Budaya    , Sosial   

Melihat Sejenak Prinsip Budaya Jepang


Melihat Sejenak Prinsip Budaya Jepang 1

Ditinjau dari sudut sejarah dan budaya, setiap bangsa memiliki sisi positif dan kelemahan. Namun, Jepang unik. Siapa pun dibuat terkesima dengan kebiasaan harian yang dianut masyarakat sebagai nilai bersama.

Kesan yang sudah mendunia, yakni orang Jepang itu tertib. Ada sebuah foto yang pernah membuat dunia takjub. Foto ratusan orang sedang berada dalam antrean panjang, dipotret dari atas. Apa istimewanya? Orang-orang itu adalah para korban tsunami yang melanda wilayah Tohoku pada Maret 2011. Mereka sedang antre untuk memperoleh jatah makanan. Dalam keadaan sedih, letih, dan kelaparan pun mereka tetap bisa antre.

Melihat Sejenak Prinsip Budaya Jepang 3

Dalam prinsip budaya Jepang, perasaan malu melakukan hal buruk disebut haji. Sejak dini, mereka diajarkan malu melakukan sesuatu hal yang tidak pada tempatnya atau bertindak menyimpang. Konsep haji mampu menjadi panduan moral yang mengagumkan, bahkan dalam keadaan darurat sekalipun.

Baca juga  10 Fakta Serangan Pearl Harbor, Salah Satu Pemicu Perang Dunia II

Rasa malu juga berlaku untuk hal-hal yang terkait dengan kemampuan. Seseorang yang diberi tugas melakukan pekerjaan merasa malu kalau tidak mampu menyelesaikannya. Kegagalan berarti runtuhnya kehormatan, kebanggaan, dan nama baik. Hal ini salah satu pendorong budaya kerja keras mereka.

Orang Jepang juga perhatian pada hal detail. Ketepatan waktu mereka dikenal menonjol di dunia. Kereta di sana datang dan tiba dengan presisi pada skala detik. Tak cuma saat kerja, dalam hal yang sifatnya rileks dan senang-senang pun, mereka menjaga tepat waktu.

Melihat Sejenak Prinsip Budaya Jepang 4

Teliti dan mendetail termaktub dalam prinsip budaya seikaku. Dengan prinsip ini pula, mereka sangat teliti memisahkan antara fakta dan bukan fakta. Hoaks tidak mendapatkan tempat. Mereka menuntut sesuatu yang berbasis data.

Ketelitian dan perhatian pada detail juga dapat dilihat dalam berbagai produk kerajinan. Misalnya kinpaku, lembaran emas yang ditipiskan untuk melapisi berbagai produk kerajinan. Mereka bisa membuat lembaran setipis 0,00001 mm dengan ketipisan yang seragam di setiap permukaan. Itu semua dikerjakan dengan tangan. Menakjubkan, bukan?

Baca juga  5 Fakta Kelam Dibalik Megahnya Industri Film Anime Jepang

Dalam prinsip budaya Jepang ada istilah uchi berarti bagian dalam dan soto berarti bagian luar. Hasanudin Abdurakhman yang studi dan beraktivitas di sana sudah 20-an tahun lebih membuat catatan menarik dalam prinsip budaya ini.

Dalam buku Uchi&Soto (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2019), dia mengatakan bahwa orang Jepang selalu mengidentifikasikan dirinya sebagai anggota kelompok, kemudian mengidentifikasi orang-orang di sekitar mereka dalam kategori dalam dan luar kelompok. Identifikasi ini bukan dalam keperluan memusuhi, tetapi memosisikan pihak luar secara lebih terhormat.

Sisi negatif dari konsep uchi-soto adalah orang Jepang menjadi cenderung tertutup. Ketika mereka berbisnis di luar negeri, umumnya hanya berbisnis dengan kalangan mereka sendiri. Tak heran jika banyak pelaku bisnis lokal yang mengeluhkan kesulitan untuk menjalin kemitraan dengan perusahaan-perusahaan Jepang.

Baca juga  5 Etika yang Perlu Diperhatikan Saat Mengunjungi Suku Badui

Melihat Sejenak Prinsip Budaya Jepang 5

Uchi adalah circle of trust. Banyak perusahaan Indonesia yang mencoba menjadi mitra perusahaan Jepang tidak berjalan lancar. Memang, untuk mendapatkan kepercayaan harus melewati tembok batas uchi, lantas masuk menjadi bagian dari mereka. Apa pintu masuknya? Menurut Hasanudin Abdurakhman, salah satunya harus memiliki rekam jejak pekerja keras. Kerja keras adalah karakter orang di dalam uchi.

Sebagaimana dikatakan di atas, ditinjau dari sudut sejarah dan budaya, setiap bangsa memiliki sisi positif dan kelemahan. Indonesia sebenarnya tidak kalah dengan prinsip budaya Jepang terkait ketertiban, kedisiplinan, ketelitian, kerja keras, dan sebagainya. Permasalahannya, apakah kita ma(mp)u menerapkan budaya positif dalam kehidupan? Nah…

Melihat Sejenak Prinsip Budaya Jepang 6


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Hendra Sugiantoro

   

juru tulis, pemustaka, pengkliping koran, periset buku lawas, penikmat tokoh, dan penyeru literasi

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments