Cerpen   

Claudia


Claudia 1

“ Claudia jangan jauh-jauh nak, disini saja.”

Veronika mencoba menghentikan anaknya yang hendak menyeberang jalan.

“ Disini kita tak dapat apa-apa bu, aku akan mencoba di sebelah sana, ibu tunggu disini, aku akan segera kembali.”

“ Baiklah nak, berhati-hatilah, segeralah kembali, ibu menunggumu disini.”

Kaki-kaki kecil berlari menyeberangi jalanan yang sepi, berkali-kali ia berjongkok mengais tumpukan-tumpukan sampah.

“ ah dapat.”

Ia berteriak kecil, matanya berbinar, bibirnya tersenyum. Tangannya memegang erat sebuah bungkusan, ia berlari kembali menemui ibunya.

“ Bu, ibu aku dapat, ini bu.!”

Ia berteriak girang sambil menyodorkan bungkusan itu kepada ibunya.

“ coba ibu lihat ya, mudah-mudahan masih bisa dimakan.”

Veronika membuka bungkusan itu dengan hati-hati. Claudia menunggu dengan perasaan cemas.

“ Puji Tuhan nak, masih bisa dimakan, ambil nak, makanlah.”

Dengan semangat Claudia meraih bungkusan itu.

“ Sini bu, kita makan bersama ya, ini sangat enak bu.”

“Tidak nak, ibu masih kenyang, kamu makan ya? Jangan lupa berdoa dulu.”

“ Bu, jangan bohong, ibu juga lapar kan? Ayo kita makan bersama ya, ini memang tak banyak tetapi aku ingin berbagi bersama ibu, kalau ibu tidak mau makan aku juga tidak akan makan bu, ayo bu.”

Claudia menarik tangan ibunya, membawanya duduk di bawah pohon

“ Disini saja ya bu, lebih sejuk, ayo duduk bu.”

Baca juga  Semuanya Masih Abu-abu

Veronika tak lagi membantah, ia menuruti perkataan anaknya. Keduanya duduk dan makan bersama. Meskipun hanya sisa nasi tanpa lauk namun itu sudah lebih dari cukup. Mereka sangat bersyukur.

“ Bu, sebenarnya ayah ada dimana?”

Tiba-tiba Claudia bertanya. Veronika sudah tidak kaget lagi dengan pertanyaan Claudia, karena bukan baru sekali Claudia menanyakan tentang ayahnya.

“ Ayahmu pergi merantau nak, suatu saat ayahmu pasti akan pulang, bersabarlah nak.”

Masih dengan jawaban yang sama, Veronika tak punya jawaban lain lagi. Inilah yang selalu dikatakannya kepada Claudia ketika Claudia menanyakan ayahnya. Biasanya Claudia diam mendengar jawaban ibunya, namun tidak untuk kali ini.

“ Ibu bohong kan? Aku sering melihat ibu menangis setelah menjawab pertanyaanku. Katakan yang sebenarnya ibu, usiaku sudh 8 tahun, aku harus tahu dimana ayahku bu.”

Veronika terdiam untuk beberapa saat, Ia menatap wajah putrinya, ada rasa bersalah di dalam hatinya, selama ini ia telah membohongi Claudia. Bukan tanpa alasan ia melakukan itu, ia tak ingin Claudia membenci ayahnya jika tahu yang sebenarnya, karena bagaimanapun juga ayah tetaplah ayah bagaimanapun keadaannya.

“ Bu, jawab bu, aku janji aku akan percaya kepada ibu dan tidak akan bertanya tentang ayah lagi jika ibu mau mengatakan yang sebenarnya.”

“Claudia, maafkan ibu nak, ibu terpaksa membohongimu selama ini, apapun yang akan kamu dengar nanti berjanjilah kamu tidak boleh membenci ayahmu nak.”

Baca juga  Before I Leave

“ Aku janji bu, seperti yang selalu ibu bilang Tuhan akan marah kepadaku jika aku tak mendengarkan perkataan ibu. Aku tidak  mau membuat Tuhan marah. Aku janji bu.”

Veronika tersenyum, menyembunyikan rasa sakit di dalam hatinya, ada rasa sesak di dada, namun ia mencoba untuk tetap tenang.

“ Claudia, dengarkan baik-baik nak, ayahmu tinggal tak jauh dari rumah kita, ayahmu sudah bahagia bersama keluarga barunya.”

Claudia menunduk, terdiam sesaat kemudian bertanya lagi

“ Kenapa ayah meninggalkan kita bu? Apakah ibu mengusir ayah?”

“ Tidak nak, ibu tidak pernah mengusir ayahmu, ibu bahkan tak pernah memarahinya, ayahmu sendiri yang ingin pergi.”

“ Tapi kenapa bu? Kenapa ayah memilih pergi meninggalkan kita? Apa ayah tak sayang padaku dan ibu?”

“ Ayahmu sangat menyanyangimu nak, ayah hanya tak sanggup hidup dalam kesusahan, ayah lelah bersabar dan akhirnya menyerah lalu pergi.”

Veronika tak mampu menahan airmatanya lagi, disaat yang sama, airmata Claudia mengalir deras

“ Aku tak membenci ayah bu, aku hanya merasa sedih, seharusnya ayah tidak meninggalkan kita bu, jadi aku bisa menemani ibu di rumah dan membantu ibu memasak sementara ayah bekerja. Andai saja ayah tidak meninggalkan kita pasti kita tidak akan makan dari tempat sampah bu, katakan dimana ayah bu aku ingin bertemu aku hanya ingin meminta sepiring nasi lengkap dengan lauknya, setelah itu aku janji tidak akan meminta lagi, aku tidak akan membenci ayah bu.”

Baca juga  Hujan Tidak Pernah Mengeluh

Claudia memohon di tengah isak tangisnya. Veronika merangkul  tubuh mungil putrinya mencoaba menenangkannya.

“ Bersabarlah nak, ibu janji akan membahagiakanmu, ibu akan memberikanmu sepiring nasi bahkan lebih, lengkap dengan lauknya, Claudia harus percaya bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita terus-menerus menderita, Tuhan tahu apa yang kita butuhan dan Tuhan akan menjawab doa-doa kita tepat pada waktunya. Claudia harus  terus berdoa, jangan menyerah ketika Tuhan belum memberikan apa yang kita minta, Claudia harus bersabar, ibu yakin suatu saat nati Tuhan akan mengabulkan permohonan kita. Claudia anak pintar, ibu yakin Claudia bisa memahami kata-kata ibu.”

“ Ibu,,maafkan aku, aku janji akan selalu mendengarkan perkataan ibu, aku tidak akan menyerah bu, aku akan terus berdoa dan berjuang bersama ibu. Ketika tiba saatnya Tuhan mengabulkan permohonanku, aku akan mencari dan menemui ayah, aku akan bilang pada ayah bahwa ayah salah memutuskan untuk pergi, padahal ayah hanya perlu bersabar dan terus berjuang dan Tuhan pasti akan memberikan apa yang ayah minta. Terima kasih ibu, aku sayang ibu, aku juga sayang ayah.”

“ Terima kasih Claudiaku, ibu bangga memilikimu.”

Claudia 3


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Emilie Beribe

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments