Cerpen   

Salah Siapa


Salah Siapa 1

“ Kristina, apakah kamu sudah memikirkan baik-baik keputusanmu? Ayah tidak ingin kamu menyesal nanti, ayah ingin kamu melanjutkan pendidikanmu ke perguruan tinggi.”

David mencoba membujuk putrinya.

“ Tidak ayah, keputusanku sudah bulat, aku akan menikah dengan Mario, ayah jangan khawatir Mario adalah pria yang sangat baik dan bertanggungjawab, aku yakin aku akan bahagia bersamanya ayah, tolong jangan paksa aku untuk kuliah.”

Kristina menjawab dengan wajah cemberut, ia menunduk lalu mulai menanngis. David mendekati putrinya.

“ Sudahlah nak jangan menangis lagi, ayah hanya ingin memastikan saja, ayah sangat ingin kamu melanjutkan pendidikanmu tetapi jika keputusanmu sudah bulat ayah akan menuruti kemauanmu.”

“ Sungguh ayah? Ayah tidak marah? Terima kasih ayah.”

Kristina melonjak kegirangan, ia sangat bahagia karena sebentar lagi ia akan menikah dengan Mario kekasihnya.. David menghela nafas panjang, sungguh di dalam hatinya ia sangat ingin putri semata wayangnya melanjutkan pendidikan namun ia tak bisa berbuat apa-apa lagi, putrinya sangat keras kepala. David tak tega memarahinya apalagi sampai membatalkan rencana pernikahannya mengingat Kristina telah kehilangan sosok seorang ibu sejak ia masih kecil . Ia terpaksa memenuhi kemauan putrinya.

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, hari pernikahan Kristina dan Mario. Acara pernikahan mereka sangat mewah dan dihadiri banyak tamu undangan. Mario adalah putra tunggal dari sebuah keluarga kaya dan terpandang, begitu pula Kristina yang juga berasal dari keluarga terpandang. Acara pernikahan berjalan lancar sampai selesai. Kristina terlihat sangat bahagia, ia berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada ayahnya.

Setelah acara pernikahan Kristina tinggal bersama Mario di rumah mertuanya. Hari demi hari dilalui dengan penuh kebahagiaan. David sesekali datang menengok putrinya begitu pula Kristina juga sering menengok ayahnya. Pernikahan Mario dan kristina sudah berjalan 6 bulan.  Hingga pada suatu hari Kristina merasakan ada yang berbeda. Akhir-akhir ini Mario sering terlambat pulang kantor, awalnya Kristina diam saja, ia berpikir mungkin suaminya sedang banyak pekerjaan, tetapi lama kelamaan Kistina menjadi curiga.

“ Kamu darimana saja? Kenapa baru pulang,? Ini sudah larut malam.”

Baca juga  Before I Leave

“ Diam kamu !!jangan banyak tanya.” Bentak Mario

Kristina terkejut, tubuhnya gemetar seketika,ia ketakutan tiba-tiba airmatanya mengalir deras. Ia tak pernah menyangka suaminya akan membentaknya, Mario yang lembut dan penyayang seketika berubah menjadi pria kasar dan pemarah.

“ Kamu membentakku? Mario, aku sudah sangat sabar menghadapi sikapmu yang berubah menjadi aneh, aku berusaha mengerti tetapi kali ini aku tak tahan lagi jadi aku behak bertanya karena aku adalah istrimu.”

Kristina berkata sambil terisak pelan,

“ Diam kamu, sebelum kutampar mulutmu, aku ingin istirahat, jangan ganggu aku dengan pertanyaan bodohmu, mau dari mana dengan siapa itu urusanku, sudah kubilang dari awal aku belum siap menikah tetapi kamu terus memaksaku utuk segera menikahimu, aku masih ingin bebas Kristina !”

Betapa sakitnya hati Kristina, airmatanya mengalir semakin deras, ia terduduk lemas di sudut kamar sambil terisak pelan, ia berusaha menguatkan hatinya, terbayang wajah ayahnya membuat hatinya semakin sakit, airmatanya tak berhenti mengalir. Meskipun begitu Kristina berusaha sabar, ia berharap suaminya akan berubah.

Keesokan harinya seperti biasa Kristina menyiapkan segala kebutuhan suaminya untuk ke kantor. Mario bersikap seperti biasa namun ia sama sekali tidak berbicara dengan Kristina. Berusaha menutupi semuanya di hadapan orangtua Mario, Kristina tetap tersenyum dan melakukan pekerjaan rumah seperti biasa. Ia terlihat tetap bersemangat menyiapkan sarapan pagi. Ayah dan ibu mertuanya juga suaminya sudah siap di meja makan untuk menikmati sarapan.

“ Mario, Kristina, hari ini ayah dan ibu akan berangkat ke luar kota selama 2 minggu, kalian baik-baik di rumah ya?”

Suara ayah Mario memecah keheningan.

“ Baik ayah.”

Mario dan Kristina kompak menjawab, keduanya sempat saling berpandangan lalu Mario kembali melanjutkan makannya. Setelah orangtua Mario berngkat Mario masuk ke kamar lalu membereskan pakaiannya dan bersiap untuk pergi. Tak lama kemudia Kristina menyusul ke kamar.

“ Mau kemana kamu? Kenapa bawa koper?.”

Baru bertanya tetapi airmata ristina sudah mengalir

“ kemana saja aku mau, aku bosan di rumah.”

Baca juga  Semuanya Masih Abu-abu

Mario menjawab datar.

“ Kamu mau meninggalkanku Mario? Kamu tega, kenapa kamu begitu kejam kepadaku?”

“ Kristina, aku hanya ingin berlibur bersama teman-temanku, tolong jangan melarang aku melakukan apapun yang aku mau, aku bosan mendengar ocehanmu, “

Mario terlihat semakin kesal dan marah.

“Tapi aku ini istrimu, aku berhak tahu kemana kamu pergi, kenapa kamu berubah seperti ini? Kamu bukan Mario yang dulu aku kenal.”

“ Dengar baik-baik Kristina, aku masuh ingin bebas, kamu tidki berhak tahu kemana aku peri, berhenti mengurusi urusnku, akun bosan denganmu.”

Mario menjawab dengan tegas sambil berjalan ke luar kamar membaw kopernya. Kristina berlari menghadangnya di depan pintu.

“ Jangan pergi Mario, apa kamu tidak kasihan kepadaku? Apa kamu tidak mencintaiku lagi? Kamu jahat Mario,! Kamu jahat!!”

Plak,,,!!!!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Karistina, Kristina terkejut,megelus pipinya lalu berjalan mundur membiarkan Mario keluar. Kali ini tak ada airmata lagi, namun terlihat jelas wajah Kristina menahan amarah. Setelah Mario pergi, Kristina menelepon ayahnya.

“ Hallo ayah, apakah ayah bisa datang kesini sekarang?”

“Baiklah nak, ayah segera kesana.”

Tangis Kristina pecah ketika ayahnya datang, ia lalu berlari memeluk ayahnya.

“ Ada apa sayang, ayo kita masuk dulu, kita bicara di dalam ya.”

David memeluk putrinya mencoba menenangkannya dan membawanya masuk ke dalam rumah.

“Maafkan aku ayah, silahkan duduk, akan kubuatkan kopi untuk ayah.”

“ Tidak usah nak, ayah sudah tak mengopi lagi, berikan saja segelas air untuk ayah.”

Kristina mennuju ke dapur mengambilkan segelas air untuk ayahnya.

Setelah terdiam beberapa saat, David mulai berbicara.

“ Putriku, apa yang sebenarnya terjadi? Dimana suamimu dan mertuamu?”

“ Ayah dan ibu mertua ke luar kota yah.” Jawab Kristina sambil menunduk

“ Lalu dimana suamimu?”

Kristin terdiam,lalu terdengar isak tangisnya, airmatnya mengalir deras. David mendekati putrinya lalu merangkulnya.

“ Nak, ceritakan kepada ayah, apa yang telah terjadi, dimana suamimu?”

“ Mario pergi ayah, aku tak tahu dia pergi kemana, ayah,,,,maafkan aku, seharusnya aku mendengar kata-kata ayah, Mario tak sebaik yang kukira, sikapnya berubah setelah kami menikah, ia sangat kasar, ia bahkan menamparku, ayah,,tolong bawa aku pulang, aku tak kuat tinggal bersamanya.”

Baca juga  [Puisi] Syair Rindu Untuk Ayah

Untuk beberapa saat David terdiam, sambil mengelus rambut putrinya.

“Putriku, ayah tak menyangka suamimu berubah seperti ini, sebagai seorang ayah tentu saja ayah marah, ayah juga merasakan apa yang kamu rasakan, tetapi kamu tidak boleh mengambil keputusan disaat seperti ini, disaat kamu marah, sakit hati dan kecewa. Kamu harus menenangkan pikiranmu terlebih dahulu . Bagaimanapun juga Mario adalah pilihanmu, ppernikahan bukanlah sebuah permainan, seberat apapun masalah yang menimpa rumahtanggamu, kamu harus banyak sabar dan berdoa, jangan mudah menyerah. Perpisahan bukan sau-satunya cara menyelesaikan masalah ini. Cobalah untuk membicarakan ini dengan suamimu.”

“ Tapi ayah, aku sudah mencoba berbicara dengannya, dia malah menamparku, aku marah dan diapun marah lalu pergi, aku ingin pulang, bawa aku kembali bersama ayah.”

Wajah Kristina terlihat kesal.

“ Membawamu kembali tidak semudah ini sayang, percayalah jika kamu terus berusaha ayah yakin Mario akan kembali seperti Mario yang dulu. Jika dia sedang marah, jangan kamu melawan dengan amarah juga, jika begitu kalian tidak akan bisa menemukan jalan keluarnya. Ibarat api yang hanya bisa dipadamkan dengan air, salah satu diantara kalian harus mengalah dan menjadi seperti air yang menyejukan. Tak ada oangtua yang bahagia melihat anaknya tak bahagia, ayah bukan tak mau membawamu pulang tetapi ayah ingin kamu lebih banyak bersabar dan belajar menjadi istri yang baik. Tak peduli apapun hasilnya cobalah untuk menyelesaikan masalah kalian dengan tenang. Kamu lebih tahu bagaimana karakter Mario, ayah yakin kamu akan menemukan solusinya.”

Kristina tertunduk diam, tangisnya sudah reda. Ia menatap wajah ayahnya lalu tersenyum

“ Baiklah ayah, aku akan menuruti kata-kata ayah, aku akan berjuang untuk menemukan solusi, maafkan aku ayah, aku mencintai ayah.”

“ Ayah akan selalu mendoakanmu nak, “ ucap David sambil memeluk putrinya dan berpamitan.

Salah Siapa 3


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Emilie Beribe

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments