Apakah Mungkin Kisah Hunger Games menjadi nyata di tengah Pandemi Covid-19?


Apakah Mungkin Kisah Hunger Games menjadi nyata di tengah Pandemi Covid-19? 1

Hampir semua kita pernah menonton film Hunger Games yang diadaptasi dari novel karangan Suzanne Collins. Mengisahkan keadaan bumi setelah bencana hebat melanda dan hanya menyisakan satu kota bernama Panem. Penduduk yang berhasil selamat, dibagi menjadi 13 distrik, ada di bawah kekuasaan pemerintahan totaliter yang berpusat di ibukota ‘Capitol’. Semua distrik hidup dalam kemiskinan yang memaksa mereka harus melakukan perlawanan.

Pemberontakan terhadap pemerintah mengakibatkan musnahnya distrik ke 13, dan lahirnya acara Hunger Games yang diadakan setiap tahun oleh pemeritah. Tujuan acara ini ada dua. Satu selaras dengan arti kata Panem yang berasal dari frasa ‘Panem et circense’ yang berarti roti dan sirkus, yaitu menyediakan makanan dan hiburan untuk mengalihkan perhatian penduduk distrik dari penderitaan. Dua, pemerintah ingin selalu menyegarkan ingatan penduduk Panem pada mereka yang terbunuh akibat pemberontakan di distrik-distrik.

Hunger Games hanya boleh diikuti anak-anak usia 12-18 tahun apapun gendernya. Mereka yang terpilih dibawa ke ibukota ‘Capitol’ untuk dilatih ketangkasan membunuh lawan dan teman sendiri. Pemerintah membuat penyelenggaraan acara tahunan ini semegah mungkin, digambarkan di film dengan acara konvoi, talk show, promosi bakat tiap pemain dalam bertahan hidup untuk mendapatkan sponsor.

Pandemi Covid-19 memang belum membunuh sepertiga jumlah manusia di bumi, namun bencana ini telah mengubah wajah dunia kita menjadi sesuatu yang baru, yang mungkin kala itu hanya ada dalam imajinasi Suzanne Collins.

Gelombang penyebaran Virus-19 membuat manusia harus bertahan dalam rumah. Memutus tradisi saling berjabat tangan yang biasa kita lakukan, lalu digantikan dengan salam dan lambaian tangan di depan kamera. Berhentinya kebiasaan manusia, menghentikan juga bergulirnya roda perekonomian di banyak sektor usaha. Pembuat mesin-mesin termasuk mesin industri dan mobil terpaksa menutup pabrik dengan alasan keselamatan, perhotelan dan destinasi wisata berebutan mengajukan permohonan pertolongan dari kebangkrutan, Mall dan pusat perbelanjaan setiap hari harap-harap cemas menunggu datangnya pengunjung. Menurut CNN Indonesia, Organisasi Buruh Dunia (ILO) menyatakan 2,7 milyar pekerja di dunia terdampak oleh pandemi.

Masih ada yang terparah, menurut laporan dari UNICEF, pandemi ini mengakibatkan 463 juta anak tidak bisa bersekolah karena kurangnya akses untuk pembelajaran jarak jauh.

Total jumlah penduduk bumi dikutip dari UNITED NATION per tahun 2020 adalah 7,7 milyar. Jika kita tambahkan angka buruh yang kehilangan pekerjaan dan jumlah anak yang tidak mendapat akses pembelajaran jarak jauh, jumlahnya adalah 2,963 milyar.

Artinya Pandemi Covid-19 memang belum membunuh sepertiga jumlah manusia, tapi telah memusnahkan harapan sepertiga lebih penduduk bumi yang berada di kelompok usia produktif dan kelompok usia muda.

Apakah film Hunger Games mungkin terjadi jika pandemi Covid-19 ternyata bertahan dalam jangka waktu sangat lama?

Tidak ada yang tahu kapan Covid-19 mengangkat bendera putih di depan manusia, dan menyatakan mereka kalah perang. Kepanikan dan kebingungan masih terus bergulat ketat dalam kehidupan manusia, dan itu menimbulan keresahan di mana-mana.

Dan… luar biasanya Suzanne Collins dalam novelnya, ia mengimajinasikan dengan tepat solusi yang diambil dunia nyata. CNBC Indonesia dan beberapa media online mengangkat artikel dengan topik yang sama ‘WHO menyarankan untuk bermain game selama pandemi Covid-19’.

“Kita berada dalam saat yang krusial dalam penyebaran pandemi ini. Industri game memiliki global audiens, kami mendorong semua #PlayApartTogether. Lebih banyak physical distancing dan tindakan lainnya akan membantu mencegah penyebaran corona, artinya menyelamatkan jiwa,” kata Ray Chambers, Ambasador WHO, seperti yang dilansir dari USA Today, selasa tanggal 31 Maret 2020.

Anjuran WHO langsung disambut dengan luar biasa antusias oleh perusahaan game. Mereka segera melakukan inovasi dengan menambahkan fitur-fitur baru, hadiah tambahan dan membuat konten tertentu yang dapat diakses gratis. Bukan hanya itu, banyak oline market yang menyediakan lapak-lapak mereka untuk menjual fitur-fitur yang dibutuhkan agar menambah skill pemain.

Game Online yang sebelum pandemi dicap sebagai hobi yang membawa dampak buruk, selama pandemi ia mengalami perubahan makna. Negara Polandia bahkan menyediakan Grarantanna.pl, sebuah situs yang mereka buat untuk menyediakan aktivitas online interaktif , salah satunya game. Pemerintahnya bahkan menganggap game sebagai hal yang lumrah untuk dimainkan anak-anak, dan hal yang unik dilakukan penduduknya selama pandemi.

Jika WHO semula menyatakan game online akan menyebabkan penyakit mental akibat kecanduan, maka sekarang beberapa ahli, salah satunya bernama Michael Frasser, mengatakan bahwa bermain game dapat mengatasi deretan penyakit mental yang dialami remaja, seperti kecemasan, depresi hingga gangguan belajar… (Pingin ketawa rasanya) Dan dengan bermain Game dianggap dapat menumbuhkan sifat gigih, karena beberapa orang punya kecenderungan untuk mengulang tahapan di mana mereka merasa gagal.

Fenomena ini menghasilkan angka-angka fantastis, CCN Indonesia mengatakan ada peningkatan pengguna game online sebanyak 75%, Kompas.com bahkan menyatakan 732 triliun dihabiskan untuk membeli aplikasi permainan game online. Indonesia sendiri di tahun 2019 memiliki 52 juta gamer aktif atau sekitar seperlima penghuni bumi Nusantara tercinta kita.

Dan… tidak perlu diragukan lagi bisnis ini di masa depan mengalami peningkatan dengan pesat seiring dengan digitalisasi di seluruh penjuru dunia.

Dunia semakin mengarah ke digital, termasuk mata uang. Sekarang banyak game yang menawarkan berbagai pilihan pembayaran digital. Perusahaan menggabungkan berbagai cara pembayaran dalam permainan mereka, sehingga orang dapat dengan mudah membeli barang. Banyak perusahaan game yang memprioritaskan cryptocurrency seperti bitcoin, karena mata uang digital ini tidak diatur oleh pemerintah. Kebebasan ini yang sangat disukai para pemain game. Mereka bisa mengubah uang digital ke kurs mata uang negara manapun.

Jika masa ketika mata digital akhirnya menggantikan pembayaran tradisional. Perusahaan game online terintegrasi dengan pasar online dan mata uang digital, maka yang terjadi, kita harus mendapatkan membunuh tiga musuh dalam game online untuk bisa membeli sekantung gandum. Atau, membunuh lima teman aliansi dalam game online untuk mendapatkan satu kotak susu anak. Semua orang harus bermain game untuk bisa makan. Apakah mungkin?

Welcome to the real Hunger Games.


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Nana Hadinata

   

Setiap detik kehidupan untuk menghidupi hidup.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments