Aku Yang Terlupakan (Part 2)


Aku Yang Terlupakan (Part 2) 1

Hai aku Andreas putra,aku akan melanjutkan kisahku,kisah yang mungkin tidak semua orang mau menjalaninya.Hari ini sebenarnya ada jadwal interview kerja,tapi karena ada hujan yang sepertinya ingin aku menunda perjalananku sejenak,dengan terpaksa aku menunggu hujan itu berhenati.

Seperti yang sudah aku ceritakan di kisahku sebelumnya, aku mengelami kecelakan kakiku di amputasi dan papahku di penjara karena terlibat melakukan pembunuhan.

Dan sekarang aku mau nggak mau harus terus melanjutkan hidup demi Mamah dan adikku.Sebagai anak laki-laki aku harus membantu keuangan keluarga bagaimanapun caranya.

“Titit…..titit..” kudengar suara klakson mobil berbunyi.

“Den Andre,belum berangkat? Mamang Antar sampai ketempat kerja yah.”

“Terima Kasih mang,nggak usah nanti nyusahin” Aku berusaha menolak ajakan mang Sardi yang akan mengantarkanku ketempat aku mau di interview.

Oh ya, mang Sardi adalah bekas tukang kebun di rumahku dulu,beliau sangat setia mengamdi pada keluarga kami.Bahkan tempat yang aku tinggali sekarang berkat dari bantuan dari mang Sardi,walaupun hanya rumah kontrakan tapi lumayanlah daripada tinggal di kolong jembatan.

Semenjak keluargaku jatuh miskin,mang sardi sekarang bekerja sebagai supir angkot .Tapi yang aku salut dari beliau adalah kesetiaannya kepada kami.Walau kami sekarang bukan majikannya lagi, mang sardi tetap mau menolong kami kata beliau kami sudah di anggap seperti saudara sendiri.

“Ayo Den nggak apa-apa,mamang antar aden terlebih dahulu, nanti mamang baru nyari setoran” kata mang sardi yang beruasaha membujuku.

Sebenarnya aku nggak enak terus-terusan nyusahin mang Sardi.Tapi dengan kondisiku saat ini kakiku di amputasi, bantuan dari mang Sardi sangat membantu sekali apalagi aku sudah nggak punya kendaraan lagi.

“Ayolah Den,nanti mamang ngambek nih” mamang berusaha membujukku dengan nada becanda

“Baiklah mang,aku mau”

‘Gitu dong Den kitakan Solumet ,kalo soulmet harus saling membantu” Dengan penuh semangat mang Sardi mengangkatku dari kursi roda dan menaikanku kedalam mobil dan aku didudukan di kursi depan.

Sebelum pergi aku berusaha menyampaikan rasa terima kasihku kemang sardi.Jujur aku sangat terharu dengan apa yang di lakukan oleh mang Sardi.

“Makasih ya mang,selama ini aku dan keluargaku selalu nyusahin mamang”

“Ari si Aden,jangan kaya gitu,sesama keluarga itu wajar kalo tolong menolong” dengan senyumannya yang khas, kata-katanya begitu membuatku terharu. Ada keikhlasan di raut wajahnya.

“Semoga aku bisa membalas kebaikan mamang suatu saat nanti” itulah Doaku dalam hati sebelum mang Sardi melajukan mobilnya.

#################

Sesampainya di kantor tempat aku mau interview,mang sardi sebenarnya menawarkan diri untuk menungguiku sampai selesai interview,Tapi aku pikir nggak usah, mang sardi juga harus nyari nafkah buat anak istrinya.

Sesampainya di ruangan interview, aku lihat sudah banyak peserta yang sedang menunggu giliran di panggil.Dan aku, dengan perasaan sedikit kurang percaya diri karena ini bukan yang pertama aku interview dan hasilnya aku selalu gagal.

” Mas aku sudah terlambat yah?” aku yang sedang terdiam dikagetkan oleh suara perempuan yang tiba-tiba duduk didekatku.

“Oh,belum mbak,baru sebagian ajah”

“Syukurlah” Jawab perempuan itu dengan sedikit menghela nafasnya.

“Oh ya mas kita belum kenal yah,aku putri “sambil mengulurkan tangannya gadis berhijab yang bernama Putri itu mengenalkan diri.

“Aku Andreas” jawabku sambil memegang tangannya

Semenjak kondisiku seperti ini,jujur aku nggak percaya diri untuk berdekatan sama perempuan. Dulu aku bisa gunta-ganti perempuan, tapi sekarang satupun aku nggak punya.

“Putri,semenjak keadaanku seperti ini, baru kamu yang mau berkenalan sama aku” itulah yang ada di dalam pikiranku dengan sesekali aku melirik kearahnya.

“Putri Nabila” Salah satu pegawai kantor tiba-tiba memanggilnya

“Aku duluan ya mas” Putri langsung menghampiri arah suara tersebut,sambil melepaskan senyuman kearahku.

Setelah hampir 30 menit akhirnya Putri keluar dari ruang Interview dengan wajah yang penuh rasa percaya diri dan lagi lagi melempar senyum kerahku. Senyum yang membuat hatiku semakin tenang dan adem.

“Andreas Putra” ini giliranku,ucapku dalam hati

“Semangat” Sambil mengepalkan tangannya Putri memberiku semangat.dan semangat yang di berikan oleh perempuan yang baru aku kenal itu sedikit melunturkan rasa grogiku.

Dengan perasaan yang di penuhi rasa grogi aku putar sedikit demi sedikit roda kursi memasuki ruangan interview.Di ruangan itu aku coba menata kembali mentalku yang sedikit drop.”Ah kenapa senyuman itu yang muncul di kepalaku” entah kenapa senyuman Putri muncul di ingatanku dan membatku lebih percaya diri.

Setelah hampir 30 menit proses interview yang membuatku tidak bisa tidur nyenyak dari kemarin, akhirnya bisa kulalui dengan lancar.Kujawab semua pertanyaan dengan baik.

“Semoga aku lulus ya Tuhan” dalam hati aku panjatkan doa untuk hasil yang terbaik.

“Dimana perempuan ituh,dimana perempuan yang senyumannya membuatku percaya diri menghadapi interview” aku berusaha mencari keberadaan Putri di ruangan ituh,tapi tetap sajah mataku tidak bisa menangkap keberadaannya..

“Apa dia sudah pulang duluan,bodohnya aku tidak meminta nomernya” jujur dalam hatiku aku sangat merasa kecewa,karena dia tidak meninggalkan jejak untukku aku tidak tau nomer telponnya,aku tidak tau tempat tinggalnya, dia hanya meninggalkan jejak senyum manisnya di otakku.

Saat mau pulang,mobil angkot mang sardi tiba-tiba nongol di hadapnku.” Ayo den,mamang anterin pulang sampai rumah” mang sardi turun dari angkotnya dan mengangkatku dari kursi roda, kemudian menaikkanku kedalam mobil angkot.

“ih..ganteng-ganteng cacat yah,kasian” sambil berbisik dua perempuan di sampingku mengomentari kekuranganku dan ucapan mereka membuat mentalku drop.Dan lagi-lagi senyuman gadis itu Yang muncul di anganku membuatku sedikit tenang.

#####################

Malam hari yang dingin tidak begitu kurasakan karena senyuman wanita itu membuatku sedkit hangat.”Putri Nabila,semoga kita di pertemukan kembali” dalam lamunanku aku coba berdoa,yang aku pinta saat ini adalah aku bisa bertemu kembali dengan perempuan itu dan kalo bisa,bisa satu kantor sama dia.

“Oh..gimana dengan kabar lamaranku,kenapa sudah hampir satu minggu belum juga ada kabar beritanya” Karena penasaran, akhirnya aku membuka Email di smarthponku dan begitu bahagianya aku dengan kabar yang aku baca ” Pak Andreas Putra,selamat Anda lulus interview dan kami tunggu Anda esok hari di kantor kami.Jangan sampai terlambat” itulah berita yang membuatku senang bukan kepalang.

Jam 8.45 aku sudah nyampe di kantor aku sengaja datang lebih awal walau sebenarnya aku disuruh datang jam 09.00.

“Mas,kamu ada panggilan juga?” Suara perempuan tiba-tiba mengagetkanku dan aku rasa suara itu tidak asing di telingaku,yah suara Putri Nabila perempuan yang selalu hadir dalam lamunanku.

“Iya mbak,mbak putri juga”? tanyaku kembali

“Iya mas” jawabnya singkat

Kamipun masuk secara bersamaan dan rasa bahagia terus menyelimuti hidupku saat itu. Aku bisa bertemu kembali dengan perempuan itu dan berita yang paling membahagiakan buatku adalah aku di terima kerja di kantor tersebut dan itu artinya aku bisa setiap hari bertemu dengannya.

############

Sudah hampir tiga bulan kami bekerja satu kantor. Aku dan Nabila semakin akrab, kami sudah mengenal satu sama lain.Bahkan saat di kantor, kami selalu bertukar pikiran kami selalu membicarakan hal-hal yang menurut kami menarik.

Sebenarnya sudah sejak lama aku memiliki perasaan lebih pada putri.Tapi dengan kondisiku yang sedikit kurang normal, aku selalu mengurungkan niatku.Sampai akhirnya aku coba memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku.

“Kalo aku tidak mengungkapkan perasaanku, mana tau aku diterima atau tidak,pokonya bodo amatlah aku nantinya di terima atau tidak” aku coba bulatkan niatku untuk mengungkapkan perasaanku ke Putri.

“Put,nanti pulang kerja kamu ada waktu enggak,aku pengen ngajak kamu makan” dengan ucapan yang sedikit ragu aku berusaha mengajak purtri jalan.

“emang kamu punya duit?” jawab putri dengan sedikit bercanda.

“Ada,masa cuman ngajak kamu makan ajah aku nggak punya duit” jawabku berusaha meyakinkan putri.

“Boleh,kita makan dimana?”

“Kita makan di resto deket kantor ajah yah,biar deket”

Setelah sepakat kamipun pergi menuju restoran, karena tempatnya tidak jauh dari kantor tempatku bekerja aku sama putri tidak perlu naik mobil atau sewa ojol.Ditengah perjalanan sambil mendorong kursi rodaku, putri selalu membuatku tertawa dengan candaan yang dia lontarkan.

Sesampainya di Restoran, aku mencari tempat duduk yang dekat dengan jendela. Aku sengaja mencari tempat duduk dekat jendela supaya susananya lebih romantis, saat aku menyatakan perasaanku nanti.

Setelah makanan yang kami pesan datang,aku dan putri fokus menyantap makanan yang kami pesan.Karena memang dari tadi perutku sudah keroncongan dan aku lupakan sejenak keinginanku untuk menembak Putri.

Kulihat Putri sudah menghabiskan makanan yang dia pesan. Sedangkan aku,aku memang sudah menghabiskan makananku dari tadi.Yang harus kulakukan sekarang adalah apa yang harus kuucapakan,aku tidak tau apa yang harus kuucapkan,aku benar-benar gugup.

“Dre udah selesaikan makannya,kalo sudah aku mau pulang duluan yah” tanya putri yang membangunkan lamunanku.

“Eeee,Oiyah…tapi”aku sedikit gugup karena dari tadi aku sedang memikirkan apa yang harus kuucapkan kepada Putri.

“Nanti aja yah Put,ada yang pengen aku omongin sama kamu”

“Ngomongin apa?”tanya putri penuh penasaran

Aku perlu waktu sejenak untuk menjawab pertanyaan Putri,aku coba tarik nafas sejenak,aku coba untuk menguatkan mentalku.

“Put,kitakan sudah kenal hampir 3 bulan dan jujur aku sangat nyaman deket sama kamu.Aku menemukan sosok orang yang bisa memahamiku,aku menemukan sosok orang yang bisa bertukar pikiran denganku” aku hentikan sejenak ucapanku, aku coba tarik nafas dalam-dalam dan aku lihat putri menatapku dengan tajam penuh rasa penasaran.

” Aku…..Aku suka sama kamu Put,semenjak kita pertama bertemu,aku pengen hubunga n kita lebih dari sahabat” aku coba pasrah entah apa yang akan terjadi selanjutnya.Tapi yang pasti aku lihat wajah Putri sedikit berubah, beberapa kali dia menundukan kepalanya, aku tidak tau apa yang ada dalam pikirannya.

“Aku minta maaf atas kejujuranku,aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku selama ini” Kulihat Putri tetap saja diam,tidak ada sedikit katapun yang keluar dari mulutnya.

“Oh Tuhan,apa dia marah dengan kejujuranku,kalo iyah….” aku coba mengendalikan pikiranku ,agar pikiran negatif itu tidak menguasai otakku.

“Dre,aku hargai kejujuranmu,tapi maaf aku nggak bisa, aku sudah punya orang lain,bahkan sebentar lagi aku dilamar oleh pria yang aku cintai,sekali lagi aku minta maaf”

Betapa hancurnya hatiku,semua yang aku harapkan sirna begitu saja,aku coba untuk menguatkan mentalku agar aku tidak jatuh terlalu dalam.

“Dre,aku minta maaf yah,kita masih bisa berteman ko,sekali lagi aku minta maaf yah” Putri berusaha menenangkanku,dia berusaha meghiburku walau tidak bisa begitu saja menghilangkan rasa kecewa dalam hatiku.

” Dre aku pulang duluan yah”

“kamu duluan ajah,masih ada yang ingin aku kerjakan”

Putri beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan aku sendirian di restoran itu.Butuh waktu beberapa menit untukku bisa mengumpulkan tenaga, setelah mendengar jawaban Putri tubuhku sedikit lemas.Sampai akhirnya aku pulang karena di jemput oleh mang sardi.

######################

Di dalam kamar, aku selalu memikirkan apa yang terjadi tadi siang,aku selalu menyesali apa yang kulakukan.”Apa kejujuranku adalah suatu kesalahan” Pikiran negatif itu terus ada dalam benakku.

“Apa selama ini dia hanya kasihan,yah mungkin selama ini dia deket sama aku hanya sebatas kasihan ,aku saja yang terlalu kegeeran” Aku tidak tau apa yang harus kulakukan, semakin aku pikirkan semakin banyak pikiran negatif yang muncul di otakku.

Di tengah lamunanku,aku dikejutkan oleh suara Email yang masuk,dan ternyata Email itu dari putri.”Kenapa putri ngirim Email,tidak biasanya dia ngirim Email” aku coba menjawab pertanyaan yang muncul di otakku dengan segera membuka Email tersebut.

Sahabatku Andreas

Aku minta maaf dengan apa yang sudah terjadi sama hubungan pertemanan kita

Aku minta maaf kalo mungkin aku membuatmu kecewa.Tapi itulah kejujuranku

Aku hanya menganggapmu sebagai sahabat tidak bisa lebih.Karena aku

sudah memiliki Pria yang aku cintai.

Sebenarnya tadi siang aku ingin mengatakan ini kepadamu,tapi karena kondisinya tidak memungkinkan aku urungkan niatku.Aku hanya ingin mengucapkan perpisahan sama kamu,mulai besok aku sudah tidak bekerja di kantor,aku sudah resign.

Aku mau pulang ke surabaya,karena bulan ini aku mau melangsungkan pernikahanku di surabaya.Sekali lagi aku minta maaf kalo sudah membuatmu kecewa.

Jujur,dalam lubuk hatiku paling dalam,aku senang bisa kenal sama kamu terima kasih karena sudah menjadi sahabat yang baik.Tapi ada satu hal yang ingin aku katakan kepadamu,aku harap kamu nggak tersinggung.

Aku mau kamu lebih percaya diri,kamu harus percaya dengan semua kemampuanmu.Kamu memang punya kekurangan, tapi kekuarang itu jangan sampai membatmu terpuruk.

Jadilah orang yang percaya diri,tetaplah jadi orang baik, aku percaya kebaikkanmu akan menuntunmu ke wanita yang benar-benar tulus mencintaimu. Kamu harus percaya ituh.

Terima Kasih sudah menjadi sahabat terbaikku.

Sahabatmu

Putri Nabila

Email yang dikirimkan Putri benar-benar membuat jiwaku hancur.”Perpisahan” kata yang tidak pernah aku ingin dengar di telingaku.Aku coba untuk menghimpun kembali hati dan jiwaku yang berantakan.Aku coba menerima walau rasanya sangat sakit terasa di hatiku, tapi aku akan coba menerima.

Mungkin benar, aku sama dia di takdirkan hanya sebatas sahabat.Terima kasih karena sudah hadir di hidupku,terima kasih karena sudah menjadi penyemangat dalam hidupku.Aku akan coba menerima saranmu ,aku akan tampil lebih percaya diri walau aku punya kekurangan.Terima kasih sudah menjadi sahabatku Putri Nabila.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Anwar

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap