Cerpen   

Bunglon


Bunglon 1

Benar-benar menyebalkan!  Sudah rambutku kusut karena tidak disisir, wajahku juga pucat tanpa make up, sekarang mobil pribadi yang biasa mengantarku itu tidak ada sama sekali. Kalau bukan karena ingin membuktikan kata-kata Papa, sudah pasti aku marah-marah tak jelas sambil melempar barang sesukanya.

“Lo jalan kaki, Ey?” Cel dan Ennara celingukan ke arah parkir. Keduanya seperti sudah lama menunggu, dan aku sama sekali tidak menanggapi. Memilih duduk sembari melirik meja di sebelah kami. Dessela dan gengnya seperti biasa duduk di sana. Musuh bebuyutan kami itu sepertinya sudah tidak sabar untuk pamer.

“Udah pesan?” Aku bertanya tanpa menjawab.

“Belumlah, kami kan nunggu lo.”

Ucapan Cel disusul lambaiannya pada pramusaji dan sesaat kami sudah saling memesan. Suara Cel dan Ennara sengaja dikeraskan sementara Dessela dan teman-temannya seperti tak mau kalah, ikut mengeraskan suara dan memilih makanan paling mahal, meski ujung-ujungnya aku yakin akan lebih banyak tersisa di piring daripada di perut. Kebiasaan lama kami, hanya untuk menunjukkan siapa yang paling tajir, bedanya kali ini aku tidak ikut-ikutan. Cukup memesan jus alpukat dan chase cake.

“Lo dah kenyang?” Cel dan Ennara menatap bingung. Kutanggapi gelengan kecil dan mereka akhirnya hanya diam, tentu sambil menikmati makanan yang tersaji. Hanya Dessela dan gengnya sesaat berbisik-bisik, membuat Cel dan Ennara hampir saja melabrak, tapi aku lebih dulu berisyarat untuk tak perlu menanggapi.

Baca juga  5 Hal Istimewa Yang Hanya Bisa Kamu Rasakan Jika Memiliki Sosok Sahabat Sejati

“Lo kenapa sih, kok banyak diam?”

Kali ini mereka sudah tidak melirik makanan, barangkali sudah kenyang atau karena bersimpati padaku?

“Em … sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan pada kalian.” Sengaja kugantung kalimat, ragu seperti bermain di dadaku. Entah, tapi aku yakin mereka tidak akan mengecewakanku.

“Papa kena tipu rekan kerjanya, Cel, En. Perusahaan Papa jadi bangrut, bahkan sampai terjebak hutang, dan untuk menutupi hutang-hutang itu rumah kami terpaksa dijual beserta apartemen lainnya, bahkan kami terpaksa tinggal di—”

Aku tak bisa melanjutkan kalimat. Kepala mendadak tertunduk berusaha menegaskan kalimat sebelumnya, sementara mereka diam saja sebelum akhirnya berdehem.

“Jadi maksud lo, lo udah gak punyak apa-apa lagi dan—”

“Makanan ini kalian yang bayarin, ya? Anggap utang juga gak pa-pa. Nanti kalau keadaan membaik lagi pasti aku bayar.”

“Ngutang?” Pekikan mereka mendadak bersamaan sambil menatapku seperti tak percaya. Dessela dan teman-temannya mendadak tertawa, tapi Cel dan Ennara hanya diam tak menanggapi, dan aku sendiri hanya mengangguk sambil menggigit bibir.

“Sorry, Ey. Kita bayar sendiri-sendiri saja.”

Mereka berdiri, meletakkan uang di meja, lantas sama-sama pergi. Aku hendak menahan tapi Dessela lebih dulu memanggil, dan entah bagaimana mereka sudah terlihat akrab sebelum akhirnya pergi bersama?

Baca juga  Touch Love

Itu benar-benar konyol! Cel dan Ennara hanya sahabatku, bukan Dessela!  Mereka selalu sedia diajak shopping, makan bareng bahkan ikutan memusuhi Dessela yang notabenenya dulu permusuhan kami diawali saat menyukai cowok yang sama.

Cel dan Ennara selalu senang libur bersamaku ke luar negeri bila sewaktu-waktu terlalu bosan liburan di Indonesia. Hanya malam itu … saat di mana entah bagaimana aku tiba-tiba merasakan sakit di sekujur tubuh dan Papa yang notabenenya sibuk kerja terpaksa pulang, memilih cuti lalu merawatku. Barangkali karena Papa tidak mau gadis semata wayangnya sendiri, terlebih setelah Mama pergi ke hadapan Tuhan tiga tahun lalu.

“Aku bosan, Pa. Mau jalan-jalan juga sama teman-teman.”

“Tidak bisa, Ey. Bagaimanapun kau masih sakit. Harusnya mereka yang menemuimu. Mereka sudah tau kamu sakit, ‘kan?”

Aku tak menjawab, ucapan Papa terlalu menyebalkan rasanya meski aku tahu itu benar adanya. Sesuatu yang nyaris membuatku tak nyaman dan ….

“Saat mereka butuh apa pun kau selalu sedia membantu, sekarang sekadar menjenguk pun mereka tidak mau?”

Papa seolah menambah ketidaknyamanan di hatiku, lalu entah bagaimana lelaki paruh baya itu berujar, “Teman yang baik itu tidak akan mengambil keuntungan dari kamu. Ia akan ada saat dibutuhkan. Cobalah pilih lebih baik lagi.”

Baca juga  Kutukan Iblis Bersayap Malaikat

Dan puncaknya hari ini. Saat aku dengan sengaja mengajak mereka makan di tempat biasa. Saat seharusnya mereka bisa tetap membelaku, apalagi di depan Dessela yang notabenenya musuh kami, bukan justru meninggalkan tanpa sekadar membantu pembayaran makanan yang dulu biasa kutraktir, bahkan pergi bersama Dessela yang … tidak-tidak. Bisa jadi itu karena mereka tidak bawa uang lebih, dan aku harus lebih membuktikannya lagi.

Esoknya masih kutemui mereka di sekolah, tetapi setelah lelah berputar-putar mencari mereka, dua temanku itu malah tampak  duduk bersama Dessela dan gengnya. Tertawa-tawa sambil makan di kantin?

“Ngapain lo ke sini? Lo udah gak bisa nyukupin kebutuhan kami lagi. Dessela sekarang sobat kami. Ya ‘kan, Cel?”

Ennara melirik Cel yang kemudian disusul anggukan serta senyum sinis dari temanku itu. Senyumku mendadak kecut sebelum akhirnya berganti tarikan napas berat, lalu tanpa ba-bi-bu kuambil minuman  dan menyiramnya ke muka Cel dan Ennara secara bergantian. Dan belum saja mereka sempat membantah aku sudah menyusulnya dengan lemparan koran ke hadapan mereka.

Tak perlu penjelasan apa pun. Koran yang berisi berita kemajuan perusahaan Papa itu sudah cukup menjelaskan bahwa Eyfina Sastrowidojo tetaplah gadis yang sama. Hanya bedanya bukan lagi menjadi teman dua gadis matre yang notabenenya ingin mengambil keuntungan saja.

Salsa. W

Bunglon 3


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Salsa

   

Saya hanya penulis pemula yang lebih memfokuskan pada Fiksi, karenanya di sini kalian mungkin lebih mendapati karya-karya saya berupa cerpen. Saya menerima masukan dari siapa saja, silakan dm ig @penasalsa bila ada saran perbaikan. Terima kasih

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments