Abu-Abu Kematian & Perpisahan dalam Kehidupan


Abu-Abu Kematian & Perpisahan dalam Kehidupan 1

Mengingat sebuah dilema kehidupan memungkinkan manusia untuk bertanya kepada diri sendiri mengenai arti hidup yang sesungguhnya. Mungkin belum ada manusia yang mampu menjawab pertanyaan ini, bahkan akupun belum bisa jawab. Memberikan makna kepada masyarakat pun aku belum bisa, aku masih berkompromi dengan beberapa hal. Seiring berjalan menuju kematian, aku pun sadar tujuan hidup manusia selalu berubah, tidak ada yang pasti.

Gelapnya dunia menghasilkan arti sesungguhnya dari kehidupan. Kejayaan dan ketenaran hanyalah sementara, segala teori yang diajarkan tidak berlaku, hanya memori yang abadi. Keabadian merupakan hal yang dicari oleh manusia. Kabar tak kunjung datang demi mencari keabadian dari dunia merupakan kewajiban setiap insan. Di kala dunia ingin hancur, manusia ingin meraih sesuatu yang tidak pasti. Bagi beberapa orang, ini langkah yang dungu. 

Jiwa yang berontak pun bertanya-tanya kepada sistem demi mencari kepastian. Lubang-lubang di dalam diri telah kehilangan kepercayaan terhadap sistem. Setiap hari manusia diperbudak oleh sebongkah layar demi hal yang fiksi. Fantasi manusia membawa ke jalan yang sesat, terkadang bisa membawa ke jalan kematian. Meskipun, Pusara sudah menyambut dengan bahagia, terik kota sudah menyampaikan perpisahan. 

Setiap manusia meyakini selain pertemuan terdapat perpisahan, namun kita terlalu sibuk untuk menghadapi arti perpisahan tersebut. Mengupayakan sesuatu agar selalu bersama dengan manusia. Takdir manusia pada hakikatnya adalah mati. Kematian pun membawa perpisahan dengan dunia nyata. Gejolak pikiran dan hati pun membawa ke dalam kematian secara tersembunyi. 

Kematian pun dapat tergambarkan suasananya, dapat diceritakan dengan jelas. sebuah peti berwarna cokelat telah hadir di ruang tamu, rambut tertata rapi, pakaian serba hitam, dan nyanyian kidung jemaat. Keluarga dan kerabat pun turut berkumpul sambil menahan tangis dan sapa, adat juga berjalan dengan lancar. Aku tidak tahu harus bagaimana dalam menghadapi situasi seperti ini. Bahkan, diriku masih menyangkali peristiwa ini. 

Kala itu, petang hari dan dunia pun sedang di puncak kesibukan, matahari dan lingkungan pun tidak mendukung, menghantarkan ke peristirahatan terakhir, ke dalam sebuah pesara yang berada di daerah Jakarta Selatan. Air mata dan jeritan mulai memenuhi ruangan, aku pun termenung dengan haru. Esensi dari kehidupan pun mulai berubah arah tujuan. Tenda dan galian sudah dipersiapkan. 

Pendeta memberitakan injil penghiburan, peti pun perlahan tenggelam dalam merahnya tanah, nyanyian perpisahan pun sudah dikumandangkan, air mata hanyalah pelengkap. Ambulans berwarna hitam berjalan mengelilingi kota sebelum mengantarkan ke liang kubur. Seakan-akan, semesta memberikan penghormatan terakhir. Rasa bangga dan haru mulai campur aduk di dalam hati.

Rasa sesal dan marah pun perlahan mulai menghilang, begitu besar kasih yang beliau ajarkan kepada kami.  Kehidupan penuh kejutan mampu memberikan rasa kehilangan kepada makhluk ini. Ingin menyangkal rasa hati ini, namun hati berkata lain. Intuisiku mengatakan untuk lepaskan semuanya. Satu-satunya yang ku yakini bahwa semesta akan memberikan penghiburan dan kekuatan.

Begitu bergejolak melihat kejutan dari kehidupan sehingga mampu melewati kematian sebagai perpisahan. Hidupku masih dikelilingi oleh kenangan yang berkaitan dengan beliau. Memang perpisahan begitu menakutkan seseorang dalam menjalani kerasnya dunia. Walau, rasa ini tak terjelaskan, kejadian ini masih terngiang-ngiang di kepalaku hingga saat ini. Aku tidak tahu harus bagaimana. 

Manusia selalu mempertanyakan kehidupan setelah kematian, terdapat beberapa perbedaan pandangan tentang hal ini. bagi beberapa manusia berpikir setelah kematian kehidupan kita hanyalah sebatas roh yang melayang jauh, namun menurut masyarakat konservatif sangat percaya bahwa setelah kematian, kehidupan kita akan dibawa ke surga atau neraka. Mereka begitu meyakini akan surga dan neraka sehingga mereka selalu menjaga perilaku di dalam kehidupan mereka. 

Surga dan neraka, sebuah keyakinan masyarakat atas kehidupan setelah kematian, ditentukan melalui perbuatan selama hidup. Surga yang dibayangkan oleh khalayak masyarakat selalu memberikan kesempatan untuk mengampuni semua kesalahan perbuatan selama hidup, namun di neraka terdapat siksaan abadi, akibat dari perbuatan yang negatif selama hidup. 

Aku percaya bahwa dibalik ketenangan jiwa yang penasaran akan melalui penghakiman abadi, untuk menentukan masuk surga dan neraka. Kematian pun merupakan cara untuk bertemu dengan Maha Kuasa. Memiliki penyakit dikacaunya kehidupan, memang rasanya sangat menakutkan apabila dihadapkan surga dan neraka secara langsung. Penyesalan yang menusuk mendalam akan menakuti kehidupan selamanya. 

Aku percaya itu hanyalah dongeng semata yang ingin menakutkan manusia, namun semuanya dapat meyakini kehadiran surga dan neraka. Mungkin belum ada jalan yang tepat untuk meyakini aku tentang surga dan neraka, semuanya terasa abu-abu. Menurut kepercayaan, kita harus berbuat baik, melakukan semua ajaran-Nya, dan menolong sesama, agar diberi keselamatan. Memang aku meyakini hal tersebut, namun rasanya belum ada bukti yang mendukung akan hal tersebut. 

Kekuatan manusia akan perlahan menghilang, semakin bertambah umur akan semakin dekat dengan kematian. Bahkan, kita tidak bisa menebak kapan kita akan berpisah dengan yang lain. Kehidupan memiliki begitu banyak kejutan yang tidak bisa dijelaskan kepada manusia, namun kita bisa mempersiapkannya dari sekarang. Bagi ku, untuk saat ini aku belum siap untuk berpisah dengan dunia ini. Masih begitu banyak hal yang harus aku lakukan demi kebahagiaan. 

Perpisahan hanyalah sebuah memori yang mampu memberikan kekuatan. Perpisahan dapat memberikan titik terang kehidupan demi melakukan perkembangan dalam diri. Memang, setiap dari insan tidak siap untuk menghadapi perpisahan, namun seiring berjalannya waktu akan membantu menyembuhkan rasa itu. Semuanya yang ada di dunia  ini hanyalah sementara. 


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

dyingwitness

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap