Andai Tidak Ada Jeda dalam Dialog Kita


Andai Tidak Ada Jeda dalam Dialog Kita 1

Pada gumpalan awan putih yang bergelantung tebal jauh di langit, di mana hari kala itu adalah pagi. Seorang pemuda memandanginya seraya berdoa dengan menengadah kedua tangan dan meluaskan hatinya setulus mungkin untuk meminta hujan kepada Tuhan. Karena sudah dua tahun berturut-turut desanya tak mendapatkan air yang menangis dari atas, dan sumur-sumur penduduk juga hendak mengering abadi. Tapi ia benar-benar tak berharap itu terjadi. Ia memohon dengan sangat dan selalu mengeluh dalam hati akhir-akhir ini begini, “Seharusnya bukan awan putih besar yang Engkau datangkan, tapi awan tebal hitam yang menurunkan air hujan”. Maksudnya adalah sambat hamba kepada Tuhannya.

Selepas berdoa dengan jangkauan waktu yang cukup lama, ia kembali ke rumah kecilnya di ujung desa. Yang bangunannya terbuat dari bambu, pondasinnya hingga tembok, dari lantai yang hanya tanah dan apa-apa tanpa batu bata, juga keseluruhan yang terlihat condong miring ke kanan akibat terpaan angin puting beliung beberapa bulan yang lalu. Syukurnya tidak roboh, tapi untuk merenovasi adalah hal yang mustahil ia dan ibunya lakukan. Ibunya yang telah menua bersama keropos pohon beringin di samping rumah pun tak sanggup jika harus berdiri, makan yang masih perlu disuapi, atau kadang lupa cara untuk berkedip jika tidak mengering dulu permukaan bola matanya. Apalagi kalau dituntut penat-penat menegakkan rumah mereka, suatu hal yang sangat tidak akan pernah terjadi. Sedang pemuda itu, tak lain hanya dapat berputus asa. Tak ada uang, tak ada perubahan. 

Ketahuilah ia-pemuda itu bernama Detak. Satu kosa kata yang cukup terselip banyak doa dari bapaknya dulu-sebagai anak yang kelak mampu menghidupkan desanya dan seseorang yang akan terus hidup juga menghidupi. Kau bisa saja mengartikannya secara luas sebagai tambahan, bebas. Karena Detak sendiri tak peduli apapun makna yang diberikan oleh orang tuanya, jika kini ia hanya menjadi seorang pemuda yang menurutnya sangat tak berguna. Bagaimana ia menjadi individu yang dapat terus hidup dan menghidupi jika hujan saja tak mampu ia turunkan, sungai tak mampu ia alirkan, dan sumur yang tak mampu ia pertahankan. Maka dari itu, ia, Detak,adalah seorang pengecut yang senantiasa takut untuk berjanji.

Bahkan ketika malam datang, dan ini sudah hari ke 350 dalam satu tahun. Hujan masih saja enggan jatuh. Waktu itu Detak sedang berada di ladang rumput mati tepi rumahnya. Ia duduk-duduk, dan menikmati rembulan yang tengah bulat sempurna. Sambil menahan dahaga, keheranannya yang tak lantas pergi tentang segumpal awan berat di atas sana. Entah bagaimana caranya, seolah angin tak mampu membawanya pergi dan matahari tak mampu mencairkan adanya. Awan itu, masih utuh dan tak berubah dari dulu. 

Sayup-sayup kemudian ia mulai mengantuk. Sekalipun hausnya yang tak pernah reda harus tertahan sekali lagi, atau mungkin malam ini adalah hari terakhir ia bernapas di bumi. Tak ada pilihan lagi rasanya, jika bukan mati lalu untuk apa lagi dia hidup jika harus bertahan dengan tenggorokan kering nan kerontang.

Tak beberapa lama setelah ia terpejam sempurna, dan rasanya tengah berada di dunia lain-yaitu mimpi. Ia melihat betapa banyak kabut putih bertebaran di mana-mana. Dan cahaya yang begitu redup lama kelamaan menjadi silau dengan warna keemasan. Matanya perih. Dan beberapa detik selanjutnya ia melihat hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Apa yang di hadapannya sekarang adalah suatu hal yang bisa dikatakan seperti cerita dalam dongeng. Kubah-kubah emas besar, air terjun mengalir dari tebing berwarna silver, sungai di bawahnya yang nampak putih seperti susu, dan bening sejernih berlian mahkota orang kerajaan. Terdapat bangunan-bangunan kecil betebaran dengan cat warna-warni, serta puncak gunung salju yang menjulang dengan warna ungu kekuningan akibat pantulan cahaya senja. Detak membisu, ia tak mampu berkata-kata. Mulutnya terkunci rapi, dan rasanya semua ini seperti tidak asli tapi asli. 

“Mungkinkah.. Mungkinkah aku telah mati?” Batinnya. Antara sedikit takut dan senang bahwa ia mungkin bisa minta minum banya-banyak setelah ini, tapi perasaan itu segera ditepisnya ketika ia sadar bahwa ia masih bisa berjalan dan seperti menginjak bantalan lembut serupa awan. Bukan tanah, ini awan. Detak terjungkal dan tergopoh takut-takut jika ia tak jadi masuk surga karena salah pijak lalu jatuh lagi ke bumi. Ia lalu bedengus kesal dan bangun. Sekarang ia mulai maju pelan-pelan dan agak berjinjit. Ia menghampiri sungai berwarna susu, sedikit ragu tapi pasti, ia pun meraih air yang terasa dingin itu di kedua telapak tangannya. Ia minum dengan berjongkok. Manis, dan rasa mint. Wajahnya lalu tampak sumringah. Kemudian ia bangkit dan mendekati aliran air sebening berlian tadi,  karena kilaunya yang memikat ia lekas-lekas menujunya. Dengan melakukan hal yang sama, ia mendapati rasa air ini lebih segar seperti zam-zam di tanah Arab. Sungguh tak membuatnya haus untuk waktu kemudian. Ia pun beranjak dan menghabiskan pandangannya mengelilingi sekitar. Di tempat yang seluas ini, hatinya bertanya-tanya. Mengapa sepi, dan mengapa tidak ada orang. Jika benar ini surga, mengapa ia hanya sendirian.

Ia lalu berjalan mendekati sebuah pohon pendek berdaun warna biru kekuningan. Indah, namun tak berbuah. Ia lalu bersandar di bawahnya dan mendadak hatinya terasa dalam kebingungan besar penuh soal-soal. Detak terdiam untuk waktu yang cukup lama, hingga kemudian muncul sebuah suara dari belakangnya. Yang bilang begini, “Apa yang kau pikirkan hai pemuda? Tidakkah semua ini cukup untuk menebus dahagamu itu?”

Itu suara perempuan. Leher Detak mulai celingak-celinguk. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri namun nihil, tak satupun ia temui orang di sekitarnya. Kau tahu, pikirnya seketika itu adalah malaikat, atau jelmaan jin, atau entah apa yang pasti bukan setan. Karena ini di surga, dalam artian ia sudah berada di tempat paling aman untuk abadi.

“Sepertinya engkau salah akan sesuatu. Ini bukan di surga seperti halnya apa yang ada dalam pikiranmu itu. Tengoklah ke belakang, aku adalah sebuah pohon yang sedang berdialog denganmu, maka balaslah dialog ini hai pemuda” UJar suara itu.

Tak menunggu lama, Detak lekas berdiri dan menjaga jarak dari pohon tempat ia bersandar. Ia memandangi pohon itu dengan sempurna. Tak ada mulut, tak ada mata ataupun telinga. Ia hanya mirip seperti pohon biasa yang ada di bumi hanya saja memiliki daun berwarna biru langit dan semburat kuning matahari. Detak meragu. Tapi apa salahnya ia bertanya, jika ini bukan di surga lalu di mana.

“Siapa kau? Dan di mana sebenarnya aku? Apapakah tempat ini masih bagian dari bumi?

“Aku sebuah pohon di negeri Kapas Sutra. Yang kumaksud adalah tempat ini, awan menggumpal yang tak berpindah seperti katamu itu. Tidak ada manusia di sini, hanyalah kubah tak berpenghuni, gunung salju yang membatu, sungai-sungai yang mengalir, dan aku-satu-satunya makhluk hidup yang bertahan untuk hidup.”

“Lalu bagaimana aku bisa sampai di sini? Mengapa aku tak jatuh” Tanya Detak untuk sekali lagi. Ia mulai memasang wajah pucat dan berharap dongeng ini hanyalah mimpi belaka.

“Kau tak sedang bermimpi. Inilah kenyataan yang tak dapat kau rencanakan sebelumnya. Aku hanya mengasihanimu yang terlihat kering dan menguap di bawah sana, serta orang-orang yang hendak mati. Kau tahu jika hujan tak akan pernah turun sebab semua awan menempel menjadi pulai di negeri ini. Dan aku tak bisa memisahkan awan-awan ini dan memerasnya menjadi hujan kecuali aku dapat berhenti larut dalam sedih”

“Tapi kau hanyalah sebuah pohon. Yang aku pun tak tahu bagaimana caramu bisa berbicara tanpa mulu, mendengar suaraku tanpa telinga, dan melihatku tanpa mata. Apalgi perasaan, pohon pun tidak punya hati. Sudah! Jangan mengada-ada, pulangkan saja aku. Barangkali ini hanyalah sebuah bunga tidur kosong yang tak seharusnya berlarut terus-terus”

“Tapi kau tak bisa pulang. Karena tanpa izin engkau sudah meminum air sungai di negriku. Kau dapat tiba di sini karena hanya dirimu yang minta hujan bagi penduduk desamu. Sedang mereka sungguh abai, dan telah bergantian pindah ke desa sebelah. Tak ada yang peduli denganmu, apa kau tahu itu?”

“Apa, sungguh?”

“Ya”

“Kalau begitu turunkan aku sekarang. Maaf jika sudah mengambil airmu dengan lancang. Aku ingin pulang, dan membawa ibuku pergi juga dari desa menjijikkan ini” 

“Kau bisa melakukan itu. Tapi hukuman tetaplah hukuman. Kau harus menanggung resiko atas perbuatan mencurimu tadi”

“Bahkan untuk aku yang tak pernah diundang sekalipun?”

“Karena di bumi, engkau mengadu kepada Tuhan akan sedihmu, sedang sedihku yang tak tuntas malah bertambah semakin keras. Aku mendengarnya, aku  bersedih karena itu. Maka kau harus menerima resikonya”

“Ya, ya. Katakanlah” 

Selepas itu, Detak mendapatkan penjelasan dari  pohon berdaun biru itu bahwa ia juga akan ikut turun ke bumi. Ia ingin menanamkan dirinya di desa tempat Detak tinggal, dan mencairkan negeri awannya itu untuk menjadi hujan. Dan syarat yang kedua adalah Detak harus mengajak berbicara pohon biru tatkala ia berubah menjadi manusia dan berjanji untuk tidak meninggalkannya sendiri dan menjawab semua pertanyaan yang akan ia ajukan. Tak menunggu lama, Detak pun menyepakati perjanjian bodoh-seperti dalam pikirannya itu. Yang kemudian dalam sekejap selintas cahaya kilat, mereka sampai di bumi pada waktu menuju subuh. 

Yah, bagaimanapun juga, waktu di sana dan di bumi terasa sama saja. Detak mulai mengantuk. Sedang pohon warna biru tadi terlihat mulai menancapkan akar-akarnya di tanah yang kering banyak debu-debu. “Sudah kuduga ini pasti khayalanku saja” Ucap Detak lirih sambil kedip-kedip pelan matanya yang berujung menjadi tidur pulas hingga pagi.

Keesokannya, sekitar 3 ayam jago sudah berkokok berulang-ulang atau tebak saja 9 pagi. Langit begitu mendung, dan petir sudah menyambar-nyambar. Dari dalam rumah bambu reot, terdengar suara ibu Detak memanggil namanya. Ia-Detak, terbangun dan segera menuju ke dalam rumah. Bergegas, dengan baju yang lusuh terkena tanah, ia abai dan segera masuk begitu saja. Kagetnya, ia menjumpai ibunya dengan seorang perempuan berpakaian serba biru dengan rambut tergurai hingga tanah-nampak belakang. Kuntilanak? Oh bukan, sayang bajunya biru. Setelah basa-basi bertanya siapa,apa,dan mengapa. Akhirnya Detak menyadari bahwa ia sekarang dalam keadaan sadar, dan perempuan di depannya adalah sebuah kenyataan. Ibunya nampak heran, tapi bagaimanapun juga dari raut wajahnya ia tampak menyukai gadis itu. 

Sejurus kemudian, perempuan alias pohon berdaun biru itu mulai bertanya dan membuka dialog percakapan mereka. 

“Jadi apa namaku sekarang?” Tunggu, ini pertanyaan yang mulai sedikit abstrak. Tapi Detak tak berpikir panjang, ia lalu menjawab ala kadarnya dan mencoba beradaptasi. 

“Nian.” Katanya.

“Berapa umurku?”

“Seratus”

“Uhuk” Tersedak, ibunya Detak kala minum air yang dibawakan Nian ketika mendengar jawaban anaknya itu. Beliau hanya menggeleng-geleng tidak mengerti. Dan dianggapnya jika Nian dan ceritanya tadi adalah hayalan, sama seperti anggapan Detak kemarin. Yang terdapat di pikiran ibu Detak jika Nian adalah calon menantunya yang entah dibawa dari mana oleh Detak. Ia membiarkan mereka berceloteh tidak karuan, dan sesekali tertawa untuk hal yang tidak jelas arah pembicaraan aneh ini.

***

Setahun berlalu, ditambah dua bulan terlewati. Detak mulai berani mengajak Nian mengunjungi desa sebelah yang katanya kini mengalami kekeringan. Sedang desanya sendiri telah lama menjadi subur kembali berkat negeri Nian yang kian lama kian habis awannya menjadi hujan.  Hari ini Nian sedang tidak menjadi pohon, ia berganti wujud menjadi seorang manusia biasa seperti waktu dulu. Bisa dikatakan ia selalu nampak seperti gadis yang berusia 17  tahun. Sedang Detak-yang notabene adalah penduduk asli bumi, kian lama juga menua. Sekarang ia mencapai usianya yang ke 40, yang kala di negeri Kapas Sutra ia masih 35 tahun. Lalu ibu Detak sudah meninggal pada 90 tahunnya. Cukup panjang umur dan bahagia berkat kedatangan Nian, ia menjadi lansia yang tidak pernah lupa untuk telat makan.  Namun demikian, mulut Detak harus berbusa, dan matanya harus rela tidak terpejam semalaman hanya untuk menjawab pertanyaan Nian sebelum menjadi pohon. Ia menjadi pohon ketika segala tanda tanya di otaknya sudah puas dan tuntas bertemu dengan kata masuk akal. Lelah, tapi ini adalah sebuah perjanjian yang harus ditepati oleh seorang Detak. Atau kalau tidak, entah hal buruk apa yang akan terjadi padanya dan ibunya kelak-pikirnya dulu.

Sesampainya di perbatasan, orang-orang tengah berkumpul dan mengemasi barang-barang. Rencananya mereka berpikir bahwa mereka akan bisa kembali ke desa mereka dulu karena hujan sudah lebat mengguyur wilayah sana, namun tidak di sini. Satu-dua orang dari mereka menyadari kedatangan Detak dan Nian, disusul yang lainnya. Lalu mereka berseloroh mengarahkan pujian dan pertanyaan beruntun kepada Detak.

“Hebat pula kau bisa bertahan di desa kering kita dulu. Kesabaranmu benar-benar luar biasa” Ucap salh satu warga.

“Bawa istri muda lagi. Ayok lah Detak, kita makan-makan habis ini.”Susul yang lain dengan sorak sorai yang juga kagum melihat  kecantikan Nian melebihi orang-orang biasa.

“Hei Detak, cari di mana kau gadis seperti ini? Pandai pula lah kau. Eh, kalau pun kau tak mau dengannya, bisa kau berikan saja padaku Hahaha” Detak hanya tersenyum tipis. Namun, entah bagaimana dari perkataan salah satu penduduk desa ini, Detak merasakan sedikit rasa sakit. Sedang ia amati wajah Nian hanya datar-datar aja, seolah tak megerti maksud dari apa yang warga bilang tentang dirinya.

Nian lalu memandang balik ke arah Detak, ia mulai bertanya begini, Kenapa mereka ramai, Apa itu istri, Apa yang diberikan? 

Tiba-tiba orang-orang terdiam sekejap, dan disusul gemuruh tawa dari mereka semua. Mereka mentertawakan wajah polos Nian bak anak kecil yang masi belum mengerti apa-apa, dan sikap Detak yang kalang kabut akibat pertanyaan yang mendadak seperti itu.

“Hai Detak, ah bagaimana kau ini. Benar istrimu cantik, tapi idiot pula Hahaha. Tega sekali kau mempersunting gadis idiot hanya karena dia cantik. Buang sajalah dia, merepotkanmu saja nanti.”

“Benar itu Detak. Untuk apa gadis cantik tapi bodoh. Apa yang kau ambil darinya. Kita ini penduduk desa yang sudah susah jangan ditambahi susah. Cari lagi sana istri yang lain.” 

Apa-apa kata penduduk desa itu mungkin ada benarnya juga. Ketika keberangkatannya tadi hanya untuk melihat keadaan mereka, dan maksud hati mempersilahkan kembali justru lontaran tidak sedap yang ia dapati. Dalam jujur, sudah lama pula Detak pun menaruh hati pada Nian. Karena kepolosannya itulah ibunya bisa terhibur dan meninggal dengan senyuman di raut wajahnya. Atau bahkan hari-harinya yang dapat terus tertawa, dan ladang kering desanya yang kini penuh dengan kebun sayur, buah atau bahkan sawah. 

“Apa itu idiot? Siapa yang dibuang? Siapa yang bodoh? Siapa yang susah?” Tanya Nian berulang kali, dan tawa penduduk juga semakin menjadi-jadi. Lama-kelamaan Detak tak kuasa menahan malu. Ia diam dan meraih tangan Nian untuk membawanya pergi, menjauh dari penduduk yang semakin lama menyorakki mereka habis-habisan. 

Dalam pelariannya Nian terus mengulang pertanyaannya tadi, semakin banyak, dan semakin meracau tidak jelas. Begitulah dia, ketika ia mendapati Detak yang diam seribu bahasa dan terus membawanya lari entah kemana. Lama kelamaan seolah perasan yang disimpan Detak kepada Nian menjadi lenyap. Ia lebih memilih harga dirinya ketimbang membela gadis lelet dan bodoh di sampingnya kini. Detak terus berlari dan tak menjawab pertanyaannya satupun. Sudah dimakan kesal dan malu, mereka akhirnya berhenti. Dan Nian masih terus saja berbicara. Detak lalu hanya memberi aba-aba untuk meminta Nian menunggunya di tempat ini, di atas batu besar dan datar ia lalu berdiri. Isyarat tangan yang disampaikan oleh Detak adalah tunggu sampai ia kembali. Nia hanya mengangguk dan terus mengulang pertanyaannya tadi dengan suara cukup keras agar tak lupa dan menjadi tak terjawab.

Sedang Detak mulai pergi. Ia sadar, jika ia membawa Nian kembali, artinya dia bunuh diri. Ia sadar, usianya kini tak lagi muda sedang Nian adalah perempuan yang senantiasa cantik sampai kapanpun juga sebab dia bukanlah manusia asli. Menyimpan perasaan kepada sebuah pohon adalah kebodohan paling fatal yang pernah ia lakukan. Toh, ibunya sudah cukup bahagia dan kini pasti lebih. Ia tak ingin mastabatnya terinjak-injak hanya dengan karena terus merawat dan menjawab pertanyaan Nian, si pohon tidak berguna itu. Detak, memutuskan memilih pergi dan kembali ke desanya dan tinggal dengan aman tanpa lelah, tanpa cibiran orang-orang. 

Di tengah perjalanan, mendung semakin pekat hitam warnanya. Angin berhembus tak pelan, dan membuat berat langkah setiap orang yang melawan arus arahnya. Mulailah kacau perasan Detak, tak karuan. Antara rasa bersalah dan kehilangan, sedih dan ingkar janji. Segala-galanya pecah. Dia, Detak, pria 40 tahunan itu tak kuasa menahan tangis ketika ia sampai di desanya dengan kaki yang masih berpijak di atas gundukan setelah hutan, lebur menjadi tanah tak aturan. Seperti habis dibajak, bahkan rumahnya pun naas. Yang tersisa hanyalah mayat-mayat warga berserakan di mana-mana dengan lilitan akar pohon. Dan barang-barang mereka tadi pagi yang masih utuh hendak dipindah, kini campur lebur. 

Senyap, lalu menjadi sepi. Hanya gemuruh angin. Ia-Detak, menyesal sudah. Selang beberapa detik, langit kembali cerah dan sinar matahari begitu menyengat. Dari jauh mata Detak memandang, ada segumpal awan yang menggantung di atas sana. Sayangnya bukan warna putih seperti dulu, tapi hitam. Setelahnya hujan seolah berjanji tidak turun lagi hingga 9 tahun lamaya.

Waktu mulai bergulir, desa Detak sungguh menjadi tandus. Tak ada air, yang tersisa hanya dia seorang di sana sekarang. Ia mulai bertahan hidup dengan payah. Tak dapat lari kemanapun,sebab jurang dalam tiba-tiba saja terbentung mengelilingi desa Detak, melingkar, dan berjarak cukup jauh antara satu tanah dengan tanah lainnya untuk penyebrangan. 

***

Setahun berikutnya, desa ini benar-benar mati. Tak ada tumbuhan yang berhasil abadi. Setiap bekas kuburan mayat warga desa hanya menumbuhkan rumput liar atau kaktus berduri. Atau jika beruntung satu pohon pisan yang tak pernah berbuah. Dari sanalah ada sedikit air namun untuk takar yang sedikkit dan tak bertahan lama-lama, pohon itu pun turut membusuk. Tidak juga dengan binatang ternak, yang ada hanyalah binatang melata berbisa yang naik ke atas dari dasar jurang yang panas. Atau burung gagagk dari atas ke bawah, singgah, untuk memakan bangkai manusia.

Lalu Detak? Suatu ketika beberapa detik sebelum menjelang ajalnya tiba. Di bawah gubuk usang reot sisa-sisa, dengan tubuh yang terbaring lemah  tak berdaya serta keadaan kerongkongan yang begitu merasakan tercekik amat sangat sebab dehidrasi dan lumpuh-lumpuh di lidahnya, samar-samar ia lalu mendengar suara seorang perempuan yang tak asing di telinganya, suara yang seolah sudah lama ia mengenalnya dan sering mendengarkan entah lupa kapan juga bagaimana. Kemudian ia-suara itu, bilang seperti ini : “Andai jeda itu tidak ada pada dialog kita dulu. Mungkin engkau bisa bebas hidup dari hari ini.”


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Soreane Sore

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap