Ada Apa dengan Rindu yang Menerpa Bilal?


Ada Apa dengan Rindu yang Menerpa Bilal? 1

Cinta dan rindu atau dalam bahasa Arabnya, “al-mahabbah wa al-syauq” adalah dua sisi koin. Keduanya jelas menyatu. Imam Al-Ghazali begitu jeli serta amat teliti membahasnya, ditambah lagi dengan sajiannya yang bernash. Dalam salah satu karyanya, beliau memberikan roadmap (peta jalan) yang jelas bagi siapa saja yang sedang belajar dan ingin memahami akan seuntai narasi cinta yang meneduhkan. Al-Ghazali memaparkan, “Sesungguhnya cinta kepada Allah Swt, merupakan puncak yang tinggi dari segala tempat dan perhiasan yang mulia dari segala pangkat. Tidaklah seseorang mampu memahami (apalagi menyelami) ke kedalaman cinta, kecuali ia harus pula memahami buahnya yang ranum. Dan, buah yang ranum tersebut tiada lain dan tiada bukan, ia adalah rindu.”

Mencintai berarti juga merindukan. Melepaskan kerinduan di tengah situasi mencintai adalah kemustahilan yang nyata. Sesuatu yang tak lazim, jika hati sedang terpanah asmara, namun dalam satu waktu ia tidak merasakan getar kerinduan. Sama halnya mencopot rasa manis dalam diri sepotong permen. Jelas, sulit terjadi. Jelas, tidaklah mungkin.

Mencintai Allah dan mahabbah ala Rasulillah menjadi hambar dan terkesan pura-pura, jika tidak disertai merindukan panggilanNya. Bagaimana mungkin mencecap manisnya buah cintaNya jika ia melupakan syariatNya? Tidak merindukan suara azan, dan bahkan lalai akan sholat, padahal ia adalah sarana bertemu denganNya?

Menambatkan biduk cinta berarti ia telah dengan perlahan mendayung buah kerinduan. Merawat cinta juga seharusnya merawat rindu. Demikian ini telah terjadi pada diri sahabat Nabi, Bilal bin Rabah. Bahkan rindu Bilal pada sang pujaan, Nabi Saw selepas kepergian beliau adalah rindu yang amat tinggi.

Alkisah, Bilal bin Rabah namanya, lelaki Habasyah (Ethiopia) ini budak berkulit hitam yang diperdagangkan. Beliau masuk Islam di awal-awal dakwah Nabi Saw menyebarkan Islam di saat kaum jahiliyah menolak dan memusuhi agama ini.

Sepeninggal Nabi Saw, Bilal meminta izin kepada Khalifah Abu Bakar, agar dirinya “pensiun” dari muadzin Masjid Nabawi dan hendak meninggalkan Madinah dalam rentang waktu yang cukup lama. Sang Khalifah bertanya perihal pemunduran dan niat Bilal pergi jauh meninggalkan Madinah. Dengan derai airmata Bilal menjawab, “Sewaktu Nabi ada, ketika tiba waktu sholat, aku membangunkan Nabi atau kadang Nabi membangunkan aku. Sebelum menaiki menara untuk mengumandangkan adzan, aku menoleh ke arah Nabi, dan Nabi tetap berdiri di sampingku sampai aku turun dari atas menara. Itu terus-menerus berulang sehari semalam lima kali sampai bertahun-tahun dan hingga akhirnya Nabi tiada. Wahai Khalifah, rasanya aku tak sanggup lagi berada di sini. Tanah Madinah ini telah banyak menyimpan kenangan saat-saat aku bersama Nabi. Kerinduan ini betapa akut dan seolah maut juga menjemputku. Izinkan aku, duhai Khalifah!” Mendengar penjelasan Bilal, sang Khalifah Abu Bakar akhirnya mengizinkannya.

Lama Bilal di tanah Habasyah (Ethiopia) berkumpul bersama keluarganya. Namun, pada satu malam Bilal bermimpi bertemu Nabi Saw. Di dalam mimpinya, Bilal ditegur Nabi dengan kata-kata yang cukup serius, “Betapa keras hatimu, Bilal, kau tak rindu padaku hingga kau tak pernah mengunjungiku!” Bilal terbangun, airmatanya deras mengalir. Bilal bin rabah tidak menunggu waktu pagi. Ia berpamitan pada keluarganya dan bergegas pergi menuju Madinah. Perjalanan itu Bilal isi dengan tangisan. Bilal tahan lelahnya, tanpa berhenti untuk istirahat sedetikpun.

Bukit-bukit Madinah telah tampak di depan Bilal, airmatanya semakin lancar mengalir. Bukit-bikit itu saksi bisu kebersamaan Bilal dan Nabi Saw dalam suka dan duka.

Setelah sampai di Madinah, Bilal buru-buru bergegas ke Makam Rasulullah Saw kekasih yang dicintainya. Di hadapan Makam Nabi Saw, Bilal menyampaikan salam dengan suara lirih, “Assalamu alaika, ya Rasulallah. Assalamu alaika, ya nabiyallah. Assalamu alaika, ya habiballah..” Tak lama pundak Bilal ditepuk oleh Abu Bakar dari belakang, Bilal menoleh dan berkata, “Duhai Khalifah Rasulillah, aku bermimpi dan Nabi berkata dalam mimpiku; Bilal, sungguh keras hatimu, kau tak rindu padaku hingga kau tak pernah mengunjungiku!” Abu Bakar berkata, “Tidak, Bilal, sahabat yang ditegur oleh kekasihnya adalah sahabat yang dicintainya.” Kemudian, Abu Bakar melanjutkan pembicaraannya, “Bilal, lama kota Madinah ini tidak mendengar suara adzanmu. Waktu sholat telah tiba, silahkan kumandangkan adzan!” Bilal menaiki menara dan menoleh makam Rasulullah Saw. Bilal kemudian mengumandangkan adzan. Penduduk kota madinah berduyun-duyun pergi ke arah masjid, lama suara itu tidak mereka dengar. Mendengar suara bilal, mereka menangis tersedu-sedu. Sampai pada lafal “Asyhadu anna muhammad…” Bilal menangis dan tidak sanggup melanjutkannya lagi.

Rindu akan Rasulullah Saw betapa mengguncangkan hati Bilal. Kerinduannya betapa meneduhkan hingga pada akhirnya, rindu tak sebatas menyimpan memori kenangan namun mencurahkannya. Ia mencurah seperti curah hujan yang mendatangkan keberkahan. Begitulah cinta, ia tidak mengalir begitu saja, melainkan bersama dengan arus deras kerinduan.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Holikin

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap