Cerpen   

Bukan Salah Mama


Bukan Salah Mama 1

Tak puas menjambak rambut, Michele lalu menyiramkan teh hangat ke wajahku. Tawanya terdengar girang diikuti tawa beberapa siswi dan teman-temannya yang menahan lenganku.

Kepalaku mendadak menunduk dengan rasa ngilu seketika, rasa panas menjalar ke seluruh tubuh, tapi bukan itu lebih-lebih itu yang menyakitkan, melainkan siapa gadis-gadis ini sebelumnya. Mereka yang dulu bersamaku, berbicara melebihi kata akrab, bahkan sudah seperti saudara kandung.

“Duh jadi kotor deh, kasian …!”

Michel memasang wajah setengah memelas, memegang daguku lalu berujar, “Makanya gak usah sekolah di sini. Gak pantes!”

Dan ia mengakhirinya dengan kibasan pada dua sahabatnya, mengisyatkan mereka untuk pergi. Selalu seperti ini. Seolah-olah aku memang bahan ejekan dan kesenangan untuk mereka, tepatnya setelah vonis Papa beberapa tahun silam.

Kasus korupsi yang menimpa orang tuaku itu benar-benar telah menjadi bumerang. Semua harta keluarga kami habis disita oleh pemerintah, bahkan hasil salon Mama yang notabenenya lahir dari kerja keras sendiri juga diambil lantaran dianggap hasil korupsi Papa selama menjadi DPR.

“Kau tak apa-apa, ‘kan, Sayang?”

Mama setengah mengusap wajahku setelah Michele dan gengnya pergi. Aku menggeleng sembari tersenyum, cepat-cepat membereskan sisa minuman tadi lalu membantu Mama mencuci piring. Ada raut cemas di wajah Mama dan aku jelas tahu tapi situasi yang telah memaksanya seperti ini.

Mama berjualan di sekolah yang notabenenya milik orang tua Michele, bahkan orang tua itu juga yang membantu modal awal untuk Mama, Karena itu Mama harus bersikap hati-hati pada Michele dan teman-temannya, meski jelas perbuatan mereka sudah di batas kewajaran.

Baca juga  Sebuah Kisah Untuk Dilupakan

“Anak mama harus tetap mendapatkan pendidikan yang terbaik, dan sekolah yang baik adalah jalan untuk mendapatkan pendidikan terbaik.”

Begitu wanita itu pernah berkomentar mengapa masih dan bersikeras menyekolahkanku di SMK ERLANGGA yang notabenenya diperuntukkan bagi mereka yang berduit. Tak heran sejauh apa pun posisiku dulu bisa berubah drastis seiring keadaan ekonomi itu berada di bawah. Dalam artian lain uang adalah penentu siapa kami di sekolah.

“Ma, boleh aku pindah saja?”

Mama tak langsung menjawab, wanita itu masih terlihat sibuk mengelap beberapa meja. Hanya keningnya yang sedikit mengkerut.

“Aku sudah tak kuat lagi, Ma. Sekolah Ini memang bagus dan memiliki fasilitas yang cukup, tapi aku tetap tidak betah. Aku lebih memilih sekolah yang biasa asal bisa nyaman.”

Mama mendadak terhenti, menoleh padaku lalu mengusap keringat dengan sapu tangan yang diambilnya di atas meja. Tatapannya sesaat seperti menerawang.

“Yah, kau benar, Ney. Kebebasan dan kenyamanan lebih penting, dan selayaknya kau memang mendapatkan itu,” gumamnya sambil meletakkan sapu tangan itu lagi. Warnanya jadi sedikit abu-abu, bahkan tulisan Anggita sebagai namanya yang disulam Papa dulu hampir tak terlihat. Mama masih menyimpannya bahkan setelah apa yang dilakukan lelaki itu pada kami, dan aku sendiri tak menghalangi itu, karena nyatanya berjauhan selama hampir lima tahun seolah telah mengikis kekecewaanku pada Papa.

Baca juga  Mawar Untuk Laura

——-

Sekolah sudah terlalu sepi, jam di pergelangan juga telah menunjukkan setengah tiga sore, tetapi tetap saja tidak ada tanda-tanda kedatangan Michele, Mica, dan Milla. Betisku jadi terasa pegal dan akhirnya memilih untuk menyusul ke kelas, tetapi sayang tak ada.

Ke halaman belakang juga tak ada. Ruang musik, tak ada dan ….

Keringatku  jadi bercucuran sembari mulai berteriak memanggil-manggil nama mereka, tak peduli berani memanggil nama gadis-gadis itu bisa menjadi hukuman berat buarku, tapi setidaknya ini akan membuat Mama tidak menunggu lebih lama lagi.  Sekarang saja SMS dan teleponnya yang menyuruhku langsung pulang sudah dilontarkannya berkali-kali, dan aku yakin ia pasti sudah kelelahan menunggu di luar pagar.

Michele dan gengnya juga. Mereka benar-benar keterlaluan, tak puas setelah merobek bukuku mereka malah memberi peraturan baru di mana aku harus membungkukkan badan setiap kali mereka akan pulang, seolah-olah mereka sudah layaknya putri raja di balik kerjaan dongeng.

Setelah lelah berputar-putar aku akhirnya memilih ke toilet, mencoba membersihkan wajah sebelum benar-benar pulang. Ibu bisa saja melihatku curiga karena keringat ini. Terserah dengan Michel dan gengnya sekarang. Ini sudah melebihi kata telat. Biar besok aku menerima hadiah dari mereka, lagipula belum tentu aku akan lama lagi di sekolah ini mengingat Mama sepertinya sudah setuju permintaanku pindah sekolah.

Baca juga  Claudia

Tetapi tidak-tidak, belum apa-apa, mataku sudah dibuat terbelalak lebih dulu. Tepatnya setelah melihat beberapa tubuh yang tergeletak di lantai. Darah segar mengalir dari tubuh mereka, membuat seragam putih itu tak tampak sama sekali selain warna merah darah, tak hanya itu ada potongan bibir, tangan,  kaki dan

Seperti ada yang mengaduk-aduk perutku, rasa mual itu mendadak terasa diikuti pening yang membuat tubuhku melemah dan berpegangan pada sisi pintu.

Aku mengenal sekali wajah-wajah pemilik tubuh itu, mereka Michele dan dua temannya. Entah bagaimana mereka sampai seperti ini, tetapi jelas  orang-orang tidak bisa melihatku di sini, semuanya bisa saja salah paham.

Peganganku pada sisi pintu jadi makin menguat untuk menopang tubuh tapi kali ini disertai kaki yang berusaha melangkah, hanya saja baru selangkah mataku dibuat lebih terbelalak lagi dengan sobekan kain di sisi pengait pintu. Tidak terlalu lebar dan panjang, tetapi sulaman huruf di balik kain itu cukup membuatku mengenalinya dengan pasti.

itu … sapu tangan Papa, yah sapu tangan pemberian papa yang pagi tadi dipegang Mama saat bekerja. Wajah wanita itu mendadak berputar-putar di kepalku dan belum saja aku paham seseorang tiba-tiba menarik tubuhku.

“Sudah mama bilang, tak perlu ke mana-mana. Langsung pulang!”

Ia menyeretku pergi seolah tak peduli ada tubuh-tubuh mengenaskan di bawah kami.

Salsa. W

Bukan Salah Mama 3

Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Salsa

   

Saya hanya penulis pemula yang lebih memfokuskan pada Fiksi, karenanya di sini kalian mungkin lebih mendapati karya-karya saya berupa cerpen. Saya menerima masukan dari siapa saja, silakan dm ig @penasalsa bila ada saran perbaikan. Terima kasih