Biografi    , Sejarah   

Empat Jari Buya Hamka


Empat Jari Buya Hamka 1

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Hamka (1908-1981) telah tercatat dalam lembaran sejarah dengan tinta emas. Di masa hidupnya, ia telah berikhtiar menjadi manusia yang kuasa mengepakkan sayap kebaikan. Begitu panjang kiprah Hamka.

Ia adalah ulama yang terus berjuang demi tegaknya agama. Daya intelektualnya terbilang menakjubkan dengan penguasaan pelbagai disiplin ilmu. Ia pernah menjadi seorang guru. Bahkan, posisi rektor pernah didudukinya di Perguruan Islam Jakarta. Selain itu, ia juga dikenal sebagai pejuang pena dengan karya-karyanya yang mengagumkan.

Empat Jari Buya Hamka 3

Dalam menulis, Hamka tak dipungkiri merupakan penulis besar. Ia memang tekun menulis di sepanjang hidupnya. Suatu kebanggaan besar bagi negeri ini, Hamka menjadi salah satu ulama yang mampu menghasilkan kitab tafsir Alquran. Tak hanya Tafsir Al-Azhar, ia pun telah menghasilkan pelbagai karya tulis, baik berbentuk nonfiksi maupun fiksi. Siapa yang tak mengetahui karyanya berjudul Di Bawah Lindungan Kabah dan Tenggelamnya Kapal van der Wijk?

Ada banyak karya tulis Hamka lainnya. Buku-buku Hamka kadang merupakan kumpulan tulisannya yang telah diterbitkan di surat kabar. Hamka menulis dan terus menulis. Ia juga menulis dengan menggunakan mesin tik. Ketika mengetik, ia ternyata tak menggunakan seluruh jarinya. “Meskipun hanya dengan sistem empat jari,” kata M. Yunan Nasution (1978), “kecepatannya boleh dihandalkan.”  Empat jari Hamka memang telah menorehkan jutaan kalimat. Jutaan kalimat dari empat jarinya telah menginspirasi dan memengaruhi para pembaca karya-karyanya.

Baca juga  Contoh Surat Penawaran Barang : Definisi, Komponen & Informasi Lainnya 

Konon, Hamka telah menghasilkan sebuah roman sekitar tahun 1928. Roman itu diberi judul Si Sabariah. Hamka juga terjun di kancah jurnalistik sebagai wartawan, penulis, dan editor pelbagai surat kabar, seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, Seruan Muhammadiyah, Kemajuan Masyarakat, Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, dan Gema Islam. Karya-karya tulis Hamka jelas tersebar di pelbagai surat kabar tersebut.

Baca juga  Mengenal Jenderal Perang Tiga Negara Pada Sejarah Tiongkok

Empat Jari Buya Hamka 4

Hamka juga menghasilkan buku Falsafah Hidup, Lembaga Hidup, Lembaga Budi, Revolusi Pikiran, dan Revolusi Agama. Ia juga menyempatkan diri menulis autobiografi dirinya yang terbukukan dalam empat jilid Kenang-kenangan Hidup. Bahkan, jejak ayahnya dituliskannya dalam sebuah karya dengan judul Ayahku. Daya imajinasi Hamka dalam ranah fiksi memang begitu kuat sampai-sampai tiga roman berjudul Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah diselesaikan pada tahun 1950. Sebagai sejarawan, Hamka menghasilkan karya monumental: Sejarah Ummat Islam sebanyak empat jilid.

Baca juga  Biografi Justin Bieber Penyanyi Pop Yang Serba Bisa

Selain di atas masih banyak lagi karya tulis Hamka. Mengapa dengan empat jari? Apakah Hamka tidak lebih baik belajar mengetik sistem sepuluh jari?  Diceritakan M. Yunan Nasution (1978), pertanyaan itu pernah dilontarkan seseorang. Atas pertanyaan itu, Hamka menjawab dengan kelakar dan cepat, “Saya belum ada niat untuk melamar menjadi juru ketik di kantor-kantor.” Wallahu a’lam.

Empat Jari Buya Hamka 5

Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Hendra Sugiantoro

   

juru tulis, pemustaka, pengkliping koran, periset buku lawas, penikmat tokoh, dan penyeru literasi