5 Red Flag Dalam Sebuah Hubungan

5 Red Flag Dalam Sebuah Hubungan 1

Red flag atau bendera merah mengkiaskan  tanda berhenti atau tanda untuk mengakhiri sebuah hubungan dikarenakan beberapa hal yang sudah tidak bisa lagi untuk di tolerir.

Banyak pasangan yang rela membutakan dirinya akan red flag ini dikarenakan hubungan yang sudah lama atau rasa sayang yang sangat besar. Padahal hubungan toxic hanya akan menyakiti diri sendiri serta bukan merupakan awal yang baik untuk menjalin masa depan dengan orang tersebut.

Yang sangat perlu di ingat adalah, hubungan antara dua orang itu dibangun atas dasar rasa suka dan perasaan ‘saling menyenangkan’ atau lumrahnya saling memberikan feedback yang baik untuk kedua belah pihak. Nah, kalau hubungan tersebut tidak membuatmu bahagia, untuk apa hubungan tersebut di ada?

Berikut red flag yang harus kamu perhatikan untuk mempertimbangkan kemballi hubunganmu sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius :

Abusive atau pola prilaku kekerasan. Ketika kekasih kamu sudah ringan tangan misalkan memukul, menampar atau berteriak kepadamu. Itu adalah red flag utama yang harus kamu pikir-pikir lagi untuk menjalin hubungan dengan orang tersebut. Seburuk apapun kehidupanmu, semiskin apapun ekonomimu, sehancur apapun keluargamu bukan alasan untuk kamu rela disakiti oleh seseorang. Biasanya prilaku abusive ini terjadi dari pihak laki-laki, namun tak jarang perempuan juga bisa abusive ke pasangannya. Perilaku ini bukanlah hal sepele, hari ini dia main tangan ke kamu karena hal kecil. Lalu bagaimana dengan hal besar?

Playing victim atau disebut dengan istilah victim mentality adalah ketika seseorang melemparkan kesalahan ke orang lain padahal kesalahan tersebut adalah perbuatannya sendiri. Contoh simpelnya adalah ketika kamu dan pasangan bertengkar akan sesuatu, lalu pasanganmu bercerita kepada pihak ketiga seakan itu salahmu dan dia adalah korban. Sebaiknya orang seperti ini dihindari karena kamu tidak akan cocok di sosial manapun karena manusia seperti itu sering kali dibenci dan di jauhi oleh orang lain.

Tidak punya rencana bukan berarti kamu harus menakar hartanya. Tetapi baik itu laki-laki atau perempuan seharusnya punya rencana untuk masa depan dan seharusnya kamu ada di dalamnya. Misalkan bagaimana dia akan menghidupi anak istrinya kelak. Dan si perempuan punya rencana apa untuk membesarkan anaknya dikemudian hari.

Alkohol dan narkoba memang semua orang bisa berubah, tetapi selagi kamu bisa memilih, pilihlah calon yang baik dan benar untuk kehidupanmu. Menikah itu harus dengan pertner yang tepat dan sesuai, kamu tidak hanya memilih pasangan, tapi juga ayah bagi anakmu, menantu bagi keluargamu, ipar bagi adik kakakmu dan wajah bagi keluargamu di mata orang lain. Alkohol dan narkoba sifatnya hampir sama seperti rokok, candu akan sulit hilang dan mudah kumat. Jadi untuk apa repot-repot memilih pasangan yang akan menyesengsarakan dirimu sendiri.

Tidak nyambung atau kesulitan mengkomunikasikan suatu hal. Baik itu topik ringan atau bahkan sampai pada masalah besar yang menimpa hubungan tersebut. Jika pasanganmu menjauh dan tidak mau menyelesaikan masalah dengan baik, lebih baik relakan hubungan itu. Karena pasangan adalah tempatmu berbagi cerita, menemukan ujung pangkal dari masalah kehidupan yang akan kamu hadapi sampai mati. Kalau dia tidak nyambung dengan kamu, bagaimana kebahagiaan akan datang pada keluargamu?

Jika 2 dari red flag di atas ada pada pasanganmu, lebih baik minta dia segera berubah atau setidaknya cobalah mencari solusi terbaik sebelum mengakhiri hubunganmu. Namun ketika tidak ada titik terangnya, lepaskan perlahan-lahan.

Karena kamu berhak bahagia, dan orang yang tepat akan selalu ada.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Indri Aprilia