A Conspiracy: His Mind


A Conspiracy: His Mind 1

Menyatakan perasaan juga mungkin mudah untuk sebagian orang. Akan tetapi, bisa menjadi sulit untuk yang tidak tahu bagaimana cara terbaik untuk melakukannya. Ditambah, aku-lah yang berniat menyatakannya lebih dulu.

“Meluluhkan sebongkah es itu nggak semudah kamu mencairkan es krim, Val.” Begitu kata Eve.

Aku pribadi mengerti, akan sangat mungkin jika aku harus menyatakannya lebih dari satu kali pada Vernon. Setidaknya harus dicoba, bukan?

Maka siang itu, dengan segenap hati, meski diselingi rasa takut dan tidak percaya diri, aku mulai mengirimkan pesan bodoh padanya. Sedikitnya berharap ia akan segera membalas dengan baik dan menyatakan perasaannya juga. Akan tetapi, alam semesta memang senang bercanda dengan makhluk-makhluknya. Jawaban yang ia berikan sama sekali tidak berisi suatu perasaan yang jelas.

“Omong kosong,” desisku.

Eve yang melihat raut wajahku berubah drastis langsung merangkulku tanpa bersuara. Ia tahu hal baik tidak mendatangi sahabatnya. Bukan Valerie namanya kalau sudah menyerah hari ini.

“Aku mau keluar.”

“Sekarang?”

“Iya. Mau beli coklat.”

“Buat Vernon?”

Aku mengangguk kuat. “Meskipun bukan Valentine Day, gak ada salahnya, ‘kan menyatakan cinta di hari apapun?”

Belum juga Eve memberi respon, aku sudah meninggalkan ruang kelasku dengan setengah berlari. Waktu istirahat masih 20 menit lagi, waktu yang cukup untuk melakukan semua ini. Paling tidak, bisa diberikan sewaktu pulang sekolah.

Mendapatkan sebungkus coklat susu dan sebuah pita biru dari kantin membuatku tersenyum. Entah ini sebuah kesialan atau keberuntungan, Vernon juga sedang berada di kantin. Namun berkebalikan denganku, kini dia sedang bersama teman-temannya.

Kalau aku memberikannya di depan teman-teman Vernon dan aku ditolak, aku akan malu setengah mati. Begitu sebaliknya, kalau diterima, berita tentang aku dan Vernon akan segera tersebar ke seluruh penjuru sekolah kalau kami jadian.

Sambil membayar coklat dan pita biru yang kuambil, aku berpikir keras. Bagaimana cara terbaik untuk memberikannya?

“Jangan melamun, gue mau cepet ke kelas.”

Suara itu. Aku menoleh ke arahnya. Wajah itu. Dasar bodoh. Malah ketemu di antrian.

“Um, iya. Maaf.”

“Goblok banget, Val! Ketahuan lu beli coklat sama pita disini,” rutukku.

Aku memutuskan untuk memberikannya nanti sore, ketika pulang sekolah.

Semoga saja Tuhan tidak mempersulit ini semua.

 

Bersambung…


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

ckselrk

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap