Antara Tuntutan dan Kebutuhan


Antara Tuntutan dan Kebutuhan 1

kehidupan, untuk mengembangkan sesuatu dari luar pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi

ke dalam, dari kecil menjadi besar, dari sedikit menjadi banyak. Atau, lebih umum, pendidikan diartikan sebagai usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana serta dilakukan dengan proses, untuk mewujudkan tujuan utama dari pendidikan itu sendiri.

Di sini, dengan tulisan sederhana ini, saya akan mengomentari sedikit permasalahan yang terjadi dalam pendidikan indonesia.

Pada era ini, pendidikan menjadi masalah besar yang sedang dihadapi bangsa Indonesia. Bagaimana tidak? Banyak sekali faktor-faktor yang menjadikan pendidikan di negara kita masih belum baik. Bahkan jauh dari kata baik menurut saya. Mengapa?

Banyak sekali faktor-faktor yang menjadikan pendidikan di Indonesia terpuruk, di antaranya adalah luasnya wilayah negara kita. Ada beribu-ribu pulau di Indonesia. Dari sabang, hingga merauke. Tapi, mengapa pemerintah hanya memusatkan pendidikan di kota-kota besar saja? Sebenarnya, mulai saat ini sudah banyak diadakan program sekolah gratis. Yang katanya bertujuan agar pendidikan merata. Tetapi, mana faktanya? kata gratis hanya sekadar ucapan saja. Banyak masyarakat Indonesia khususnya siswa yang putus sekolah di tengah jalan karena mahalnya biaya pendidikan. 

Tidak hanya itu, kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan juga menjadi titik berat pada permasalahan ini. Kali ini, saya tidak akan membicarakan tentang kesadaran orang tuanya, tetapi dari pihak guru serta murid yang menjalaninya.

 Tahun 2014 lalu, Menteri Pendidikan Anies Baswedan sudah mengupayakan penggantian kurikulum, dari KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) menjadi Kurikulum 2013 (K13). Dengan tujuan untuk mengembalikan moral bangsa yang sudah hampir luntur. Menurut data, sekitar 6000 sekolah sudah melaksanakan dan menganut kurikulum tersebut. Pemerintah sudah berjuang agar sistem ini optimal. Namun, perlu diketahui sesuatu dikatakan optimal jika semua pihak ikut berjuang. Lalu, sudahkah ini semua kita laksanakan? Sudahkah guru dan murid ikut berjuang? 

Kenyataannya sangat miris. Sekolah mereka memang sudah menganut sistem K13, tetapi dari guru serta muridnya belum menunjukkan bahwa mereka sudah menganut sistem itu. Lalu? Apakah K13 dianggap hanya butuh untuk dianut tanpa diamalkan?

Saya juga akan mengkritik sedikit dari ujian yang diadakan di Indonesia. Masih juga berkaitan dengan moral.

Banyak sekali persyaratan-persyaratan agar siswa dapat melanjutkan ke jenjang berikutnya atau biasa disebut Ujian Nasional. Mengapa banyak sekali ujian di negara kita hanya demi mendapat predikat lulus saja? Untuk apakah? Untuk lebih melatih siswa? Benarkah cara tersebut? Menurut saya, cara itu salah besar. Ujian sebenarnya hanya membebani murid. Dengan ujian yang sangat banyak ditambah lagi tugas-tugas yang diberikan tidak terhingga banyaknya, murid akan merasa tertekan. Jika dipikir secara logis, otak manusia mempunyai batasan. Tidak akan mampu untuk menampung sekian banyak tugas serta hafalan. Apakah saat besar nanti, hafalanhafalannya juga akan diamalkan pada masyarakat? Contoh kecilnya, seorang dokter. Dahulu sewaktu masa SMP ia selalu mendapat hafalan yang sangat banyak dari gurunya. Peta buta misalnya, lalu apakah saat ia menjadi dokter ia juga akan mengamalkan hafalan peta butanya saat masa SMP kepada para pasiennya? Apakah ia akan ditanyai oleh para pasiennya tentang peta buta? Jawabannya TIDAK. 

Mengapa Indonesia telah lama menganut sistem yang sebetulnya salah besar? Murid karena sudah merasa terbebani, ia pasti akan lelah untuk belajar. Karena sekarang dianut sistem Full day school. Benar? Murid dipulangkan dari sekolah tidak kurang dari jam 3 sore. Banyak sekali tugas yang ia kerjakan di sekolah. Dan tidak jarang pula guru memberikan ‘hadiah’ untuk dibawa pulang berupa tugas. Mereka akan sangat terbebani kalau menurut saya. Dengan waktunya yang sudah terpotong untuk berada di sekolah tadi dan juga ketika di rumah ia mengerjakan tugas dari gurunya, tidak menutup kemungkinan besok harinya ia akan ujian, atau ulangan harianlah, sebut saja begitu. Ia akan lelah, tak hanya fisik, batinnya pun lelah. Jika sudah demikian, kemungkinan besar ia tidak belajar untuk ulangan harian besok harinya. Dan hanya menganut sistem mereka yaitu mencontek. Apakah ini tidak malah membuat rusak moral bangsa?

Yang terakhir, sekaligus yang saya nilai paling penting dari tulisan ini, “Sistem Sekolah”. Pernahkah Anda melirik negara maju? Yang diakui sudah sangat baik sistem pendidikannya. 

Sederhana saja, jika kita berpikir, sekolah dasar yang kita jalani ditempuh selama 6 tahun, Sekolah Menengah (SMP dan SMA) 6 tahun pula. Yang menjadi pertanyaan, mengapa kita sekolah sangat lama tetapi baru di SMA adanya penjurusan? Mengapa tidak dari usia dini murid dijuruskan pada satu mata pelajaran yang ia sukai. Jika mungkin sistem ini dilakukan, peluang profesional murid itu akan sangat besar. Karena sedari ia usia dini, ia telah dilatih kedalam bakat yang ia segani. Bukankah begitu?

Yang perlu dilakukan sekarang adalah, merubah mindset masyarakat serta pihak pihak yang terlibat. “Bukan seberapa banyak mata pelajaran yang murid pelajari. Tetapi seberapa banyak murid itu memperdalam pelajaran yang akan menjadi impian profesinya akan datang”

Satu lagi untuk penutup, Kesuksesan tidak ditentukan oleh nilai-nilai mata pelajaran yang sangat banyak, tetapi kesuksesan dapat diraih dari seberapa besar seseorang bersungguh-sungguh dari apa yang ia impikan. Sekian.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

ADM52

   

Konten Kreator Pendidikan

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap