Antara Mendidik Cara Ramah dan Marah


Antara Mendidik Cara Ramah dan Marah 1

Mutlak, pendidikan bertujuan untuk mencapai derajat manusia yang paripurna. Dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bermoral menjadi bermoral, dari tidak bisa membedakan menjadi mampu membedakan, dan seterusnya. Intinya, dengan pendidikan diharapkan manusia mampu menjadikan dirinya mengalami perubahan ke arah yang lebih baik, baik moralitasnya, pola pikirnya, maupun kehidupan ekonominya (maisyah).

Bertolak dari tujuan tersebut, secara bersamaan lahirlah konsep, metode, atau cara. Cara dalam mendidik jelas bukan sesuatu yang tetap, tunggal, dan kaku. Ia banyak ragam, lentur, bersifat dinamis dan bahkan terkadang diasimilasikan dengan kondisi dan kultur yang ada. Pungkasnya, ada dua cara dalam mendidik anak yang hingga detik ini masih diperdebatkan, yaitu cara lemah lembut dan “kasar”. Cara yang terakhir ini barangkali perdebatannya selesai di ranah hukum positif negeri ini, tapi tidak berarti selesai di tengah-tengah masyarakat kita.

Mendidik dengan cara “marah” tidak hanya diperdebatkan pada zaman ini saja, ia memang menjadi pro kontra sejak lama. Syaikh Ma’ruf Zurraiq memberikan penjelasan, bahwa cara keras tersebut sejak dulu menjadi bahan perdebatan yang cukup panjang. Terdapat ikhtilaf (kontroversi) di kalangan cerdik pandai muslim terdahulu. Ada yang dengan tegas menolak, namun tidak sedikit juga yang memberi lampu hijau.

Ada banyak alasan, mengapa cara keras tidak diperkenankan? Selain menciderai fisik, ia juga melukai perasaan (psikis). Ibnu Khaldun berpendapat, mendidik dengan cara kasar bisa menyebabkan anak didik termotivasi berbuat bohong, munafik, dan batinnya tertekan. Sebagian pemerhati pendidikan Islam menambahkan, mendidik cara kasar juga berdampak pada marwah seorang guru, ia akan kehilangan wibawanya di tengah-tengah muridnya. Murid bisa saja tunduk patuh bila ada di depannya saja, sementara di belakangnya ia tidak punya pengaruh apa-apa. “Seandainya engkau (Muhammad) berlaku kasar dan keras hatimu, niscaya mereka akan lari darimu”, firmanNya dalam Al-Quran surat Ali Imran: 159.

Secara konsep, mendidik dengan cara keras menghambat kreativitas peserta didik. Namun, dalam kondisi tertentu cara keras tidak berarti tidak memiliki imbas apa-apa. Terkadang cara keras memiliki keampuhannya tersendiri, jika diterapkan dalam kondisi dan situasi tertentu. Di sinilah pribahasa Arab, “Sungguh pentungan itu berasal dari surga!” menemukan korelasinya.

Nabi sendiri mendakwahkan Islam terdapat dua cara. Pertama, basyiran (memberikan kabar gembira), lalu selanjutnya adalah nadziran (memberi kabar yang mengerikan). Dua cara ini, Nabi terapkan dalam kondisi yang berbeda. Makanya, di zaman sekarang ini dikenal dengan istilah reward and punish. Dalam kondisi cara “ramah” tidak membuahkan hasil, maka cara “marah” jelas menjadi pertimbangan akhir. Namun, cara marah sekalipun tetap memiliki rambu-rambu yang menjadi patokan. Ia dilakukan hanya bertujuan li-ta’dib (mengajarkan kedisiplinan) dan dilakukan pada saat yang tepat.
Dalam kitab Al-Hadi al-Nabawi fi Tarbiyati al Awlad fi Dhau’i al-Kitab wa al-Sunah (Petunjuk Nabi saw dalam mendidik anak [bisa murid] dalam perspektif Al-Quran dan Hadits), karya Syaikh Said bin Ali bin Wahif Ali Jahisy Ali Sulaiman Abidah menjelaskan tuntunan cara “keras” dalam mendidik anak, berikut ini petikannya:

“Tak ada keraguan, bahwa kelembutan, keramahan, dan kasih sayang merupakan teknik terpenting dalam pendidikan sebagaimana Nabi SAW lakukan. Nabi SAW tak pernah melakukan pemukulan dalam mendidik dan tak pernah satupun orang yang tersentuh oleh tangan Nabi SAW kecuali dalam peperangan (jihad fi sabilillah) sebagaimana yang dituturkan dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Aisyah (radliyallahu anha).

Namun, bagaimana kalau cara lembut dan cinta tersebut tidaklah mempan dan tak ada efek sama sekali dalam mendidik?
Pada sebenarnya uslub (teknik) lembut dan cinta itu bersifat kondisional sesuai medan dan keadaan.

Sesungguhnya seorang guru itu laksana tabib atau dokter tergantung seberapa parah penyakit yang diderita pasiennya. Apabila pasiennya mengalami sakit sedang, jelas dokter akan memberinya obat yang berdosis rendah. Sedang penyakit yang mendera pasiennya itu parah, maka obat yang dokter berikan berdosis tinggi, bahkan bisa dioperasi atau diamputasi sesuai diagnosanya. Begitupun dengan seorang pendidik (guru).

Apapun itu, cara lembut dan ramah adalah uslub terbaik. Meski begitu, tidak berarti cara “keras” adalah cara yang perlu dihilangkan secara total. Namun, ada batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar dalam metode “kasar” tersebut, seperti tidak boleh memukul sampai menciderai, tidak boleh memukul wajah, dan sebagainya. Intinya, tujuan “keras” dalam mendidik hanyalah li al-ta’dib (mengajarkan atau melatih kedisiplinan semata), bukan untuk menyakiti.”

Alhasil, cara keras hanyalah solusi akhir dan hanya dilakukan tidak berdasarkan rasa dendam dan kebencian. Cara tersebut terpaksa dilakukan, ketika semua cara tidak lagi berpengaruh. Tujuannya hanya untuk mengajarkan kedisiplinan (li-ta’dzib), dan bukan karena emosi. Barangkali “keras” yang dimaksudkan adalah sikap tegas tanpa ada kompromi atas perilaku peserta didik yang tak sepantasnya setelah upaya lemah lembut tidak memiliki pengaruh yang berarti.

Tulisan ini tidak bermaksud menganjurkan agar “marah” dalam mendidik peserta didik. Namun, setidaknya kita lebih proporsional memandang keadaan. Jangan hanya karena seorang guru melatih kedisiplinan dengan cara sedikit keras, kemudian mendapatkan bejibun balasan yang lebih memilukan. Belakangan ini, ini yang banyak terjadi. Semoga tidak untuk selanjutnya. Amin.


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Holikin

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments