Cerpen   

Bukan untuk Pergi


Bukan untuk Pergi 1

Lelaki itu tidak menyapaku atau hanya duduk sambil mengapit rokok di kedua jari. Kadang disulutnya lalu dibiarkan asapnya mengepul di sela-sela ruangan. Dia tidak mengenalku atau hanya pura-pura? Kurasa perkiraan kedua itu yang lebih cocok dan untuk ke sekian kalinya senyumku kembali kecut.

“Kau tak bosan merokok?”

Aku duduk tanpa diminta, menyilangkan dua kaki sambil menatapnya. Wajah tirus dengan rambut gondrong itu sedikit acak-acakan ditambah lingkaran hitam di bawah matanya. Ada beberapa rokok yang langsung dibuangnya dan hanya menyisakan sebungkus rokok yang kemudian ia rebut.

“Istrimu terlalu sibuk sampai membiarkanmu seperti ini?”

Sambil kupegang janggut dan kumis tipisnya yang berantakan. Ia berkelit dengan dengkusan kesal. Oh, apa ia sedang bermain drama lagi? Sepertinya ia terlalu menikmati perannya itu!

“Aku dengan Mas Eros ke sini.”

“Oh ya?” Refleks ia menoleh, lengkap dengan suara antusiasnya itu. Apa sebegitu pentingkah?

“Di mana dia sekarang?”

“Lebih awal mana kutanyakan kepedulian istrimu daripada keberadaan Mas Eros?”

Dia beralih ke pintu klub, menghindari tatapanku. Aku hanya tersenyum tipis.

“Kau mau berbicara dengannya?”

Ia mengangguk tanpa berpaling.

“Kau sudah cukup berbicara dengan Mas Eros sejak dulu.” Kujeda sejenak.

“Kau pernah menitipkanku padanya, memintanya menghiburku dan bahkan bukankah kau sudah cukup membuatku jatuh cinta pada orang yang sama meski dengan wujud berbeda?”

Dia mendelik, menoleh padaku, tatapan itu …? Ya, kurasa masih sama. Dia dulu seringkali memanjakanku dengan cinta bahkan tak jarang bisa menemukan ketenangan hanya melalui tatapan itu? Oh tidak, bukan hanya itu, aku bahkan sudah berharap lebih. Diam-diam menabur do’a, semoga kelak menjadi orang yang bisa membangunkannya tiap pagi meski di rumah sederhana sekalipun.

“Aku akan menikah dengan Bella!”

Sebelum kalimat itu yang kemudian benar-benar mematahkannya. Ia memberi keperihan, luka, dan bahkan mengubah ketenangan itu menjadi kebencian? Lengkap dengan caranya memberi undangan sambil menggandeng perempuan lain disertai ucapannya, “Aku harap kau hadir, banyak mantanku yang akan datang.”

Baca juga  Antara Dua Pilihan

Aku tahu, dia bajingan, playboy dan segala hal buruk memang lebih pantas tersematkan di balik wajah tampannya itu. Dia suka mabuk-mabukan, gangster, tapi bodohnya aku malah mencintainya?

Dia menolongku kala itu, dia satu-satunya yang tidak meniduriku meski bermodalkan uang dan yah sejak awal aku memang tidak berharga. Pekerjaan kotor itu yang mempertemukan kami, tapi setidaknya aku tak pernah bermain-main dengan Perasaan, bukan? Aku tak seperti kekasihnya yang ia curhatkan saat malam seharusnya dia menggauliku itu, tentang perempuan yang katanya sudah mengkhianatinya?

“Aku sedang menunggu Bella!”

Ia buru-buru menyela saat aku ingin berbisik dan merapatkan tubuh padanya. Gerakan refleksnya saat menggeser kursi kurasa lebih cocok mendapat hadiah sebagai akting terbaik, dan … cup!

Satu ciuman refleks mendarat di bibirnya, tepatnya ciumanku! Ia mendadak berjengit, menatapku tajam tapi kemudian lagi-lagi menghindari tatapanku.

“Bagaimana kalau membahas tentang kita?”

“Untuk apa? Sudah tak ada kisah di antara kita! Kau istri Eros dan Bella istriku!”

Ia menjawab cepat. Oh, kurasa ciuman itu membuatnya lancar berbicara dan itu bagus karena ia harus bertanggung jawab pada semuanya. Aku benci pada masa lalu yang diam-diam selalu membuntuti harapanku, sementara dia selalu memberi embel-embel nama Bella di dalamnya, padahal jelas nama itu sudah cukup mengkhianatinya di masa lalu, parahnya bahkan menggunakan nama itu untuk membuatku menjauhinya?

“Bellamu itu tak ada, Mas Eros juga tak ada. Hanya ada aku dan kamu. Lihat, ini tempat kenangan kita!”

Aku berujar santai, mata liar menatap ke sekitar. Lampu warna yang menyala sedikit memendar berkelap-kelip. Rak-rak minuman keras berjejer sempurna, lengkap dengan pekerja seks bebas yang tengah berbincang dengan lelaki hidung belang. Itu cerminan kami dulu, tempat dia membuang penat dan sakit, sementara aku membuang jati diri hanya untuk memastikan pengobatan Ibu.

Baca juga  Kenangan di Pendopo Lawas

“Kau pernah menanyaiku di tempat itu dan aku duduk berdiri di dekat kursimu!”

Kutunjuk tempat sedikit berjauhan dari kursinya dan ia tak menanggapinya selain memilih menyulut rokok lagi? Refleks kurebut dan kubuang begitu saja. Aku benci ketergantungannya pada benda bodoh itu. Erangannya sampai terdengar beberapa kali sebelum akhirnya bangkit lalu pergi?

“Hey tunggu! Jangan menghindariku lagi!” Cepat-cepat kukejar tanpa peduli suara dan hentakan kakiku beradu dengan musik dan orang-orang sekitar. Kutarik paksa tapi dia berhasil mengentakkan lengan sampai terlepas. Kakiku sampai sakit karena entakkan keras dari kekesalan itu.

“Vergo, tung—”

Aku tak sempat melanjutkan lagi karena saat bersamaan Mas Eros muncul dari pintu klub dan mereka berpapasan? Kulihat jabat tangan dan pelukan hangat itu sebelum akhirnya kulingkarkan tangan di lengan suamiku. Ia lagi-lagi melihat ke arah lain. Yah, matanya itu memang satu-satunya yang paling jujur!

“Aku masih ada urusan dengan saudaramu, Mas. Boleh aku bicara dengannya?” ucapku lembut meski tatapan tak juga beralih dari Kak Vergo.. Mas Eros hanya mengiyakan meski sempat kurasakan tangannya sedikit mengeras dengan tarikan napas berat. Aku tahu apa yang dia rasakan, tapi bukankah ini sudah kesepakatan?

“Hem … sekarang, ya? Kurasa baik, tapi maaf aku sedang buru-buru, istriku menunggu di rumah. Jadi aku—”

“Mau menghindariku lagi?”

Kupotong cepat dan ia mendelik. Kulepas lengan Mas Eros lalu mendekat padanya.

“Tentu saja tidak. Istriku sedang menunggu,” jawabnya sedikit gugup.

“Istri bohonganmu itu?”

Kali ini aku sudah tak tahan. Dia selalu menolakku berbicara, sekarang biarkan meski itu di depan Mas Eros sendiri!

“Jangan bercanda, Ille. Maaf aku benar-benar harus—”

“Kau dari awal tak pernah menikah!”

Kutekan setiap kata, memotong ucapannya lagi. Aku benci bibir itu mengatakan ke sekian kalinya, sementara semua berbanding 100% dari tatapannya.

Baca juga  Pengalaman Hampir Dibawa Hantu

“Kau sakit!” Aku sudah tak peduli tanggapannya. Tangan-tangan kenyataan itu terlalu mencekal dadaku. Kuat sampai aku harus menekan dada dengan mata memerih.

“Dan itulah alasan sebenarnya kau meninggalkanku dengan menanamkan kebencian lebih dulu!”

“Itu tidak—”

“Kau ingin aku melupakanmu dengan mudah, karena kanker dan vonis hidupmu tak lama lagi!”

“Il-Ille—”

“Kau tidak mau menyakitiku!”

“Raille!”

“Kenapa? Tak perlu berbohong lagi. Mas Eros yang sudah memberitahuku!”

Lelakiku itu menoleh pada Mas Eros, dan … yah, bahkan di saat ia sedemikian mengesalkannya aku masih memanggilnya lelakiku? Lalu tidak berdosakah aku karena semua ini? Bibirku mendadak tersenyum kecut menyebut kata dosa, aku bahkan sudah menciumnya!

“Kau membantu biaya rumah sakit Ibuku, kau memberi aku pekerjaan tanpa harus menjual diri, lalu kau tinggalkanku di saat semuanya menjadi lebih baik?”

Kali ini kami sama-sama terdiam. Cekalan-cekalan itu makin kuat di dadaku. Aku benci keperihan ini, tapi aku lebih benci pada keegoisannya itu. Dia tidak pernah berpikir bahwa membiarkannya sakit sendirian lebih berhasil membunuhku dengan pisau tak kasat mata.

“Sekalipun kau tak menginginkanku lagi, setidaknya jangan membiarkanku menjadi orang jahat dengan kenyataan itu, Kak Vergo!”

Kali ini nadaku sudah pelan bahkan dengan gamblang menyebutnya “Vergo” dan embel-embel kakak? Entah kekuatan apa yang selalu ia punya, dengan menyebutnya dan “Kakak” sudah membuat dadaku tenang sedemikian rupa, menghangat dengan leburan-leburan masa lalu yang seolah menarikku membenci takdir?

“Kemarin kami sudah berbincang sebelum memutuskan menemui Kakak di sini, dan ….

Kujeda sejenak, menarik napas lalu, “Memutuskan untuk merawat kakak sampai bila-bila Tuhan menakdirkan siapa yang lebih dulu dipanggil menghadap-Nya.”

Hening, tak ada jawaban. Hanya suara musik disko dan orang-orang sekitar yang selalu menyusup ke telinga kami. Aku tak tahu apa yang dipikirkannya, tapi detik setelah itu dia menarik napas kemudian pergi meninggalkan kami.

 

Salsa. W

Bukan untuk Pergi 3


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Salsa

   

Saya hanya penulis pemula yang lebih memfokuskan pada Fiksi, karenanya di sini kalian mungkin lebih mendapati karya-karya saya berupa cerpen. Saya menerima masukan dari siapa saja, silakan dm ig @penasalsa bila ada saran perbaikan. Terima kasih

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments