Alasan Anda Tidak Seharusnya Bertanya “Kapan Nikah?” dan Ganti Dengan Pertanyaan Berikut Ini


Alasan Anda Tidak Seharusnya Bertanya “Kapan Nikah?” dan Ganti Dengan Pertanyaan Berikut Ini 1

Kebiasaan masyarakat Indonesia tentu sudah tidak asing lagi dengan budaya berbicara. Salah satu tindakan yang mengandalkan mulut dan indera pengecap alias lidah ini merupakan perilaku yang telah dianggap biasa dan lumrah. Saya pun demikian. Saya mengamini bahwa berbicara alias ngobrol ni merupakan aktivitas yang sangat mengasyikkan. Topik pembicaraannya bisa bermacam-macam. Dimulai dari membicarakan tentang tugas-tugas kuliah, makanan dan gaya hidup, hingga drama korea yang sedang hits. Dengan berbicara, maka satu orang dengan orang lainnya akan dapat dengan mudah saling mendapatkan suatu informasi tertentu. Selain itu berbicara juga membuat kita menjadi mudah menyampaikan isi hati dan opini.

Tidak dapat dipungkiri bahwa budaya berbicara merupakan kebiasaan yang menurut saya paling asyik dilakukan sehari-hari, apalagi apabila lawan bicaranya memiliki pemikiran yang sefrekuensi dengan kita. Nah, dari sinilah kemudian muncul kedekatan dan keakraban yang terjalin diantara dua orang dan atau lebih. Namun sebelum hal ini terjadi, biasanya topik obrolan dimulai dengan kata-kata yang bersifat basa-basi. Kalimat basa-basi juga biasanya dilontarkan ketika sudah lama tidak berjumpa. Bisa dibilang basa-basi adalah pengantar untuk seseorang memulai pembicaraan. Orang Indonesia juga seringkali melakukan hal ini dengan orang lain.            

Misalnya saja ketika sedang berkunjung ke rumah saudara yang telah lama tidak berjumpa. Biasanya pertanyaan yang sering dilontarkan oleh tante atau paman adalah, “kapan kamu nikah?” ,  “kamu itu kan sudah dewasa, mapan, dan cukup umur, tapi kok belum nikah ?”, “kapan kamu nikah ? kok selama ini cuma sibuk kerja melulu”, “buruan nikah deh jangan sampai jadi perawan tua”. Bisa juga dalam hal ini terjadi dengan kaum laki-laki. Pertanyaan-pertanyaan demikian juga tidak bisa terlepas dari kehidupan orang-orang yang masih lajang. Sekilas tidak ada yang salah dan aneh dengan pertanyaan-pertanyaan di atas dan sudah seringkali didengar dari orang-orang di sekitar. Namun sayangnya banyak orang yang tidak menyadari bahwa basa-basi seperti itu bisa saja menyakiti hati orang lain. Oleh karena itu kita semua harus berhati-hati ketika berbicara serta memerhatikan etika.

Saya akan sedikit menjelaskan alasan mengapa pertanyaan tersebut bisa menyakiti hati orang lain. Pertama, pernikahan adalah satu hal yang sangat privasi bagi setiap orang. Memang pertanyaan tersebut terkesan sebuah sikap perhatian, namun tahukah Anda bahwa pertanyaan tersebut bisa sangat melukai hati orang lain dan membuat mereka down?. Kedua, istilah “perawan tua” atau “jaka tua” merupakan stigma sosial yang dilekatkan terhadap laki-laki atau perempuan yang belum menikah alias masih lajang. Istilah tersebut seakan menjadi hal tabu dan memalukan jika di dalam sebuah keluarga terdapat anak lajang yang tak kunjung menikah.

Ketiga, standar kesiapan seseorang menuju jenjang pernikahan tidak bisa hanya diukur dengan faktor usia. Sebuah pernikahan tidak hanya sebatas menyatukan dua insan di pelaminan saja. Namun perlu mempertimbangkan hal lain seperti kesiapan mental, kesamaan visi dan misi, mengetahui ideologi pemikiran masing-masing, kesiapan finansial, dan lain sebagainya. Keempat, pemikiran dan rencana hidup setiap orang berbeda-beda. Tidak semua orang terpacu menginginkan untuk menikah di dalam hidupnya. Bisa saja orang tersebut memiliki trauma terhadap sebuah komitmen dengan pasangan sebelumnya atau mungkin dia sedang nyaman menikmati hidup menjadi seorang lajang.

Berikut adalah sedikit tips yang bisa diterapkan untuk menghindari pertanyaan untuk orang lain agar tidak menyakiti hatinya.

1. Hindari pertanyaan yang bersifat privasi. Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa menanyakan perihal pernikahan merupakan salah satu diantaranya. Ingatlah selalu bahwa urusan pernikahan merupakan hak mutlak privasi seseorang. Tidak semua orang bersikap santai ketika disodori pertanyaan demikian. Namun lihatlah ekspresi dan respon si lawan bicaramu, apabila dia terlihat tidak nyaman ditanyai hal demikian, segeralah meminta maaf dan gantilah dengan topik obrolan lain.

2. Bicaralah tentang hal baik seperti menanyakan kabar dan hobinya yang sedang dilakukan kini. Pertanyaan seperti “kamu gimana kabarnya sekarang?” “hobimu apa kalau boleh tahu?” hal ini akan lebih sopan daripada terus menyodori pertanyaan seputar kapan menikah.  

3. Jangan pernah memberikan label “perawan tua” dan “jaka tua” terhadap orang yang masih lajang apalagi langsung di depan orang tersebut. Ingatlah baik-baik bahwa dua istilah itu adalah produk stigma yang dihasilkan oleh masyarakat dan hal ini jujur tidak penting sama sekali karena bukan urusanmu.

Itulah sedikit tips yang bisa diterapkan untuk kamu agar tidak menyakiti hati orang lain ketika sedang berbicara. Mari bersama-sama belajar menjadi orang yang menghargai dan menghormati privasi orang lain. Semoga tips ini bisa bermanfaat untuk kita semua. 


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

NOURMA DEWI FATMAWATI

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap