Apakah ada kemiripan antara praktek Boneka Mampang dengan Bacha Bazi di Afghanistan?


Apakah ada kemiripan antara praktek Boneka Mampang dengan Bacha Bazi di Afghanistan? 1

Ada sebuah fenomena baru di Medan Sumatera Utara sejak anak-anak sekolah diliburkan akibat pandemi Covid-19 di awal bulan Maret 2020, yaitu bermunculan anak-anak kecil sampai remaja berkeliaran di jalan-jalan kampung. Mereka biasanya berkelompok, anggotanya 2-3 orang, salah seorang anak memakai kepala boneka sebuah tokoh kartun yang berukuran sebesar rentangan tangan orang dewasa, dan memakai baju mirip badut, lalu berjoget mengikuti musik yang berasal dari alat audio yang dibawa temannya. Tariannya membuat kepala boneka itu bergoyang kanan kiri bahkan bisa berputar segala, tangan dan kaki yang atraktif membuat penampilannya menyedot perhatian orang, setelah menari selama satu lagu, maka teman yang lain akan meminta uang pada para penonton. “Boneka Mampang!” jawab si peminta uang ketika kutanya nama pertunjukannya.  

Beberapa hari berlalu sejak kejadian itu, tanpa sengaja aku melewati sebuah rumah di gang sempit. Penampakan rumah itu sama dengan rumah-rumah lain, tapi ada yang membuat mataku berhenti berkedip ketika melihat isi rumahnya melalui pintu yang dibiarkan terbuka, ruangan di dalamnya penuh dengan boneka-boneka mampang. Kepala-kepala boneka berukuran besar berjajar di atas meja dan lantai, dari tokoh kartun Jepang sampai Rusia semua ada. Pemilik rumah ternyata mengambil kesempatan dengan banyaknya anak-anak yang tidak sekolah. Ia menyewakan boneka-boneka itu dengan tarif 50ribu sampai 80ribu per hari pada anak-anak, mungkin dengan sedikit tambahan kata-kata bijak darinya “Untuk membantu Mamak kau cari uang!” 

Maka terbakarlah semangat anak-anak kecil itu, sambil tertawa bercanda dengan temannya, ia membayangkan ketika pulang ke rumah nanti membawa segepok uang untuk dipamerkan ke orang tua mereka. Atau jika kelompok itu terdiri dari para remaja, maka mereka sudah membayangkan bisa menikmati satu pak rokok dan minuman keras. Kelompok penari boneka mampang itu biasa berkeliaran di siang sampai menjelang malam, sekitar jam 10 pagi sampai 7 malam. Bila tidak ada pandemi maka di jam-jam itu mereka pasti sedang belajar di sekolah, mengerjakan PR di rumah. 

Berhari-hari aku berusaha membayangkan fenomena ini akan membawa kita kemana? 

Lalu aku teringat pada sebuah novel yang kubaca tahun 2019, tepat sebelum pandemi Covid-19 muncul di Wuhan China, judul novel itu Kite Runner. Berkisah tentang persahabatan Amir dan Hassan, dua anak laki-laki sama-sama berkebangsaan Afganistan hanya berbeda suku. Isu SARA antar suku ditambah penderitaan perang semasa pemberontakan Taliban telah menghancurkan persahabatan mereka. Amir berhasil lolos ke Amerika Serikat, ia mengubah status kewarganegaraan dan bersekolah sampai jenjang magister, kemudian bekerja sebagai penulis buku. Sedangkan Hassan, tertinggal di Afganistan, bertahan menghadapi kacaunya perang, ancaman diskriminasi suku, dan beban kemiskinan. Hassan dan istrinya harus rela mati di ujung pistol Taliban, meninggalkan anak laki-laki satu-satunya bernama Sohrab. Singkat cerita Sohrab disandera pihak Taliban dan dijadikan Dancing Boy atau Bacha Bazi (bahasa Persia Afgan) yang arti harafiahnya adalah bermain anak laki-laki, ini nama lain dari perbudakan atau prostitusi anak-anak.  

Sohrab berperan sebagai Bacha Bazi harus berdandan layaknya penari perempuan lengkap dengan gelang kaki kerincingan dan pemulas merah di pipi dan bibirnya. Ia harus menghibur pimpinan Taliban dan anak buahnya, setelah puas melihat Sohrab menari maka pimpinan Taliban bebas melakukan apapun padanya termasuk pelecehan seksual. 

Apakah ada kemiripan antara praktek Boneka Mampang dengan Bacha Bazi di Afghanistan? 3
bacha bazi

Terlalu jauh mungkin imajinasiku, dan terlalu liar. Bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai budaya dan tata krama tidak mungkin jatuh dalam dosa semacam itu. Namun perlu kita tahu, Afganistan adalah negara yang masyarakatnya sangat religius, namun tetap saja ada dosa yang disimpan di bawah permadani indah mereka. Bahkan status sosial seseorang bisa ditentukan dari seberapa banyak ia memelihara bocah-bocah Bacha Bazi di rumahnya. Terlalu liarkah imajinasiku? 

Richard L. Daft (2010) mengatakan budaya merupakan Valuesnormsbeliefsand ideas shared by members of the same group and not written.” Dalam pengertian tersebut diketahui bahwa budaya merupakan hasil kesepakatan bersama mengenai nilai, norma, kepercayaan, serta ide yang kemudian dapat digunakan sebagai pedoman dalam seorang individu atau kelompok berpikir dan bertingkah laku dalam masyarakat di mana budaya tersebut ada. Arti gampangnya, budaya itu seperti prinsip hidup yang disepakati dan dilakukan oleh sekelompok orang. Bacha bazi bisa muncul karena ada sekelompok orang yang melegalkan, begitu juga dengan boneka mampang, ada sekelompok orang yang menyepakati bahwa pekerjaan ini benar.  

Padahal salah.  

Undang-undang ketenagakerjaan pasal 68 menegaskan barang siapa memperkerjakan anak dengan umur di bawah 18 tahun akan dijatuhi hukuman minimal 1 tahun maksimal 4 tahun dan atau denda minimal 100 juta sampai 400 juta. Walaupun di pasal 70 memperbolehkan anak-anak di atas 14 tahun untuk bekerja sebagai bagian dari rangkaian pendidikan. Aku tidak pernah membayangkan menjadi boneka mampang masuk dalam kurikulum PKN atau seni musik. Keberadaan anak-anak dan remaja usia sekolah di dalam boneka mampang merupakan gambaran kegagalan kita semua, tapi jika hal ini dibiarkan maka kegagalan itu lama-lama menjadi hal biasa. Kita biasa melihat anak-anak kecil bekerja di jalan mengemis minta uang, padahal seharusnya ia di rumah mengikuti pembelajaran daring atau online. 

Hal yang bisa kita lakukan untuk mencegah anak-anak boneka mampang merajalela, salah satunya tidak memberi mereka uang, tapi suruh mereka kembali ke rumah untuk belajar pelajaran sekolah. Masa depan mereka tidak ditentukan dari uang yang mereka dapatkan sekarang, tapi dari pengetahuan dalam pelajaran yang mereka dapatkan sekarang. Bawa fenomena ini menjadi trending topics di medsos kita, beritahu pemerintah bahwa kalau ini tidak segera diatasi maka pemerintah akan menjadi sebuah lembaga yang gagal melindungi hak asasi anak. Yang paling penting buat para orang tua untuk tetap menguatkan tekad memberikan pendidikan moral, budaya dan etika yang baik di samping pendidikan sekolah pada anak-anaknya. 


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Nana Hadinata

   

Setiap detik kehidupan untuk menghidupi hidup.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap