Cerpen   

Air mata Al-Quds


Air mata Al-Quds 1

Sambil berjinjit kuarahkan kamera pada bangunan berkubah di kejauhan. Ledakan kadang terdengar diikuti lengkingan yang bercampur dengan kecaman, meninggalkan puing-puing reruntuhan di sela-sela lemparan senjata dan aroma daging terbakar.

Bisa kupastikan ini akan menjadi berita terhangat minggu ini. Tak sia-sia kukorbankan hari raya dan waktu berharga lainnya. Cepat-cepat kuangkat tanda pengenal sambil mendekat, tentu bila tak ingin jadi sasaran tentara zionis dan sekutunya.

“Allahu akbar ….”

“Subhanallah ….”

“Laa haula ….”

Tak sampai beberapa saat, bocah-bocah kecil tiba-tiba mendahuluiku. Setengah berlari, melempar batu, lalu disusul suara tembakan yang kemudian terdengar dari arah berlawanan.

Mereka mundur beberapa langkah, tapi hanya sesaat karena setelahnya justru kembali dengan lemparan kedua, ke tiga dan entah sudah berapa kali dengan aksi yang sama, sampai-sampai aku merasa telah menemukan narasumber yang pas untuk diwawancarai.

Perlahan dengan pasti, coba kudekati dan mengajak salah satunya pergi, tapi tidak belum apa-apa tangan seseorang sudah tiba-tiba menarikku paksa, menggendong, lalu membawa entah ke mana. Kontan saja kupukul bahunya di sela-sela gendongan itu.

Ia memakai jaket kedokteran dengan tutup wajah berwarna merah dikombinasi hitam, putih, dan hijau, yang mengikuti warna bendera Palestina. Entah dia bagian dari rakyat Palestina atau sekadar dokter sukarelawan di negeri ini, tapi jelas siapapun tak bisa kupercaya. Mendadak makin kukeraskan pukulan. Tak puas, aku mengakhirinya dengan menggunakan camera. Tapi sialnya dia justru dengan mudah merebut kameraku. Ini bahaya, tidak boleh dibiarkan!

Tanpa pikir panjang lagi kupilih menggigit kupingnya yang berdekatan langsung dengan mulutku dan ia mendadak belingsatan. Kugunakan kesempatan itu untuk turun dan kabur, tapi sayangnya ia berhasil menangkap lebih dulu.

“Kau gila?” Tutup wajahnya dilepas lalu digunakan mengelap keringat, tepat setelah menarikku ke tempat agak sedikit jauh dari Masjid Al-Aqsa. Mataku sempat membeliak tapi lantas mendengkus kesal. Itu Revan, untuk apa ia ke sini?

“Kenapa kau ikut? Di sini bukan tempatmu!”

“Di sini juga bukan tempatmu!”

Senyumku mendadak sinis, apa ia hendak berdebat lagi? Dua bulan lalu kami pernah berdebat hal yang sama. Aku ditugaskan mendapatkan fakta terkini dan paling konkret tentang Palestina dan jelas itu alasanku ke sini. Sementara Rev, yang kutahu hanya dibutuhkan lima puluh enam sukarelawan waktu itu, dia menolak. Lalu kenapa dia tiba-tiba berada di sini? Untuk apa ia datang? Menjadi sukarelawankah? Oh no, ia sudah pernah menolak tawaran itu. Tak mungkin tanpa alasan yang lain bukan?

“Kita beda, ini tempatku. Pekerjaanku!”

Aku sedikit mengusap sisa-sisa asap dan debu, meraba keadaan sekitar  untuk mencari-cari camera. Ke mana? Aku harus menemukannya. Aku sudah berdiri dan mencari tiap sudut ruangan. Ini entah ruangan apa, sempit, pengap  dan berdebu, tapi mungkin sedikit aman. Sekalipun aku sendiri sudah tidak tahu, apakah masih ada kata aman di negeri yang sejatinya sudah menghalalkan pembunuhan?

“Aku akan memberikan kameramu asal kau pulang saat ini juga.”

“Hey, bukan urusanmu!”

“Jelas urusanku. Kau tunanganku, aku tak mau kau kenapa-napa.”

“Tapi ini pekerjaanku, kau tak punyak hak melarangku!”

“Itulah sebabnya. Ini lebih pada keikhlasan. Kau tak akan mendapatkan apa pun jika berdasarkan kata pekerjaan. Banyak hal lebih baik jika untuk bekerja. Tak harus jalan ini.”

Aku memilih mengabaikan Rev, jelas saja itu bukan aku. Aku paling benci pada mereka yang tidak bertanggungjawab dan aku tidak mau membenci diri sendiri karena lalai. Masih kutelusuri dan memeriksa dengan membongkar, bahkan sesekali melempar barang yang kurasa menutupi benda kucari, tapi nihil. Di mana Revan menyembunyikannya?

Baca juga  Ayah Membuat Aku Menjadi Lebih Aku!!

“Berhentilah dengan keegoisanmu itu. Kau akan sia-sia!”

Ia memegang lenganku kasar sampai membuatku menatapnya. Lelah itu menari pada  keringat di dahinya, asap-asap hitam dan debu sesekali tertempel pada keningnya diikuti goresan. Apa tadi ia menyelinap melewati api?

“Aku akan membantumu, akan aku kirim fakta di sini kalau perlu beserta videonya.”

“Tidak perlu. Aku bisa sendiri!”

Kukibaskan lengannya. Dia akan berpihak satu di antara mereka. Aku tahu Revan, kata belasungkawa dan tangis yang kadang ia tunjukkan waktu di Indonesia salah satu alasanku. Ia pasti akan memihaknya. Ah, jangan kira aku sebodoh itu!

“Berikan kameraku sekarang, aku harus kembali. Tugasku belum selesai!”

“Tidak, kau harus pulang!”

Aku mendadak menatapnya tajam, darahku makin mendidih. Sejak kapan ia berani mengatur hidupku, hah?

“Kau tidak boleh di sini. Tempatmu Indonesia. Kau—”

“Cukup! Kembalikan …!”

Aku tak bisa menahan pekikan, darahku yang tadi mendidih sudah meluap. Suaraku bahkan cukup memantul di balik ruangan, meninggalkan kegaduhan yang sampai beberapa menit untuk benar-benar hilang dari pantulannya.

Revan seketika terbelalak dengan gerakan cepatnya yang kini menarik dan membekap mulutku, membawa tubuhku bersembunyi di balik salah satu tembok yang sedikit utuh. Suara letusan kini terdengar samar-samar, tapi bercampur suara derap orang bersepatu. Lelaki berseragam tentara dengan moncong tembaknya bahkan kulihat mulai memeriksa bagian ruangan.

Matanya melirik dan seperti siap siaga, membasmi bila sedikit saja serangga tertangkap penglihatannya.
Ia hendak berbalik, tapi tertahan lemparan batu yang langsung membuatnya tersenyum sinis. Matanya berbinar licik seolah baru menemukan mainan baru. Aku mengikuti arah pandangannya.

Di samping puing-puing tembok, ternyata sudah ada bocah kecil yang tadi melemparinya. Tangannya setengah bergetar dengan mata memerah, tubuhnya sudah berlumur debu dan asap. Itu adalah bocah yang ingin kuwawancarai itu, untuk apa ia ke sini? Tidak tahukah artinya itu? Mataku makin melirik pada tentara zionis yang hanya menghindar dan terkekeh mendapati lemparannya.

Baru beberapa saat, setelah ia tidak menghindari lemparan lagi, tangannya menodongkan tembak ke arah bocah kecil itu, dan … dor-dor-dor
Kontan tubuh lincah yang tadi melempar itu ambruk dengan darah mengucur. Aku memekik dengan tubuh bergetar. Ini jelas tidak baik, semuanya sudah biasa, harusnya aku tak perlu takut, bukan?
Kutekan dada yang mendadak panas dan sesak.

Udaranya buruk sekali, tubuhku hendak bangkit setelah dirasa aman tapi entah dari mana, ledakan tiba-tiba terdengar lagi dan saat bangkit kudapati tentara tegap yang tadi menembak itu sudah hangus terbakar dengan sisa bom di sebelahnya. Cepat-cepat aku mendekat tapi lelaki tinggi dengan rambut sedikit pirang berjalan mendahuluiku lalu dengan hati-hati ia mengambil tembak tentara.

Senyumnya mengembang dengan mata berbinar lantas menyelinap lagi, pergi begitu saja sembari membawa senjata. Apa sebegitu bahagiakah bisa membunuh sampai harus sepuas itu? Astaga, nyawa benar-benar terlalu murah di negeri ini.
Aku cepat-cepat pergi setelah memastikan Revan melepas tarikan tapi tak sampai sedetik sesuatu seperti mematuk belakang leherku dan entah apa semuanya tiba-tiba menjadi gelap. _____

“Apaan kau, Rev!”

Aku tak bisa menahan emosi dengan kepala setengah dipijit. Masih pusing, tapi kenyataan aku yang entah di mana jelas lebih memusingkan. Lelaki itu tersenyum. Apa begitu menyenangkannya melihatku harus kalah? Aku mendadak mendengkus.

Baca juga  Di Ujung Lorong Rumah Sakit

Mendekat ke arah pintu keluar, setelah sebelumnya mengambil semua baju yang tertata rapi. Rev menyimpannya dalam tas, rupanya lelaki ini benar-benar sudah siap menghancurkan tanggung jawabku. Tatapanku tajam melihat padanya.

“Kita akan pulang, Vina. Terlalu bahaya.”

“Kau saja yang pulang, aku punya tanggung jawab di sini!”

“Aku bisa menggajimu tanpa harus seperti ini.”

“Ini bukan soal uang. Kau kira uang dan tanggung jawab itu sama, Hah?”

“Okay aku akan bantu, kau bisa dapatkan video dan fakta terkini sesuai yang kau butuhkan. Tapi biarkan orang lain yang melakukannya. Kau tinggal lihat dan minta data-data buktinya.”

“Kau kira aku bodoh, hah? Kau sengaja lebih memihak Palestina kan? Bocah kecil itu memang mati, tapi kau lihat sendiri tentara itu juga mati. Mereka saling membunuh, bukan hanya salah satu di antara mereka. Mereka sama!”

“Kalau kau tahu, kenapa tidak kau tulis seperti itu saja. Lagi pula apa salah aku mendukung sesama muslim?”
Revan sepertinya sudah kelelahan. Lelaki itu bahkan sudah tidak melihat ke arahku lagi.

“Itu hanya fakta yang bahkan tak kutangkap dengan kamera. Aku belum mewancarai mereka.”

“Hey jangan mimpi, itu tak akan pernah. Kau bisa jadi korban!”

“Seperti rakyat Palestina? Lalu tak ada namanya korban bernama Israel?”
Aku mendadak tersenyum, memancing ia yang sudah terlalu menomorsatukan Palestina. Aku lebih suka fakta!

“Israel itu korban holocaust dan tidak punya tempat tinggal. Mereka memilih jalan diplomasi lalu tinggal di Palestina dengan syarat tak akan mengganggu. Tapi lihat, mereka memorakporandakan Palestina, bahkan hendak menjadikan Al-Quds sebagai Ibukotanya. Mereka mengambil kekuasaan secara paksa!”

Aku tersenyum kecut. Apa ia baru saja membuka buku kumpulan sejarah, dan bertanya melalui fakta yang ada di sana? Jika ia, aku bahkan sudah tahu.

Dimulai pada tanggal dua puluh sembilan November  tahun 1997.  PBB mulai membagi wilayah mandat Britania atas Palestina dengan keputusan wilayah untuk Israel lima puluh lima persen sedangkan Palestina empat puluh empat persen. Tentu saja keputusan itu membuat mereka tidak terima, bahkan negara-negara timur seperti Irak, Mesir, Suriah, Lebanon, juga Arab Saudi  tidak terima. mereka menganggap semuanya terlalu memihak pada bangsa Israel. Dan akhirnya mereka ikut membantu dengan mulai menabuh genderang perang yang saat itu berlangsung tepat pada tahun 1998.

Tapi, apa Revan kemudian tahu selain itu? Milik siapa tanah ini sebelumnya? Bila sama-sama berdasarkan sejarah, bahkan sudah tercatat ada hak Israel sebagai keturunan Nabi Ibrahim atas tanah itu.
Dari pernikahannya dengan Sarah, Nabi Ibrahim memiliki keturunan yaitu Ishak yang punya anak Jacob dan Esau. Nabi Jacob atau yang lebih dikenal dengan Yakub kemudian punya dua belas anak, di mana salah satunya nabi Yusuf dan Benyamin. Mereka inilah dua belas suku yang akhirnya menjadi nenek moyang bangsa Israel. Dan bukankah ini secara tak langsung mengartikan ada hak mereka juga jika berdasarkan keturunan dari nenek moyang?

“Vi, apa yang kau pikirkan? Berhentilah berharap, ini akan sia-sia. Aku tak akan melepaskanmu. Biarkan mereka memilikinya dengan caranya sendiri. Do’akan saja semoga semuanya berakhir.”

“Dengan kemenangan Palestina? Apa agamamu benar-benar mengajarkan keburukan itu?”

Revan langsung mendelik menatapku. Wajahnya bahkan mulai memerah dengan tangan terkepal.

Baca juga  10 Hal Yang Akan Terjadi Bila Jepang Menang di Perang Dunia Kedua

“Agamaku agamamu juga!”

“Yah aku tahu, tapi aku tidak seperti kau. Aku masih berdasarkan fakta, apalagi tidak sampai membenarkan pembunuhan berdasarkan agama.”

“Apa maksud kau, jangan pancing emosiku! Aku ke sini tidak untuk berdebat!”

“Jangan pura-pura bodoh. Kau kira semua ini tak ada kaitannya dengan agama, hah?”

Aku tiba-tiba mengambil peta dari saku. Untung lelaki ini ternyata tidak mengambilnya tadi. Kutunjukkan padanya. Peta persegi yang memperlihatkan kota tua di Yerussalem dengan dikelilingi pusat tempat ibadah dan tempat suci paling diingini antar agama.

Di dalamnya, jelas sedang memperlihatkan Masjidil Aqsa, Haram Al-Sharif dan kubah batu yang masuk pada bagian kawasan muslim. Lalu Gereja Makam Kudus pada kawasan Kristen. Gereja St. James di Armenia dan  juga tembok ratapan yang masuk pada bagian kawasan Yahudi. Rev hanya tersenyum saja, dan itu cukup membuatku kembali mendengus kesal. Apa ada yang lucu?

“Bisa jadi itu salah satu alasan ingin saling menguasai. Tapi aku sama sekali tidak melandaskan semuanya berdasarkan siapa penghuni pertama Palestina, atau bahkan berdasarkan agama. Itu sama saja hanya kebohongan  untuk menutupi topeng keinginan berkuasa.”

Ia menjeda kalimatnya, menarik napas lalu melihat padaku lagi.

“Bisa dibilang aku memang mendukung Palestina, tapi itu karena sudah kewajibanku sesama muslim. Tapi kalau kamu mau membahas secara rinci tentang semuanya. Aku lebih suka jika menganalisis kondisi sekarang dengan landasan sejak Era Turki Ustmani. Bukankah permasalahan Palestina hari ini akarnya sejak era Turki Ustmani? Saat Palestina di bawah Turki Utsmani semuanya baik-baik saja. Wujud Palestina, baik itu Yahudi, Islam dan Kristen hidup berdampingan dengan damai. Setelah Turki Utsmani tumbang lihat saja semua itu dimulai.”

“Lagi pun ….”

Revan kembali menjeda kalimat. Menarik napas panjang lantas menghembuskannya perlahan. Tatapannya sudah lekat dan tidak terlihat emosi lagi.

“Jika kita mau mempersoalkan dan bertanya-tanya  siapa sebenarnya nenek moyang negeri ini, Arab atau Yahudi? Sama sekali sudah tidak ada gunanya lagi. Sebagai contoh sama saja di negara kita, apa gunanya menggali permasalahan tentang siapa penduduk asli Indonesia. Apakah orang Yunani yang lebih berhak menghuni Indonesia atau apakah orang Indonesia zaman sekarang? Bukankah bahkan orang-orang Yunanilah yang lebih dulu menghuni tanah Indonesia?”

Kata-kata Rev membuatku makin terdiam. Aku belum tahu banyak tentang Turki Utsmani, tapi yang pasti aku dapat mengetahuinya itu saat di mana perbedaan tidak mengajarkan permusuhan, sekalipun perbedaan adalah modal untuk membeli pisau-pisau kebencian. Saat dimana senyum persaudaraan tidak melihat berdasarkan kitab-kitab dan cara beribadah. Juga saat—
Dorrr ….

Entah dari mana, peluru tiba-tiba melesat ke tubuh Revan. Tubuh lelaki itu ambruk seketika diikuti matanya yang setengah terpejam. Aku berusaha merangkulnya, tapi tertahan suara langkah seseorang. Sekitar lima meter dari tempatku, lengkap dengan senjata dan seragamnya, tentara zionis ternyata sudah berdiri sembari menodongkan tembak, siap memakan mangsanya sekali tembakan. Apa memang saatnya aku ikut terkubur di antara mereka?

Tubuhku tiba-tiba mengeras diikuti mata yang kupejamkan perlahan. Bayangan tempat kokoh berkubah yang porak-poranda itu, tangis dan lengkingan  yang tak juga menemukan akhirnya, lalu tubuh-tubuh meregang nyawa, letusan dan asap-asap mengepul … semuanya seolah jelas berputar-putar memenuhi dinding ingatan. Apa dengan cara seperti ini, semuanya memang akan nyaman pada akhirnya?

 

Salsa. W

Air mata Al-Quds 3


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Salsa

   

Saya hanya penulis pemula yang lebih memfokuskan pada Fiksi, karenanya di sini kalian mungkin lebih mendapati karya-karya saya berupa cerpen. Saya menerima masukan dari siapa saja, silakan dm ig @penasalsa bila ada saran perbaikan. Terima kasih

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments