Akun Alter, Antara Penting dan Enggak Penting-penting amat

Akun Alter, Antara Penting dan Enggak Penting-penting amat 1

Ingin curhat di medsos tapi malu dengan follower, keluarga, teman atau pacar. Akun alter adalah solusinya”. Sebuah kalimat ngawur yang saya buat secara ngawur, dengan pendapat ngawur dan dalam kondisi yang ngawur pula.

Singkatnya, akun alter merupakan istilah dari second account yang terdapat pada media sosial, dengan menunjukkan sisi lain dari penggunanya yang tidak ia ditunjukkan pada akun asli/prime account. Patut juga digarisbawahi akun alter berbeda dari aku bisnis, online shop, ataupun akun suatu komunitas. Akun alter lebih menekankan pada sisi lain pribadi yang tidak bisa ditunjukkan kehadapan khalayak luas.

Yang menjadi pertanyaan apakah akun alter itu penting untuk ada? Bisa diterka dengan jelas, pastinya jawaban yang didapatkan akan bermacam-macam. Entah itu ada yang berpendapat akun alter itu penting ataupun ada juga berpendapat sebaliknya, memiliki akun alter itu tidaklah penting.

Kalau menurut saya pribadi mempunyai akun alter itu penting tapi juga enggak penting-penting amat. Pemahaman tersebut didapatkan ketika saya sendiri juga memiliki akun alter yang umur pemakaiannya hampir menginjak satu tahun. Ada beberapa alasan mengapa saya bisa berpendapat seperti itu.

Pertama, akun alter bisa menjadi medium untuk menyampaikan suatu unek-unek tanpa peduli pandangan orang lain. Hal tersebut terjadi karena akun alter besifat anonim. Dari hal keanoniman membuat seseorang bisa menjadi lebih berani untuk menunjukkan apa yang ia rasakan, ataupun sekedar berpendapat mengenai suatu hal. Akan tetapi hal tersebut juga memicu sisi negatif bila menyikapi keanoniman secara berlebihan, dengan menganggap bahwa keanoniman merupakan suatu kebebasan yang mutlak.

Di saat mensikapi keanoniman menjadi suatu kebebasan yang mutlak, kita akan berpendapat semaunya tanpa ada rasa tanggung jawab dengan apa yang telah kita disampaikan. Karena pada saat itu kita berpikir bahwasanya orang lain tak akan tahu siapa orang dibalik akun ini. Dengan ketidak tahuan mereka tentang identitas kita, secara tidak langsung kita merasa terlepas dari kewajiban sosial yang mengikat, sepertihalnya dunia nyata.

Jadi sewajarnya saja memakai akun alter. Sekedar curhat itu masih enggak apa-apa, tapi kalau sudah ranah orang lain, sebaiknya jangan. Iling, gusti pengeran mboten sare.

Kedua, adalah ribet. Harus gonta-ganti akun, log-in log-out terus, belum lagi mikir mau posting apa. Sui-sui cegeh. Memang untuk awal pemakaian akun alter itu semangat, enak, asik, sambat iso loss mergo ora enek sing komen. Tapi mulai berjalannya waktu lama-lama menjadi males, mau curhat saja harus repot buka tutup akun medsos.

Sebenarnya lebih efektif curhat langsung kepada orang dari pada cuma lewat medsos. Dengan curhat kepada orang yang telah dipercayai seperti sahabat, keluarga ataupun pacar lebih bisa mendapatkan komonikasi dua arah secara langsung. seumpama masih juga tidak memiliki orang yang dapat dipercayai untuk menampung curhatan, bisa curhat sekalian ibadah maring gusti pengeran. Kalau masih saja belum srek bisa juga curhat dibuku catatan. Mosok sek kurang?.

Dengan kedua kedua alasan saya tersebut, bisa disimpulkan bahwasanya akun alter menjadi penting bila ditujukan sebagai sarana curhat sewajarnya. Akan tetapi berubah menjadi enggak penting-penting amat ketika hal tersebut menjadi ribet, yang pada akhirnya malas untuk menggunakannya kembali.

Pada akhirnya semua tergantung perspektif masing-masing. Penting tidaknya suatu hal tergantung dari rasa butuh yang dimiliki suatu individu. Sedangkan rasa butuh dari setiap individu itu berbeda-beda.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Abdan