Cerpen   

Before I Leave


Before I Leave 1

(Kita layaknya matahari dan bulan, sama-sama berada di langit yang sama, tapi tak pernah bersinar dalam satu waktu.)

Dave benar-benar keras kepala, dia bahkan tidak pernah peduli setelah vonis kematian itu ditentukan, dan dengan gamblangnya dia mengatakan mencintaiku? Hey, ucapan konyol macam apa itu? Dia pikir selamanya bisa bertahan dengan gadis yang sebentar lagi menjadi mayat?

“Aku tidak akan bisa marawat kamu, Dave.”

“Aku bukan mencari pembantu!”

“Tapi tetap saja nanti aku akan nyusahin kamu!”

“Itu bagus, setidaknya sebagai laki-laki aku akan merasa dibutuhkan, terlebih oleh perempuan yang aku cintai.”

Dia gila! Benar-benar sudah gila. Si cupid juga tidak pernah berpikir—bagaimana bisa melesatkan panahnya itu pada lelaki seperti Dave. Parahnya panah-panah itu telah meninggalkan lubang-lubang asmara yang telah menjadi sumber keperihannya, dan hal itu hanya bisa disembuhkan dengan selalu bersamaku?

“Jangan konyol, pernikahan bukan main-main, Dave. Tidak cukup bekal cinta saja.”

Kali ini aku berisyarat pada Rasita untuk memutar kursi roda dan membawaku pergi, suster sekaligus sepupuku itu dengan sigap mengerti, hanya tangan Dave lebih dulu menahan.

“Justru itu, karena bukan main-main harusnya kau lebih sadar, El. Aku tak pernah main-main dalam mengambil keputusan, dan ini sudah kupikirkan matang-matang.”

Ia menyudahi ucapannya dengan pelukan tiba-tiba dan tubuhku mendadak meronta, tapi kemudian lebih dipeluknya erat sampai aku tidak bisa memberontak lagi, dan yah … pada akhirnya dia memang selalu menang.

Tak peduli aku bahkan sudah menyiapkan ribuan cara bagaimana menolaknya.
Ia seolah memilki ribuan bantahan balik, lengkap dengan caranya yang memeluk lantas usapan lembut, sampai entah bagaimana selalu saja berakhir rasa menenangkan yang anehnya seolah menuntut untuk dipertahankan? Oh Tuhan … tidak!

Tanganku mendadak mencengkeram kursi roda kuat-kuat sampai Rasita tersadar, buru-buru ia memutar kursi lalu mendorong, tepatnya setelah Dave melepaskan pelukan.

Ia membungkuk begitu kami berada di ruang inap. Tak ada aroma obat-obatan yang cukup menyengat, mungkin karena selama hampir  sepuluh tahun ini aku menghabiskan waktu di rumah sakit, dan semuanya sudah cukup menyatu dengan udara yang terhirup.

“Aku mengikuti saranmu, Ra. Besok, urus semuanya dan pastikan ia tak akan bisa menemuiku lagi.”

Rasita hanya mengangguk, tak membelalak atau sekadar menunjukkan bahwa ia terkejut, jelas saja karena bahkan Rasita yang menyarankan lebih dulu. Tepatnya ia tak tega melihat Dave selalu tertidur di rumah sakit, menungguiku melebihi Mama yang sibuk kerja seharian dengan memindahkanku ke tempat lain?
Ini jahat dan terlampau egois barangkali, tapi biar, bahkan bila harus Dave membenciku. Itu lebih baik daripada harus membiarkannya dengan kebodohan itu.

Baca juga  Ramalan Kehidupan Cinta Ke - 12 Zodiak di Tahun 2020

Dave memiliki keajaiban dalam hidupnya, Tuhan memberinya kesembuhan setelah terapi endoktrin dan pengobatan TCM yang bahkan tak membuatnya harus menjalani operasi berkali-kali.

Jelas berbeda sekali denganku meski hidup kami selalu diawali dengan kisah yang sama, rumah sakit yang sama, dan dalam keadaan yang sama. Terlebih setelah kami akhirnya sama-sama tahu bahwa terlahir sebagai anak yatim, dan Dave hanya memilki ayah sementara aku memiliki Mama. Alhasil ayah Dave sementara menjadi ayahku, dan Mama menjadi ortu perempuan Dave, Dunia berbagi yang mungkin cukup menyenangkan untuk hari teramat berat selama masa pengobatan.

“Aku mau jadi desainer, Dave. Aku yakin bisa membuat pakaian yang bagus. Lihat saja gambar-gambar ini.”

Seraya kosodorkan kertas hasil gambarku itu dan dia mengangguk tanpa melihat, tentu saja karena Dave telah melihatnya jauh-jauh hari. Dave bahkan jadi orang pertama yang menyebutku di antara nama-nama Rapl Lauren, Betsey Johnson, Marc Jacobs, atau jajaran desainer-desainer terkenal lainnya.

“Kalau aku …” Ia berpikir sebentar, pertanyaan tentang cita-cita kini beralih padanya. Barangkali bingung antara menjadi usahawan atau seniman, mengingat sekalipun hobbinya menggambar dan melukis, ia satu-satunya putra usahawan yang diharapkan meneruskan bisnis properti papanya.

“Em … aku mau jadi imam kamu!” jawabnya dengan agak pelan tapi mendadak membuatku terkunci karena tatapannya yang juga lekat. Untunglah sesaat kemudian bisa kualihkan dengan tawa garing.

“Hus, ngawur, sekolah dulu yang bener, jadi orang sukses!”

“Lah, emang seorang Dave malas belajar, ya? Sekalipun hanya melalui homescoling dan lebih sering di rumah sakit, tapi nilaiku tak kalah sama mereka yang pergi ke sekolah secara langsung loh. Awas saja nanti kalau aku sudah sukses, kau harus jadi istriku sampai menua sama-sama.”

Ia menyudahinya dengan ancaman yang kuanggap hanya lelucon belaka, tapi anehnya semua itu seolah jadi janji yang kini selalu ditagihnya?

*****

Tak ada terapi endoktrin, operasi, maupun sekadar pengobatan invasif setelah kepindahanku beberapa hari lalu dari rumah sakit. Hanya pil-pil pahit pengurang rasa sakit dan makanan yang mengandung karetenoid sebagai pencegah kanker, meski jelas hal itu juga sudah tak berguna lagi dan bila dilihat sekilas, mungkin layaknya pil vitamin biasa, lengkap dengan ruangan tanpa bantuan alat apa pun.

Baca juga  Bunglon

“Kau harusnya menepati janjimu. Ella!”

Entah dari mana suara familiar Dave tiba-tiba terdengar diikuti tubuh lelaki itu yang membungkuk lantas meletakkan kertas ke pangkuanku, lengkap dengan pensilnya.

“Buatkan baju pengantin untukku sesuai janjimu!”

Dave seolah tak peduli dengan ketercegangan dan suasana yang ditumbulkan karena kemunculan tiba-tibanya itu, Rasita yang menyusul setelahnya juga hanya menunduk sambil berucap lirih, “Maaf.”

“Kita tak akan menikah jadi tak perlu desain pakaian itu, lagi pun aku tak terbiasa menggambar pakaian pengantin,” elakku merasa terhimpit, jelas karena bahkan ini tak ada dalam kamus perencanaan terakhirku. Sudah cukup aku menjadi beban Mama sampai wanita itu terpaksa mendahuluiku dalam kecelaakaan maut di saat ia bekerja, sekarang tak mungkin pada Dave juga, bukan?

“Tapi aku yang mau menikah, dan kau hanya berjanji akan membuatkan pakaian untukku.” Dia menyudahi dengan memilih bangkit lalu menarik pinggang Rasita.

“Kami akan menikah, jadi bayar janjimu sebelum pergi!”

Seperti hantaman telak, tanpa melihat dua orang itu yang akhirnya keluar, aku bahkan seolah tiba-tiba melihat pernikahan mereka nyata di depan mata, parahnya kata-kata yang sempat kuucapkan bahwa aku akan bahagia bila Dave menemukan pasangannya ternyata tidak sepenuhnya benar, pun hanya rasa sakit karena sesuatu yang seolah tercerabut dalam dadaku. perih dan ….

Ini salah! Harusnya aku bahagia. Meski tak bisa kujawab sendiri mengapa mereka tiba-tiba memutuskan untuk menikah tapi bukankah itu petanda bahwa aku akan lebih tenang ketika benar-benar kembali ke hadapan Tuhan?

Dengan tarikan napas berat, aku akhirnya memilih meraih pensil dan bersiap menggambar. Ini hadiahku buat lelaki itu, anggap saja juga buat Rasita karena mau merawatku selama ini, meski mungkin tepatnya lebih-lebih karena tugasnya sebagai dokter.

“Tak perlu terlalu bagus, aku maunya cepet!”

Kali ini Rasita yang berkomentar, tepat setelah beberapa hari lalu ia bahkan menyerahkan tugas merawatnya pada dokter kepercayaannya. Bisa jadi itu karena ia terlalu sibuk mempersiapkan pernikahan yang menurutku terlampau mendadak itu.

“Aku pastikan selesai membuatnya sebelum benar-benar pergi.”
Rasita membeliak tapi lantas memegang pundakku.

Baca juga  Menunggu Kejelasan Status Dari Seseorang

“Dengar, Ella, aku mau cepet. Besok harus selesai!”

Ia bangkit dan setelahnya terlihat melambai pada Dave yang menunggunya sejak tadi.

Mereka pergi bersama, dan aku hanya memilih melihat pada desain gambar yang hampir selesai kubuat, mengabaikan rasa panas yang mendadak muncul saat mereka bersama?

Itu jelas tidak benar, tapi lebih tidak benar lagi rasanya saat aku kemudian memutuskan untuk menghadiri pernikahan mereka? Dan ya … pada akhirnya aku memang tidak bisa menolak, terlebih setelah dipikir-pikir ini bisa jadi hari terakhirku melihat lelaki itu dan Rasita, lengkap dengan pakaian hasil rancanganku sendiri—yang rasanya terlalu cepat untuk ukuran sebuah pembuatan, karena dua hari setelah kuserahkan hasil gambar, mereka sudah selesai merancangnya jadi nyata.

“Loh apa-apaan ini?”  Tanpa kumengerti Rasita tiba-tiba memakaikan gaun pengantin padaku, lengkap dengan riasannya, saat hendak kutanya ia berujar cepat, “Jangan banyak nanya, nanti kau akan paham setelahnya.”

Lalu ia menuntun ke ruangan berikutnya, dan mataku reflek membeliak melihat sudah ada beberapa orang dan meja kecil seperti tempat akad nikah?

“Kau akan nikah sekarang?” Aku berusaha menyembunyikan sesak yang mulai lagi bermain. Itu jelas di luar rencana karena setahuku pernikahan mereka juga tinggal dua hari lagi.

“Tidak, tapi kau!” katanya langsung membuatku tertawa geli, lelucon apa itu. Jelas-jelas ia akan menikah dengan Dave.

“Kau malah sudah nikah dengan Dave!”

lanjutnya dan sebelum sempat kubantah tangan kekar Dave menarik lalu membawaku dalam pelukannya? Astaga, apa-apaan ini. Cepat-cepat kupaksa lepaskan, tapi Dave makin mempererat sampai-sampai aku merasa sesak dan terbatuk-batuk.

“Are you okay?” Dave cepat melepaskan pelukan lantas memegang kedua bahuku sambil menumpukan kedua lututnya di lantai. Tepatnya barangkali sekadar berusaha sejajar dengan keadaan tubuh cacatku dalam kursi roda.

“Dengar, Ella, ini mungkin tidak akan bisa kamu terima, karena sama saja aku memaksa dan menipumu, tapi aku kini suamimu, tak ada hak untukmu mengusirku dalam kehidupanmu!”

Dave menekan setiap kata tanpa beralih menatapku, lekat dan masih binar yang sama bahkan … salah, itu melebihi binar sebelumnya. Mata itu makin kuat seperti menyihirku untuk tak perlu membantah, meski ribuan bantahan seperti bergumul memenuhi logika berpikirku, tentang dia dan waktu yang sebentar lagi akan membawaku menuju maut?

Salsa. w.

Before I Leave 3


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Salsa

   

Saya hanya penulis pemula yang lebih memfokuskan pada Fiksi, karenanya di sini kalian mungkin lebih mendapati karya-karya saya berupa cerpen. Saya menerima masukan dari siapa saja, silakan dm ig @penasalsa bila ada saran perbaikan. Terima kasih

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments