5 Sisi Positif dibalik Larangan Mudik Lebaran 2021


5 Sisi Positif dibalik Larangan Mudik Lebaran 2021 1

Kini kita ketahui, peraturan tentang peniadaan mudik lebaran 2021 dikeluarkan oleh Satgas COVID-19. Hal ini tentu menuai kontroversi masyarakat.

Bagaimana tidak, tahun lalu masyarakat terutama perantau juga dilarang mudik lebaran untuk mencegah lonjakan kasus COVID-19. Mereka berharap peraturan larangan mudik ditiadakan ditahun ini. Namun, siapa sangka COVID-19 tak kunjung mereda apalagi hilang.

Mudik menjelang lebaran telah menjadi tradisi yang melekat bagi para perantau. Mudik lebaran adalah momen massal tahunan yang ditunggu semua kalangan masyarakat khususnya mereka yang bekerja jauh dari kampung halaman.

Saat inilah hasrat mereka sedang pada puncaknya melepas rindu dan bersilaturahmi dengan keluarga dikampung halaman. Sehingga, peraturan larangan mudik yang bertujuan menekan angka COVID-19 ini pun menjadi sangat menyedihkan bagi para pemudik.

Dikutip dari www.health.detik.com, jumlah kasus positif korona di Indonesia bertambah 4.512 pada Sabtu (1/5/2021). Total kasus positif menjadi 1.672.880, sembuh 1.526.978, dan meninggal 45.652 kasus.

Dari data tersebut, dapat dikatakan bahwa penyebaran COVID-19 di Indonesia masih meningkat. Pemerintah melakukan upaya untuk mengurangi risiko penyebaran COVID-19 dengan mengajak masyarakat mematuhi protokol kesehatan dan beberapa peraturan lainnya.

Peniadaan mudik merupakan upaya pemerintah mengurangi risiko masyarakat terpapar COVID-19. Saat ini, mudik lebaran memang menjadi dilema di kalangan masyarakat terutama bagi mereka yang harus pulang ke kampung halaman hanya untuk bersilaturahmi dan menikmati momen lebaran dengan keluarga.

Ada beberapa hal yang harus mereka pertimbangkan sebelum mudik lebaran tahun ini. Mereka harus memilih antara menahan rindu dengan kampung halaman untuk kesekian kalinya atau berisiko terpapar COVID-19.

Tentu saja pemudik ini memiliki beberapa alasan yang membuatnya tetap harus pulang ke daerahnya.

Nah, beberapa hal berikut jadi faktor pendorong masyarakat nekat mudik dikutip dari www.detikfinance.com, sebanyak 66 pembaca detik.com yang memilih mudik memiliki alasan tersendiri. Mulai dari yang tetap menjalankan protokol kesehatan, percaya diri dengan kondisi badannya sehat, percaya kalau wabah ini akan berakhir atau selesai pada pertengahan ramadan. Ada yang beralasan karena naik kendaraan pribadi, hingga rasa kangen bertemu orang tua.

Dari pernyataan tersebut, masyarakat yang nekat mudik merasa yakin dirinya sehat dan tetap menjalankan protokol kesehatan. Padahal, bisa saja mereka membawa virus tanpa mengalami gejala apapun atau biasa disebut orang tanpa gejala.

Berikut sisi positif peniadaan mudik agar tetap menikmati momen lebaran sekaligus silaturahmi dengan keluarga.

1. Mengurangi pengeluaran terutama bagi masyarakat yang terdampak efisiensi.

Beberapa sektor bisnis mengalami kerugian karena pandemi COVID-19. Dalam mengatur keseimbangan pendapatan dan pengeluaran saat ini, tidak jarang perusahaan melakukan efisiensi karyawan sebagai salah satu solusinya dengan mengurangi jumlah SDM (Sumber Daya Manusia).

Kondisi seperti ini tentunya membuat masyarakat tertekan karena sulitnya kondisi perekonomian. Peniadaan mudik ini mungkin berdampak positif bagi masyarakat yang masih ragu dalam memutuskan ingin mudik namun tidak memiliki biaya lebih karena kurangnya biaya kebutuhan. Selain itu, biaya yang dimiliki dapat ditabung untuk kebutuhan hidup lainnya dan keperluan yang mendesak.

2. Tetap dapat bertemu keluarga secara virtual

Semenjak pandemi, semua kegiatan dilakukan dari rumah. Misalnya, belajar dari rumah, bekerja dari rumah, dan ibadah di rumah. Walaupun ada beberapa bidang pekerjaan yang memang tidak dapat dilakukan dari rumah seperti para tenaga medis. Kebiasaan baru ini membuat beberapa orang merasa sulit bertemu siapa pun. Apalagi karena adanya pembatasan yang sudah diberlakukan di berbagai wilayah mulai dari lingkup kecil hingga yang besar.

Seiring berjalannya waktu, dengan segala macam kebutuhan yang mendesak akhirnya, muncul beberapa aplikasi tatap muka virtual. Contohnya seperti Zoom, Google Meet, Microsoft Teams, dan sebagainya. Sehingga kegiatan bekerja maupun belajar dari rumah tetap dapat terlaksana dengan baik. Walaupun terpisahkan dengan jarak, semoga jumpa virtual bagi masyarakat tidak mengurangi rasa kekeluargaan dan keharmonisan.

3. Mengurangi risiko kecelakaan

Perjalanan yang sangat jauh mungkin membuat para pengendara merasa lelah dan penat. Namun, ada beberapa orang yang memaksa agar tetap melanjutkan perjalanan. Beberapa orang mungkin menganggap supaya cepat sampai tujuan, mereka menahan dengan melewatkan kesempatan beristirahat.. Namun, kebiasaan ini memicu terjadinya kecelakaan karena pengendara kelelahan dan kurang fokus.

4. Mengurangi gangguan kesehatan mental

Banyak kemungkinan yang terjadi karena kegiatan mudik meningkat pesat. Beragam pula transportasi yang digunakan masyarakat agar dapat sampai ke kampung halamannya. Salah satunya pada kendaraan roda dua dan roda empat. Padatnya lalu lintas yang bahkan tidak bergerak lancar membuat kemacetan. Apabila kemacetan ini berlangsung selama berjam-jam maka beberapa pengendara mungkin merasa kesal dan emosinya meningkat. Dengan adanya peniadaan mudik, diharapkan mengurangi risiko gangguan mental pada masyarakat.

5. Mengurangi risiko masyarakat terpapar COVID-19

Dikutip dari www.kumparan.com, “Kepada masyarakat Tatar Galuh, Ciamis bahwa hari ini saya mendapatkan laporan pukul 08.00 WIB bahwa warga Ciamis sudah ada yang Positif satu orang,” kata Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya saat mengecek persiapan penyekatan pemeriksaan di perbatasan Ciamis-Tasikmalaya, wilayah Sindangkasih Rabu, (1/4) .

“Seminggu lalu anaknya dari zona merah (Jakarta) nengok menginap, saat kembali dari rumah sakit langsung dicek lagi langsung positif COVID-19,” jelas dia.

Dengan masyarakat tidak mudik, tetap di rumah saja, dan menerapkan protokol kesehatan, dampak positif ini pasti akan dirasakan bersama karena selain menjaga diri sendiri, kita juga menjaga orang lain.

Pandemi COVID-19 ini membuat kita melewatkan beberapa kesempatan, salah satunya mudik. Namun hal ini tidak menyulut semangat kita untuk tetap menjalani aktivitas seperti biasa karena banyak hal positif dari kebijakan larangan mudik yang saat ini diberlakukan.

Memang sih, belum tentu orang yang tidak mudik tidak terpapar COVID-19. Namun, belum tentu juga orang yang mudik tidak menularkan COVID-19 ke kampungnya.

Sudah sepatutnya, bukan hanya pemerintah tetapi juga masyarakat untuk mencegah penyebaran COVID-19 ini. Setelah mengetahui banyak hal positif dari larangan mudik, sebaiknya jangan ragu untuk tidak mudik ya.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Cholifah Dunya

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap