalam Perang Banjar pada 1859. Keterlibatannya bersama pasukan Gusti Zaleha tak ayal membuat Belanda kewalahan. Gusti Zaleha sendiri merupakan cucu dari Pangeran Antasari yang disegani.

Sikap kerasnya menentang eksploitasi alam Kalimantan oleh Belanda, telah membuat beberapa pabrik pengolahan batu bara Belanda tak lagi dapat berfungsi dan dengan segera ditutup.

Ia dianggap sebagai Panglima Burung pemersatu suku Dayak dengan kesaktian tinggi yang dimilikinya. Dibawah komandonya, suku Dayak Dusun, Ngaju, Kayan, Kenyah, Siang, Bakumpai, Banjar, dan Hulu Sungai, bersatu menentang Belanda.

Ketika pendudukan Jepang di Kalimantan, mereka tidak mau berurusan dengan Bulan Jihad karena sudah memahami karakter perjuangannya. Maka wajar apabila Jepang hanya mendiami daerah strategis di pesisi Kalimantan.

Bulan Jihad tidak pernah dapat ditangkap oleh Belanda ataupun Jepang. Selama bergerilya di pedalaman hutan Kalimantan ia terus membuat keresahan para penjajah disana. Ia terdata sebagai pejuang tatkala keluar hutan pada Januari 1954 oleh Pemerintah Muara Joloi.

Tjilik Riwut seorang tokoh perjuangan dari Kalimantan pun mengakui kehebatannya setiap beraksi melawan penjajah. Ia melegenda hingga kini, sebagai sang penjaga hutan Kalimantan.

4. Siti Manggopoh

Dok. Tugu Siti Manggopoh di Sumatera Barat
Dok. Tugu Siti Manggopoh di Sumatera Barat

Perempuan pejuang ini berasal dari Sumatera Barat tepatnya dari distrik Manggopoh, Agam. Ia mengikrarkan perang melawan penerapan pajak yang semena-mena oleh Belanda. Penerapan pajak ini dikenal dengan istilah Belasting.

Usai Perang Bonjol berakhir, rakyat Sumatera Selatan baik dari kalangan Paderi ataupun Adat, merasa dikhianati atas kegagalan Perjanjian Plakat Panjang. Belanda mengingkari kesepakan yang telah dibuat.

Sebelum Siti mengobarkan pertempuran, telah terjadi Perang Kamang yang dikobarkan oleh bekas pengikut Tuanku Nan Renceh pada tahun 1908. Walau mengalami kekalahan telak, semangat juang para pelaku Perang Kamang dapat menginspirasi Siti untuk bangkit berjuang.

Perang Manggopoh ia gelorakan pada Juni 1908. Seorang ibu yang tengah menyusui anak balitanya angkat senjata melawan Belanda. Strategi serangan malam hari menjadi suksesi pertempurannya. Benteng Belanda di Manggopoh, seketika takluk bersama 53 serdadunya yang tewas terbunuh.

Usai pertempuran tersebut, ia bersama para pejuang lainnya bergerilya hingga 17 hari lamanya di dalam hutan. Walau akhirnya perjuangannya ia akhiri ketika Belanda mengancam akan membunuh seluruh rakyat Manggopoh.

5. I Fatimah Daeng Takontu

Dok. I Fatimah Daeng Takontu, asrip sejarah Indonesia
Dok. I Fatimah Daeng Takontu, asrip sejarah Indonesia

Putri dari Pangeran Hasanuddin ini berani melawan Belanda sejak usia yang masih sangatlah muda. Pada masa akhir Perang Makassar, ia turut mengangkat senjata tatkala usianya masih 12 tahun.

Semangat juangnya ia gelorakan hingga ke tanah Jawa. Armada kapal perang Gowa dipimpinnya guna membantu Sultan Ageng Tirtayasa menentang Belanda di Banten. Bersama kakaknya Karaeng Galesong ia membantu pasukan Sultan Ageng yang tengah mengadapi Sultan Haji dukungan Belanda.

Melihat situasi Sultan Ageng yang sudah terdesak dan berupaya mengadakan perjanjian dengan Belanda, ia memilih kembali ke Sulawesi. Selama mengarungi Laut Jawa, ia bersama armadanya terus menyerang kapal-kapal Belanda.

Ia dijuluki Garuda Dari Timur oleh Belanda karena keberaniannya. Akhir perjuangannya sampai saat ini masih menjadi misteri. Akibat dari ragam klaim sejarah mengenai eksistensinya di Kalimantan.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Hendra Fokker