Budaya   

Reog Sebagai Alat Menyindir Penguasa


Reog Sebagai Alat Menyindir Penguasa 1

Jika China memiliki Barongsai, yaitu berupa tarian dengan menggunakan naga-nagaan, yang memiliki sejarah panjang. Pun begitu dengan Indonesia yang memiliki kesenian tak kalah menarik, yaitu kesenian Reog Ponorogo yang berasal dari daerah yang sama dengan namanya. yaitu Ponorogo.

Bagi masyarakat Ponorogo, Reog bukan hanya sekadar tarian, ajang sindiran, ataupun hiburan. Reog adalah jatidiri yang akan dipertahankan warga Ponorogo dengan segala cara. Sebab Ponorogo identik dengan Reog. Kesenian yang telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakatnya.

Reog Sebagai Alat Menyindir Penguasa 3

Ponorogo merupakan wilayah paling barat provinsi Jawa Timur dan berbatasan langsung dengan Jawa Tengah. Nama Ponorogo berasal dari dua kata, yaitu Pramana atau Pono dan Progo. Praman berarti daya kekuatan hidup sedangkan Rogo berarti badan. Dengan kata lain, Ponorogo memiliki makna kekuatan badan manusia untuk mengolah kehidupan. Dalam babad Ponorogo, kabupaten Ponorogo berdiri setelah Batoro Katong datang pada akhir abad ke-15. Batoro Katonglah yang membawa ajaran Islam ke Ponorogo. Sebelumnya, masyarakat di wilayah ini menganut kepercayaan Animisme dan Dinamisme.

Baca juga  Alasan Mengapa 7-Eleven Sangat Populer di Jepang

Kedatangan Batoro Katong dan masuknya ajaran Islampun diterima dengan baik oleh masyarkat, yang ketika itu mewarisi tradisi dan budaya yang ada.

Sedikitnya ada lima versi cerita yang berkemmbang di masyarakat tentang asal-usul Reog Ponorogo. Dan setiap versi memiliki kesamaan konsep, yakni menggunakan simbol sosok hewan. Kedatangan Batoro Katong sedikit banyak mempengaruhi Reog. Unsur Islam mulai terlihat dalam pertunjukannya.

Baca juga  Beberapa Suku di Indonesia Yang Terpinggirkan

Salah satu lakon yang ditengarai asal-usul Reog berkisah tentang pemberontakan Ki Ageung Kutu, seorang abdi kerajaan Majapahit. karena tidak menyukai pengaruh kuat istri raja kerajaan Majapahit yang berasal dari Tiongkok. Ki Ageung Kutu lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan beladiri. Perguruan ini diharapkan menjadi kebangkitan kerajaan Majapahit. selain menyiapkan pasukan muda, Ki Ageung Kutu melakukan perlawanan melalui pertunjukan seni, yaitu Reog.

Baca juga  Perlu Tahu Nih, 9 Etika Makan Aneh dari Seluruh Dunia!

Seiring dengan perkembangan zaman dan pasang surut kerajaan Majapahit. cerita Reog mulai bervariasi. Beberapa hal yang berubah di antaranya cerita dan koreografi. Terutama setelah semakin sering digelar festival, perlombaan, ataupun pertunjukan Reog di luar Ponorogo.

Reog Sebagai Alat Menyindir Penguasa 4

Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

El-Pedia