“Abu-abu” Dalam Warna Hidupku

“Abu-abu” Dalam Warna Hidupku

Entah apa yang kutil hari ini. Aku ingin menggambarkan kisah hidupku yang terasa kian suram dan tak tau ke mana arah angin kan membawaku pergi setelah ini. Meski harapan-harapan dalam benak dan kepalaku masih terus menari liar, terus meminta diiringi alunan musik khayalan nan merdu yang tak diijinkan tuk berhenti walau sejenak. Tak ingin dihentikan oleh kenyataan bahwa alam terus memberi siang dan malam, terik dan dingin, mendung bahkan hujan badai sesuka hatinya. Tapi, mereka enggan pegi…,terus menari dan menari dalam kepalaku.

Siapa? Kenapa aku? Apa yang sebenarnya kuinginkan? Ke mana tujuanmu sesungguhnya? Siapa yang menginginkan keberadaanmu? Atau…,siapa yang mau pedulikan dirimu?! Seluruh pertanyaan ini seolah rantai besi yang terus mencekik leherku. Hanya kau sendiri dan keluargamu. Iya? Hanya dirimu sendiri dan keluargamu! Bahkan mungkin, mereka telah mencapai titik di mana tidak lagi berharap penuh kepadamu dan mungkin saja akan mengabaikanmu, jika kau semakin jatuh semakin dalam, ke dalam ketidakpastian dan ketidakberdayaan.

Uang. Lalu kenapa? Kenapa harus uang?! Gilaaaaaaaaa! Aku ingin berteriak sekuat tenagaku. Melampiaskan segala amarah dan emosi, rasa bersalah dan ketidakmampuan yang sudah menggunung. Ingin sekali kumuntahkan, seperti lahar panas yang meledak dari ketinggian gunung. Arrrrrggggghhhhhhh!!

Aku ingin berteriak dari ketinggian gunung yang sepi, melepaskan sega yang telah tertahan dalam raga. Namun, inginku…tak seorangpun yang akan mendengar teriakan penuh keputusasaan itu, Sebab….aku seorang pecundang. Pecundang sejati! Sesak….sesak rasanya, sesak sekali.

Aku muak. Aku muak rasanya. dan sangat Muak! lagi-lagi Uang. Dan kenapa harus uang?! Dan mengapa harus uang yang mencekik leherku?! Aku berusaha bekerja dari pagi hingga petang, bahkan pernah dari pagi hingga pagi, hanya karena aku tak ingin lagi hari esokku dibudaki oleh uang. Namun, semakin ingin kulepas, semakin dalam pula aku jatuh ke dalam perangkapnya.

“Abu-abu” Dalam Warna Hidupku

Aku pernah berjalan kaki, sejauh 4km jauhnya. Semua itu, kulakukan demi uang. Berbagai cara ikhlas kulakukan demi uang. Demi sebuah kebebasan finansial. 11 tahun aku coba berjuang, dengan berbagai upaya yang coba kutempuh. Namun mengapa, seolah nasib baik tak berpihak kepadaku?

Hingga detik ini, walau ia terus membuatku kecewa, aku tetap patuh pada waktu. waktu yang kupikir tepat untuk mereka, tepat untuk menunjukan satu dari sekian banyak kedisiplinan yang coba kuperjuangkan. Tapi pada kenyataannya, aku hanyalah seorang pecundang! Yang hanya mengejar profesionalitas, tanpa menyadari, tanpa menghargai, apa waktu yang sebenarnya diberi untukku, yang kulewati begitu saja.

Iya, aku hanyalah pecundang! Pecundang yang tak pernah menghargai waktu yang dimiliki. Pecundang yang tak pernah menghargai kasih sayang dan kepercayaan yang telah diberi oleh orang-rang yang tulus mencintaiku. Akankah mereka memaafkan aku?? Entahlah…., kurasa, mereka juda telah cukup memaafkanku sejak dulu, namun kuulangi lagi dan lagi. Aku sungguh menyedihkan. Sungguh mengecewakan.

“Abu-abu” Dalam Warna Hidupku

Entah……apa yang bisa kalian dapatkan dari tulisanku ini. Entah apa yang dapat kuperbaiki? Atau apa yang dapat kubenahi terlebih dahulu?!

Tentu, semua itu akan membutuhkan waktu. Waktu dan waktu!

Oooooohhh…itu terdengar mengerikan. Sangat mengerikan. Sebab, hal inilah yang sesungguhnya sangat melelahkan bagiku untuk kutempuh kembali. 

Aku hanya berharap, waktu atau apapun itu namanya, yang terbaik, yang sedang kau genggam sedari dulu, sejatinya merupakan kekuatan jiwa ragamu yang harus kau pakai sebaik mungkin, untuk mencapai apa yang hendak kau tujui dalam hidupmu. Tak ada kasih, tak ada sayang yang melebihi tulusnya kasih sayang Ayah dan Ibu. dan aku…..aku telah merusaknya!

Maafkan aku….Ayah….Ibu…,maafkanlah aku! #MyQuarterLifeCrisis_Jakarta_21_April_2021

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Keytimu_12'March