Akhir dari Pendidikan Kita

Akhir dari Pendidikan Kita 1

Indonesia. kualitas negara bangsa yang kita yakini kelanggengannya ini dapat tercermin pada kualitas pendidikan.

***

Kita tahu, Pendidikan tidak hanya berlangsung pada lingkungan yang kita sebut “Sekolah” namun juga keluarga dan masyarakat. Meskipun begitu, sebagaian besar kita lebih menaruh harapan yang cukup besar terhadap lingkungan pendidikan yang kita sebut Sekolah itu. Mungkin Fullday school atau boarding school bisa kita jadikan jawaban atas statement tadi. Atau, adanya fenomena beberapa tahuan lalu ketika didapati siswa melakukan tindakan yang melanggar norma, akhirnya guru agama dan guru PPKn menjadi sasaran untuk dimintai klarifikasi.

Menanggapi hal ini, kurikulum kita, yang dikatakan berbasis karakter menjalankan misi nya dengan mengharuskan semua mata pelajaran menerapkan pendidikan karakter. Sebenarnya, ini semacam counter terhadap upaya menyudutkan guru Agama dan guru PPKn di masa lalu. Dengan mengharuskan penyelenggaraan pendidikan karakter pada setiap mata pelajaran, maka, menjadi sebuah kesalahan jika guru Agama dan guru PPKn masih menjadi kambing hitam jika suatu saat ditemukan siswa melakukan pelanggaran atas norma.

Selain full day schoool dan kurikulum karakter kita, kemunculan Boarding School ternyata memperoleh sambutan yang cukup kuat. Selain didasari faktor sejarah yang menunjukan boarding school cukup kredibel dalam mengembangkan kualitas siswa atau santri, sifat modern pada boarding school yang muncul dibeberapa tahun terakhir semakin meningkatkan persepsi masyarakat terkait kualitas.

Konsentrasi penyelenggaraan pendidikan yang berorietasi pada lembaga formal, yang kita sebut sekolah ini, sebenarnya kurang relevan jika kita sandingkan dengan keberadaan tri pusat pendidikan, yaitu pendidikan dilaksanakan pada lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Sebenarnya tri pusat pendidikan mengharuskan setiap lingkungan pendidikan sudah matang dan saling mendukung. Jangan sampai, apa yang diajarkan disekolah bertolak belakang dengan apa yang dianggap baik oleh keluarga. Konsentrasi penyelenggaraan pendidikan yang berorietasi pada sekolah ini saya rasa memiliki keterkaitan dengan argumentasi UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional,

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”

Argumen ini mengindikasikan bahwa pendidikan diselenggarakan pada lingkungan sekolah. Inilah yang saya sebut kurang relevan dengan konsepsi tri pusat pendidikan.

Sejauh ini, masalah-masalh tentang pendidikan bisa diatasi dengan berbagai inovasi teknologi pendidikan. Namun, sejak maret 2020, pembelajaran daring menjadi langkah yang diamini para penyelenggara pendidikan. Hingga diberlakukannya Kurikulum darurat pada tahun ajaran baru 2020/2021 yang menandai adanya perbedaan tipis antara kemajuan dan kemunduran.

Dikatakan sebagai kemajuan karena teknologi dan praktik pendidikan melakukan sinkronisasi dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Kita tahu, era ini adalah era digital yang sering di identikan dengan konsepsi 4.0 juga masyarakat super cerdas yang disandingkan dengan konsepsi society 5.0. Situasi ini merupakan sebuah era yang dinamakan posthumanisme. Masa dimana dimensi kehidupan manusia tengah di upayakan ter convet dalam platform digital. Maka dari itu, kita sebut kemajuan.

Dikatakan kemunduran, karena keputusan 4 menteri tentang kurikulum darutat telah memangkas berbagai ketentuan penyelanggaraan pendidikan untuk diadaptasikan dimasa pandemik covid-19. penyelenggaraan pendidikan diminta untuk menyederhanakan kompetensi, atau dengan kata yang lebih kasar, memangkas kompetensi yang harus dicapai siswa. Disisi lain, Jam pelajaran juga di haruskan untuk dipangkas. Saya lebih condong ke istilah kemunduran adalah karena ada kompetensi-kompetensi tertentu yang tidak tersentuh oleh siswa pada setiap jenjang.

Pembelajaran jarak jauh telah secara masif dilakukan disekolah-sekolah di Indonesia, termasuk di kota Batu. Adapun pada bulan September 2020 di Tulungagung telah melaksanakan pembelajaran tatap muka, namun untuk jenjang pendidikan menengah. Pelaksanaan pembelajaran dilakukan dengan protokol kesehatan.

Dalam upaya memasukan siswa, di Tulungagung, pada jenjang Menengah, dilakukan penjadwalan kelas. Maksudnya, hanya kelas tertentu saja yang dibolehkan pembelajaran tatap muka pada hari senin, misalkan, dan hari-hari aktif selanjutnya. Upaya memberlakukan pembelajaran tatap muka di Tulungagung sepertinya adalah respon terhadap prediksi dampak negatif pembelajaran jarak jauh berkepanjangan.

SMP Al Hikmah Boarding Batu sempat mengajukan perijinan untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka, dengan pertimbangan sekolah boarding akan secara alamiah melakukan isolasi. Namun, upaya ini tidak didukung oleh pihak-pihak terkait dengan pertimbangan situasi pandemi Covid-19 yang tidak bisa diprediksi.

Pembelajaran Jarak Jauh menjadi alternatif yang diamini banyak sekolah di kota-kota Jawa Timur, termasuk kota Batu. Pembelajaran jarak jauh yang dilakukan secara daring ini banyak menggunakan platform zoom sebagai sarana tutorial. Saya kira, kegiatan tutorial atau virtual meeting ini adalah alternatif pengganti aktivitas menjelaskan dan membimbing seperti situasi didalam kelas.

Termasuk sekolah kami, Zoom juga menjadi platform yang sering digunakan selain microsoft teams dan google meet. Sutuasi ini menegaskan isu perubahan pola kehidupan manusia di era digital, dengan sebutan post-humanism. Konsep ini menggambarkan bahwa terjadi digitalisasi sebagian besar aktivitas manusia.

Maksudnya, aktivitas manusia secara real life mengalami perekaman dan penyimpanan secara digital serta terbuka untuk diakses kapan saja. Hal ini seolah menjadi tanda adanya kemajuan, namun disisi lain, saya merasa ada kemunduran. Seperti analogi lama yang mengatakan “dua sisi dari satu koin yang sama,” sepertinya cocok menggambarkan keadaan ini.

Mengapa disebut terjadi kemunduran? Post-humanism menandakan adanya sebuah era yang menggambarkan kehidupan setelah nuansa humanisme. Bisa kita amati aktivitas masyarakat baru-baru ini, yang menguatkan interaksi online dalam bentuk bertukar pesan, jual beli barang-jasa, bahkan konsultasi kesehatan.

Meskipun menampilkan kemajuan yang ditandai dengan kepraktisan, namun, terdapat kemunduran yaitu berkurangnya kehangatan berinteraksi tatap muka. Karena sebagaian besar dimensi kehidupan di convert melalui platform online, lingkungan offline kadang sedikit terpinggirkan.

Dari sisi pendidikan pun demikian, kemunduran saya tengarai dari sikap siswa yang tidak menyalakan video pada saat virtual meeting. Serta sikap siswa yang tidak menjawab ketika dipanggil namanya dalam virtual meeting. Ditambah lagi adanya penundaan dalam aktivitas belajar dan penyelesaian tugas tertentu. Dalam pembelajaran saya terdapat sekitar 7-8 dari 20 siswa yang merespon dengan baik kegiatan pembelajaran.

Sebenarnya esensi kemunduran yang saya maksud bukan pada pengalaman pembelajaran yang saya dan siswa kami selama 3 bulan terakhir ini. Namun, lebih pada ide penyelenggaraan pembelajaran daring dan dukungan pemerintah yang didiskusikan diatas.

Kemunduran yang dimaksud mengarah pada penjelasan kurikulum darurat yang dipublish pada website kemendigbud, yaitu adanya penyederhanaan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran yang diharapkan berfokus kompetensi esensial dan kompetensi prasyarat untuk kelanjutan pembelajaran selanjutnya. Disamping itu, kurikulum darurat ini diberlakukan sampai akhir tahun ajaran.

saya berusaha memvisualisasikan bagaimana atmosfer pembelajaran ketika kompetensi dasar mengalami pemangkasan. Kekhawatiran saya mengarah pada pendapat Suprijono (2013) yang menggambarkan situasi dimana terdapat kesenjangan standar akademik dan standar performansi. Maksudnya, siswa bisa saja mengingat materi atau konsep penting dalam pembelajaran namun belum tentu memahami kegunaannya karena terjadi pemisahan antara real life dengan apa yang dipelajari dalam virtual meeting.

Menipisnya perbedaan kemajuan dan kemunduran penyelenggaraan pendidikan, menjadi pemantik untuk mengetengahkan diskusi Neil Postman tentang End  of Education. Jika diartikan, End of Education memiliki dua makna yaitu, berakhirnya pendidikan dan akhir/tujuan akhir dari pendidikan. diskusi Neil Postman tentang End  of Education lebih mengarah untuk menghidupkan abstraksi tentang masa depan pendidikan, pendidikan akan segera berakhir atau perlu entitas transenden agar pendidikan mencapai akhir yang diharapkan.

Secara garis besar, End of Education dilandasi oleh kegelisahan terkait upaya penyelenggaraan pendidikan yang tidak tuntas. Dimana tujuan pendidikan yang telah ditetapkan tidak benar-benar berbanding lurus dengan situasi alamiah tempat tinggal siswa. Kompetensi yang ditetapkan tidak berimplikasi terhadap aktivitas mayor siswa ketika berada di lingkungan masyarakat.

Apa yang dipelajari siswa disekolah, tidak benar-benar diketahui manfaatnya ketika siswa berada diluar kelas. Barangkali ini lah yang menjadikan seolah-olah teknologi menginisiasi perubahan sosial. Padahal pendidikan seharusnya menginisiasi dan memelihara harmonisasi dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

Kapan End of Education dalam arti berakhir, akan benar-benar terjadi? Ketika otoritas Pendidikan menempatkan siswa pada tempat yang terasing dari lingkungan yang semestinya mendewasakan.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

P. Nugroho