A Conspiracy: His Mind

A Conspiracy: His Mind

Menyatakan perasaan juga mungkin mudah untuk sebagian orang. Akan tetapi, bisa menjadi sulit untuk yang tidak tahu bagaimana cara terbaik untuk melakukannya. Ditambah, aku-lah yang berniat menyatakannya lebih dulu.

“Meluluhkan sebongkah es itu nggak semudah kamu mencairkan es krim, Val.” Begitu kata Eve.

Aku pribadi mengerti, akan sangat mungkin jika aku harus menyatakannya lebih dari satu kali pada . Setidaknya harus dicoba, bukan?

Maka siang itu, dengan segenap hati, meski diselingi rasa takut dan tidak percaya diri, aku mulai mengirimkan pesan bodoh padanya. Sedikitnya berharap ia akan segera membalas dengan baik dan menyatakan perasaannya juga. Akan tetapi, alam semesta memang senang bercanda dengan makhluk-makhluknya. Jawaban yang ia berikan sama sekali tidak berisi suatu perasaan yang jelas.

Baca juga  Sastra Cyber: Alternative Universe

“Omong kosong,” desisku.

Eve yang melihat raut wajahku berubah drastis langsung merangkulku tanpa bersuara. Ia tahu hal baik tidak mendatangi sahabatnya. Bukan Valerie namanya kalau sudah menyerah hari ini.

“Aku mau keluar.”

“Sekarang?”

“Iya. Mau beli coklat.”

“Buat ?”

Aku mengangguk kuat. “Meskipun bukan Valentine Day, gak ada salahnya, ‘kan menyatakan cinta di hari apapun?”

Baca juga  Lirik Lagu Kemarin – Seventeen, Lagu Sedih Dengan Lirik Mendalam

Belum juga Eve memberi respon, aku sudah meninggalkan ruang kelasku dengan setengah berlari. Waktu istirahat masih 20 menit lagi, waktu yang cukup untuk melakukan semua ini. Paling tidak, bisa diberikan sewaktu pulang sekolah.

Mendapatkan sebungkus coklat susu dan sebuah pita biru dari kantin membuatku tersenyum. Entah ini sebuah kesialan atau keberuntungan, juga sedang berada di kantin. Namun berkebalikan denganku, kini dia sedang bersama teman-temannya.

Kalau aku memberikannya di depan teman-teman dan aku ditolak, aku akan malu setengah mati. Begitu sebaliknya, kalau diterima, berita tentang aku dan akan segera tersebar ke seluruh penjuru sekolah kalau kami jadian.

Baca juga  Lirik Lagu Sumpah Ku Mencintaimu – Seventeen, Pengungkapan Rasa Cinta

Sambil membayar coklat dan pita biru yang kuambil, aku berpikir keras. Bagaimana cara terbaik untuk memberikannya?

“Jangan melamun, gue mau cepet ke kelas.”

Suara itu. Aku menoleh ke arahnya. Wajah itu. Dasar bodoh. Malah ketemu di antrian.

“Um, iya. Maaf.”

“Goblok banget, Val! Ketahuan lu beli coklat sama pita disini,” rutukku.

Aku memutuskan untuk memberikannya nanti sore, ketika pulang sekolah.

Semoga saja Tuhan tidak mempersulit ini semua.

 

Bersambung…

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

ckselrk