Aku Tak Pernah Menyalahkan Takdir


Aku Tak Pernah Menyalahkan Takdir 1

Sebut saja Evie, seorang gadis mungil yang kini harus menyandang status janda dalam pernikahan semalam. Parasnya nan elok dan rupawan tak jarang membuat para pemuda bertekuk lutut saat berhadapan dengannya. Belum lagi kepribadiannya yang lembut dan santun menjadikan Evie semakin menambah perfect dimata para lelaki.

Dara cantik lulusan Manajemen, Informatika, dan Komputer itu kini hanya bisa menerima sebuah takdir. Dirinya tak kuasa melawan takdir meski dalam pernikahannya yang belum genap sepekan sudah ditinggalkan oleh suaminya.

Evie, seorang dara yang tak pernah lepas dari kerudungnya serta dengan pakaian yang selalu rapat dan rapih, tak ayal menjadi sasaran pria hidung belang. Sebagai orang yang beriman tentu kita percaya bahwa hidup kita dikendalikan oleh dua hal, yakni bisikan nurani yang ingin selalu menuntun kepada kebaikan, atau bisikan syetan yang terus mengajak kepada kejahatan dan keburukan.

Tatkala iman kita sedang surut dan kita dikalahkan oleh bisikan syetan, maka yang terjadi adalah kita tak kuasa melawan kejahatan atau keburukan. Kendatipun kita tahu itu adalah sesuatu yang buruk, tapi tetap jua kita kesampingkan.

Begitu pula yang harus dialami oleh Evie, dirinya tak mampu melawan bisikan syetan yang membawanya harus terjerumus dalam lembah nista. Ia harus mengikuti bujuk rayu syetan yang sudah singgah pada diri seorang pemuda tampan. Ia pasrahkan apa yang miliki hanya demi kesenangan sesaat. 

Ia mencoba memendam semua yang telah terjadi, menutupi dari setiap apa yang membuatnya bsa muncul jadi sebuah berita. 

Tapi, betapapun Ia tutupi aib itu, pada waktunya akan terbuka pula. Seperti pepatah mengatakan, “sepandai-pandai membungkus bangkai, suatu saat akan berbau juga”, begitulah yang dialami Evie saat ini.

Hampir tiga tahun Evie menjalin hubungan cinta kasih dengan Jhony, pemuda tampan dari kota yang sama. Selama itu pula tak ada tanda-tanda keretakan diantara hubungan mereka. Hubungan mereka berjalan secara normal tanpa dibubuhi percecokan ataupun pertengkaran diantara keduanya. Evie seorang dara yang manis itu dengan sangat rapih membungkus aib yang pernah Ia lakukan. Bukan dengan Jhony yang notabenenya sebagai kekasih Evie, tetapi justru dengan pemuda lain yang bermain dibelakang layar.

Hingga tiba dihari pernikahan mereka, mereka pun tak pernah menunjukkan tanda-tanda adanya keributan. Mereka find-find saja, bahkan kebahagiaan dirasakan oleh kedua keluarga mereka saat menggelar pesta pernikahan putra-putrinya.

“Bagaikan petir diterang hari”, begitu kata pepatah. Betapa terkejutnya Jhony saat menjelang malam pertama pernikahan mereka, Jhony mendapatkan SMS dari nomor yang tak dikenal, yang menyatakan bahwa wanita yang Jhony nikahi hari ini sudah tak virgin lagi, kehormatannya telah terenggut.

Jhony tak pernah percaya dengan apa yang terjadi. Selama tiga tahun Jhony menjalin hubungan dengan Evie, Evie menunjukkan sikap yang setia, baik, bahkan selalu menjaga kehormatan dengan dirinya. Kepercayaan yang selama ini Jhony berikan ternyata telah sia-sia dan memaksa Evie untuk mengatakan dengan sejujur-jujurnya, dengan alasan jika Evie mau jujur Jhony akan tetap menerima apa adanya.

Ucapan Jhony yang meyakinkan Evie akan menerima dirinya apa adanya, membuat Evie menceritakan aib yang selama ini Ia tutupi dengan sangat tebal dan rapih. Evie katakan bahwa, “Aku memang tak sebaik yang kamu kira, kegadisanku telah direnggut oleh orang lain, tapi aku tak bisa menolak takdir itu”, begitulah kata Evie.

Sontak Jhony terbungkam bisu. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Jhony hingga larut malam. Jhony langsung keluar dari dalam kamar pengantin dan duduk termenung di serambi rumah. Bahagia yang Jhoni dambakan selama ini pupus sudah. Mimpi indah yang selama ini Ia inginkan hilang sudah. Semua telah menadi puing-puing kehancuran bersama redupnya lampu kamar pengantin di malam itu.

Malam itu pula Jhony kumpulkan keluarga Evie dan dengan tegas Jhony katakan, bahwa Ia tak bisa melanjutkan pernikahan ini. Ia mengatakan, “Akan saya ambil kembali segala apa yang telah saya berikan”, begitu kata Jhony. Mulai dari cincin tunangan, dana pernikahan bahkan biaya administrasi yang Ia gunakan untuk persyaratan pernikahan. Kekecewaan Jhony tak bisa dibayar dengan apapun, sekalipun gunung emas diberikan, Jhony tak bisa menerimanya, kecuali dari baiaya hasil jerih payah yang Jhony kumpulkan sendiri selama ini.

Kehancuran lebih-lebih dirasakan oleh keluarga Evie. Rasa sakit, rasa malu, dan kecewa berbaur menjadi satu. Selama ini keluarga dan orang tua tak pernah menerima keluhan apapun. Evie tak pernah jujur kepada siapapun. Sakit, sakit, dan sakit yang orang tua Evie rasakan. Rasa bagai dibasuh kotoran dimuka orang tua Evie menerima kenyataan ini. 

Namun, nasi telah menadi bubur. Semua tak bisa kita kembalikan seperti semula. Tuntutan Jhony dan keluarga tak bisa ditolak, karena sumber kesalahan adalah dari putri sendiri. Kini Evie dan keluarga hanya bisa menerima takdir, dan tak akan pernah menyalahkan takdir. 

Kuasa Illahi di atas segalanya. Mungkin inilah jalan yang harus Evie dan keluarganya lalui. Manusia tak bisa menentukan jalannya sendiri, ada saatnya kita dihadapkan pada jalan yang datar, tikungan, perempatan, lereng terjal, jurang nan curam, serta rintangan yang menghalanginya. Biarlah takdir yang akan mengarahkan kita, kita hanya bisa berharap ingin jadi yang terbaik, tapi semua telah ada pengendali utama, yakni Tuhan yang Maha Esa. Jadi, jangan pernah salahkan takdir.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Hendri Sumarno

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap