Cerpen   

Mawar Untuk Laura


Mawar Untuk Laura 1

“ Ray, jangan lupa hari ini ada meeting penting, aku menunggumu di kantorku.”

Patrick berkata sambil berjalan keluar dari ruangan Ray. Patrick adalah sepupu Ray, mereka adalah anak muda yang sukses membangun bisnis tanpa mengandalkan kekayaan orangtua mereka. Ray membereskan pekerjaannya dan bersiap pulang ke rumah. Baru saja ia melangkah keluar ruangannya ponselnya berdering.

“ Hallo sayang, “

Terdengar suara lembut seorang wanita

“ Hallo bidadariku, ada apa sayang, aku baru saja mau pulang.”  Jawab Ray sambil berjalan menuju ke luar kantornya.

“ aku hanya ingin mendengar suaramu sayang, dan memastikan bahwa kamu baik-baik saja.”

“ aku baik-baik saja sayang, jangan khawatir, aku akan menelponmu setelah tiba di rumah, OK?”

“ baiklah sayang, hati-hati di jalan.”

“ tentu bidadariku, sampai nanti ya, dahhh.”

Laura, wanita yang baru saja menelpon Ray adalah kekasih Ray. Ia tinggal di kota yang berbeda dengan jarak yang cukup jauh. Ray telah menjalin hubungan jarak jauh dengan Laura selama 2 tahun, dan selama 2 tahun itu mereka belum pernah bertemu sama sekali. Laura adalah seorang dokter di sebuah rumah sakit ternama. Hubungan mereka mendapat dukungan yang baik dari keluarga mereka. Memang tak mudah menjalin hubungan jarak jauh, ada suka namun juga ada duka. Seingkali mereka menghadapi tantangan namun keduanya berhasil melewatinya sejauh ini. Sesuai rencana bulan depan Ray akan bertunangan dengan Laura. Ray sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk acara lamaran nanti. Dibantu oleh Patrick sepupunya Ray sudah merencanakan sebuah kejutan untuk Laura kekasihnya.

Keesokaan harinya Ray berangkat ke kantor Patrick untuk menghadiri sebuah pertemuan penting.

“ morning, sorry bro aku terlambat lagi, tapi kan belum mulai juga.”

Ucap Ray ketika bertemu Patrick yang sudah menunggu di depan kantornya

“ aku tidak heran lagi karena terlambat sudah jadi kebiasaanmu, ya iyalah belum mulai masih menunggu kamu. Ayo cepat masuk.”

Baca juga  Air mata Al-Quds

Ray tertawa lalu berjalan mengikuti Patrick menuju ke dalam kantor . Meeting ini hanya dihadiri oleh mereka berdua dan 3 orang pegawai Patrick. Sebelum masuk ke ruangan meeting Patrick mengajak Ray masuk ke ruangannya. Di dalam ruangan Patrick terlihat sebuah kotak hadiah yang lumayan besar dan buket bunga mawar.

“ coba lihat, apakah ini cukup? Aku sudah menyiapkan sesuai permintaanmu. Laura pasti akan sangat senang .”

Patrick berkata smbil menunjukan bungkusan hadiah dan buket mawar kepada ray. Rupanya Ray meminta tolong kepada Patrick untuk menyiapkan hadiah ulang tahun untuk Laura.

“ sempurna, thank you bro,kamu memang selalu bisa diandalkan.” Jawab Ray sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.”

“ yah, yah, yah aku memang hebat. Aku akan menyuruh orang untuk mengantarkannya besok.” Balas Patrick sambil tertawa

Patrick lalu mengajak Ray ke ruang meeting.

********

Cuaca hari ini tak tidak seperti biasanya, langit yang cerah tiba-tiba menjadi gelap, lalu rintik-rintik hujan perlahan turun. Laura baru saja tiba di rumah sakit tempat ia bekerja. Ia kelihatan sangat terburu-buru.

“ selamat pagi, dokter Laura kan?” tiba-tiba seorang pria berjas lengkap dengan kacamata hitanm menghadangnya, membuatnya kaget dan hampir menabrak pria tersebut.

“ eh,, iya benar, saya Laura, anda siapa?” jawab Laura sedikit gugup karena kaget.

“ saya Edward, saya membawa titipan untuk anda.” pria itu berkata sambil membungkukan badannya, kelihatan bahwa pria ini sangat sopan.

“ titipan? Titipan apa dan dari siapa?” selidik Laura

“ dari tuan Ray Timothy, selamat ulang tahun dokter Laura Eugenia.” Pria tersebut menyerahkan bungkusan hadiah dan buket bunga mawar kepada Laura sambil tersenyum. Laura kaget bercampur bahagia, sungguh ia tak ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya. Ia segera mengambilnya lalu mengucapkan terima kasih kepada pria tersebut. Ia berlari kecil menuju ke ruangannya, meletakan hadiah tersebut di atas meja lalu menelpon Ray

Baca juga  Selamat Hari Kasih Sayang

“ hallo sayang,”

“ sayang, terima kasih utuk kado ulang tahun ini, terima kasih bunganya, aku sangat menyukai mawar.” Ucap Laura sambil mencium mawar pemberian Ray

“ selamat ulang tahun Lauraku, cintaku, selamat ulang tahun calon nyonya Ray Timothy, terima kasih masih bertahan sejauh ini sayang, aku mencintaimu bidadariku.”

Mata Laura berkaca-kaca, ia sangat bahagia dan terharu, ia sangat beruntung memiliki Ray, bagaimana tidak, Ray sangat mencintai dan menghormatinya.

Hari yang dinantikan telah tiba, hari pertunangan Ray dan Laura. Ray bersama keluarganya sedang bersiap-siap menuju ke  kota tempat tinggal Laura. Acara pertunangan akan dilangsungkan di rumah Laura dan hanya akan dihadiri oleh keluarga dekat mereka. Semua persiapan sudah beres, dan Ray berangkat terlebih dahulu untuk memberikan kejutan kecil untuk Laura sesuai yang direncanakannya bersama Patrick.

“ bro, aku duluan ya, “ pamitnya kepada Patrick.

“baiklah, hati-hati ya, jangan ngebut.” Pesan Patrick

Ray membawa seikat mawar merah masuk ke dalam mobilnya lalu berangkat. Selang 1 jam kemudian ketika Patrick sedang bersiap menuju ke mobil bersama keluarga Ray untuk menyusul Ray, tiba-tiba ponselnya berdering.

“ telpon dari Ray, mungkin dia sudah tiba, batinnya.” Ia segera menjawab telponnya

“ hallo Ray, apa kamu sudah tiba?”

“ Hallo? Maaf apakah and mengenal saudara Ray Timothy?” tersengar suara wanita menjawab dari seberang.

“ iya, saya mengenalnya, anda siapa? Dimana Ray? “ tiba-tiba perasaan Patrick jadi gelisah

“ Saudara Ray mengalami kecelakaan, dan sekarang sedang berada di rumah sakit, kondisinya kritis, tolong segera datang.”

Deg, jantung Patrick seakanberhenti berdentak, ia segera mennanyakan alamat rumah sakit tempat dirawat dan segera berangkat kesana. Karena terburu-buru dia lupa memberitahukan kepada keluarga Ray. Setelah hampir 1 jam tibalah Patrick di rumah sakit tersebut. Ia memarkirkan  mobilnya lalu setengah berlari menuju ke IGD,. Ia sangat terpukul meliha kondisi Ray.

Baca juga  Kenangan di Pendopo Lawas

“ Ray, ini aku Patrick, apakah kau mendengarku? Bertahanlah Ray, aku mohon.”

Patrick memegang tangan Ray mencoba untuk menguatkan Ray

“ bro,,,,ma..maafkan,,aku,, aku…. ti…tidak..kuat.. tolong… mawar di mo,,,mobilku, berikan..kepada Laura…ka…katakan kepadanya,,,aku..minta…ma..maaf..katakan…ak…uu mencintainya.”

Ray menghembuskan napas terakhirnya di hadapan Patrick. Patrick berteriak histeris, panik,. Ia segera menelpon keluarga Ray juga Laura. Ketika semuanya tiba, Patrick terlihat berdiri mematung, diam di sudut ruangan, airmatanya mengalir deras. Semuanya histeris, menangis melihat Ray yang terbaring kaku tanpa suara, termasuk Laura. Ia sangat terpukul, tak sanggup menerima kenyataan itu. Hari dimana ia harus bertunangan dengan kekasihnya, akhirnya menjadi hari perpisahan mereka. Betapa takdir terlalu kejam merenggut kebahagiaan yang sedang bersemi. Laura terduduk lemas di atas kursi tepat disamping jasad ray. Patrick datang menghampirinya.

“ Laura..” Laura monoleh ke arah Patrick, airmatanya mengalir deras

“ Patrick,,,mengapa? Mengapa semua ini..” Laura tak mampu meneruskan kata-katanya, ia menutupi wajahnya lalu menangis .

Patrick mendekatinya, ia berusaha tegar di hadapan Laura untuk menguatkan Laura. Laura menatap Patrick, namun airmatanya teap mengalir, ia terisak pilu.

“ Ray menitipkan ini kepadamu, ia minta maaf, ia sangat mencintaimu, ini adalah pesan terakhirnya untukmu sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya.”

Patrick berkata sambil memberikan seikat mawar merah untuk Laura. Mawar merah yang dibeli oleh Ray, sebagai kejutan manis untuk Laura di hari pertunangan mereka, kini menjadi saksi perpisahan mereka. Sungguh sakit dan hancur, Laura terlihat menerima mawar itu dengan tangan gemetar,mencium mawar itu, lalu tangisnya pecah lagi, tangisan pilu kesedihan yang amat mendalam, kehilangan kekasih yang tercinta. Tinggal kenangan yang tersisa, sungguh kejam kenyataan ini, namun tak ada yang bisa melawan takdir.

Mawar Untuk Laura 3


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Emilie Beribe

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments