Cerpen   

Semuanya Masih Abu-abu


Semuanya Masih Abu-abu 1

[Adakah adat yang tidak memaksa? Sementara ia hadir di balik tali-tali keterpaksaan]

“Ini adat, jangan membantah. Pamali!”
Senyumku mendadak kecut, keputusan itu tetap sama. Tak akan menikah dengan Bang Fariz, tapi apa kata Ayah tadi? Pamali? Ah, lelucon dari mana itu?

“Pokoknya besok kau sudah harus siap, tak ada alasan. Apa pun itu!”

“Lili tak peduli, apa pun itu Lili mau kuliah!”

“Kamu ….”

Tangan Ayah mendadak terangkat dengan wajahnya yang sudah memerah. Aku tak melawan, hanya mata yang kupejamkan.

Tapi tak ada, kenapa tangan itu tak menyentuh pipiku dengan tamparannya? Apa aku saja yang salah mengartikan tentang gerakan Ayah tadi?
Perlahan mataku sudah terbuka lagi, tapi hanya sekilas, karena setelahnya mendadak terpejam saat mendapati Ibu ternyata tengah mendekap tangan Ayah. Matanya berkaca-kaca dengan pandangan kosong.

Tanpa berkata apa-apa lagi, aku lantas berbalik dan pergi. Ini terlalu menyakitkan jika wanita itu yang ikut campur, tumpuki aku dengan masalah, cekal ia dengan sesak karena luka, tapi jangan sampai ada air mata dari perempuan yang melahirkanku ini.

“Lili ….”

Suara disertai usapan lembut pada rambutku membuyarkan lamunan. Tepat di sampingku, Ibu tenyata tengah duduk sembari menatapku, pipinya masih sedikit basah, mungkin karena air mata yang tadi mengalir dari netranya. Entah sejak kapan Ibu masuk kamar, tapi pikiranku yang mungkin sudah memecah kesadaranku tadi.

“Kau tak suka berjodoh dengan Fariz?”

Usapannya masih lembut, aku memilih ikutan duduk dengan tegak.

“Bukan hanya pada Bang Fariz, Bu. Pada siapapun Lili tidak mau, Lili belum siap. Lili masih ingin kuliah, meraih cita-cita Lili.”

“Tapi ini adat, Nduk. Menjodohkan anak berumur di atas tujuh belas tahun. Ini keharusan.”

“Lili tahu, pamali dan akibatnya tak akan dapat jodoh. Itu bukan? Lili bukan orang baru di desa kita, Bu. Lili tahu semuanya dan Lili hargai itu, tapi bukan berarti Lili membenarkan semuanya. Lili tak percaya!”

Nadaku makin tinggi dengan tatapan sudah berpindah pada lemari di samping ranjang. Aku tak mau menatap wajah Ibu, mata itu memiliki magnet kuat yang bisa menarikku pada keinginan untuk menangis dan mengalah. Tak ada yang bisa menghentikannya bila sudah harus berurusan dengan tatapan Ibu. Dan kini, menghindar adalah pilihan terbaik!

“Ibu paham, tapi ibu saat ini ingin Lili segera menikah. Jangan jadi orang lain dengan mengecewakan ibu. Ibu sudah cukup kecewa karena perkataanmu tadi pada ayahmu.”

Pelan tapi semuanya terdengar lebih memekakkan. Telingaku bahkan harus siap terkubur bersama ketulian. Oh, apa yang baru saja aku lakukan? Apa aku sudah benar-benar mengecewakannya? Ini memang bukan Lili, Ibu, tapi orang lain yang sedang egois, meski Lili sendiri tidak tahu apa arti egois bila berdasarkan kamus permasalahan kita.

Baca juga  Salah Siapa

“Kau tahu? Ibu ingin seperti yang lainnya, melihat anaknya segera menikah.”

Aku memilih diam, apalagi yang ingin Ibu ucapkan? Apakah benang-benang kerumitan itu belum cukup setelah perkataannya tadi? Aku ingin meraih cita-cita, mengubah anggapan kepercayaan di desa kami bahwa perempuan hanya bisa di dapur, di sumur, dan di kasur.

Setidaknya kelak dengan menjadi dokter, kata itu tidak terlalu dibenarkan, meski aku sendiri tidak yakin seratus persen, karena bila sudah ada kepercayaan bagi orang-orang di desa kami, maka pantang bagi mereka untuk mengubahnya!

“Perempuan itu cukup di dapur, di sumur, dan di kasur.”

Aku mendongak, bola mataku seolah siap meloncat, lalu mencakar habis perkataan Ibu tadi. Aku tak percaya kata itu diucapkan olehnya. Wanita inilah satu-satunya yang paham perasaanku, ia yang bahkan selalu memberiku semangat dan meniti jejak di mana tak harus seperti yang lain, mengenyam pendidikan paling tinggi sampai bangku SMA, dan sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga.

Atau mereka cukup tinggal seorang diri dengan menjadi penjual gado-gado, pisang goreng, dan dagang kecil-kecilan bila harus menerima kenyataan rumah tangganya yang tak bertahan lama.

“Tak semua nasib harus sama, kau bisa menjadi yang lain meski tak harus ibu rumah tangga. Kalau perlu, kau bisa menyandang dua profesi itu, yang penting tetap bisa menjaga sikap dan moral yang baik. ”  Bukankah itu yang bahkan Ibu katakan? Oh ayolah, sepertinya aku harus siap mengingatkan lagi tentang kata-katanya itu.

“Ibu pernah bilang, tak semua nasib—”

“Ibu ingat, tapi ini adat dan itu tidak baik jika kamu menolak. Lagi pula, ibu tak ada niat untuk menghalangi cita-cita kamu, ibu tetap mendukung.”

‘Mendukung?’ Aku mendadak tersenyum kecut. Mendukung apa namanya jika perkataan Ibu tadi menegaskan bahwa ia lebih-lebih setuju keinginan Ayah? Tak ada lagi cita-cita, perjuanganku cukup berhenti di jalan pertama, padahal ini masih langkah awal, dan masih banyak jalan lagi yang harus aku lalui.

“Fariz ingin bicara sama kamu, nanti kalau ba’da ashar dan ayahmu pergi mancing, bicaralah dengan dia. Ibu akan coba agar ayahmu tidak tahu.”

Tanpa aku mengerti, Ibu sudah melepaskan usapannya dan bangkit.

“Tidak semuanya bisa dipahami secara hitam dan putih, Nduk. Berbicaralah dengan Fariz dan beri keputusan yang tepat. Kau akan paham setelahnya,” ujarnya kemudian menepuk pundakku dan pergi begitu saja. Aku hanya diam dengan tatapan menelisik dan kerutan kening. Entah apa, tapi inilah yang memang sudah menjadi ciri khasnya, selalu menggantung pertanyaan dan memintaku memahaminya sendiri!
______

Baca juga  11 Tips Membina Hubungan yang Baik dengan Pasangan

“Ada apa, Bang?”

Aku bertanya tanpa berpaling, lelaki berkopiah putih dengan baju koko dan sarung kotak-kotak itu seolah masih lengkap dengan penampilannya—yang baru saja dari Masjid. Ayah juga baru dari Masjid, tapi lelaki yang jadi tulang punggung keluargaku itu sudah memilih ke laut untuk memancing. Ini sepertinya sesuai rencana Ibu, entah apa maksud Ibu. Semuanya masih samar-samar, tapi aku tak mau terlalu tampak dengan penasaran ini, biarkan saja ia berbicara dan aku cukup sekali saja bertanya!

“Kau bisa mencintaiku?”

“Hah?”

Aku mendelik, tak menduga dengan pertanyaannya itu. Sejak awal dia adalah kakak sepupuku, dan bagiku selamanya akan berada di posisi itu. Jika ditanya cinta. Ia, aku memang cinta dia, tapi itu sebatas kakak. Lalu cinta apa yang ia maksud sampai harus menanyakannya?

Tanpa sadar aku sudah tertawa, tawa yang mungkin terdengar dibuat-buat, karena sejatinya aku sendiri tidak suka tertawa dalam keadaan seperti ini.

“Aku serius!”

“Lili bisa, dan memang Lili sudah mencintai Bang Fariz. Bukankah itu jelas sejak kita bersama, perhatian Lili sama Abang apa belum menegaskan itu?”

“Aku tanya sebagai suami!”

Jleb! Seseorang seperti menancapkan pisau di dadaku, tepat dan itu cukup mendiamkanku beberapa saat. Ini lebih dari sekadar lucu, kami belum menikah dan pertanyaannya itu?

“Kita belum menikah, dan tak akan pernah menikah!”

“Tapi adat mengharuskan itu!”

“Lili tak peduli!”

“Tapi kamu harus peduli!”

“Ini hak Lili!”

“Tapi ada ayah dan ibumu yang bisa menjadi raja di atas hakmu, Lili!”

Aku terdiam, itu benar sekali. Aku memiliki hak, tapi di atas segalanya keputusan keluarga seolah nomor satu. Karena yang selama ini memutuskan cukup hanya keluarga, dan perempuan yang dipinang hanya mengikuti. Adat terbaik yang aku acungi jempol selama keberadaanku di desa!

“Maafkan aku, tapi kalaupun kamu tidak menikah dengan aku, ada orang lain yang pasti mengganti posisi itu. Kau tahu, kan, Lili? Itu sudah keharusan, umurmu sudah lebih tujuh belas tahun. Kau bahkan hampir sembilan belas, akan buruk menimpamu jika itu terjadi.”

“Tidak dapat jodoh? Apa Abang juga percaya itu? Apa pendidikan Abang yang sudah sarjana itu belum bisa membuat Abang berpikir lebih logis, atau hanya mau menggunakan kata itu untuk memiliki Lili dan ….”

Bla-bla-bla. Kata-kataku mengalir begitu saja, berlesatan seperti peluru yang barangkali sudah mengoyak habis jantung Bang Fariz. Tapi aku tak peduli. Semuanya akan makin menyesakkan untuk ditahan, setidaknya aku sudah mampu menahannya di hadapan Ibu, dan itu sudah lebih dari cukup, bukan?

Baca juga  Penantian dan Kenangan

“Kau benar, tapi itu bukan karena aku percaya, jodoh tidak akan ke mana, Lili. Dan umur sembilan belas tahun juga sebenarnya bukan umur yang dianggap tua, bahkan bisa dianggap terlalu muda untuk menikah. Hanya saja aku ingin kamu sadar, kalau apa pun keadaannya kepercayaan itu akan tetap berada di posisinya. Itu kepercayaan di desa kita, dan aku ingin kamu menikah kemudian—”

“Tapi—”

“Kita berjuang bareng membuktikan kekeliruan itu.”

Ia buru-buru memotong kalimatku yang baru sekata saja menunjukkan protes.

“Kau tahu? Sudah cukup lama banyak perempuan yang diam dengan kepercayaan itu, sementara kuncinya hanya terletak pada perempuan. Aku sekalipun laki-laki tak percaya itu, sudah bukan zamannya Ibu Kartini lagi di mana perempuan dijadikan nomer dua. Aku ingin membuktikannya tapi aku laki-laki. Melalui keteguhanmu aku seperti mendapatkan jalan saat mendengar cerita dari ibumu. Meski jujur mungkin itu sedikit mengecewakan, karena sejak awal aku memang ingin menikahimu, dan ….”
Bang Fariz menjeda kata-katanya. Ia menghela napas.

“Menikahlah denganku, Lili. Aku akan bantu kamu meraih cita-citamu. Aku memang menikahimu, tapi kewajibanmu tidak akan sama seperti teman-temanmu yang lain di desa kita. Kau tak perlu merasa sesak karena tugasmu seolah hanya mengurusi suami, kau bisa juga belajar dan melanjutkan pendidikanmu.

Kau tak perlu merasa terkekangi karena harus berdiam diri di desa kita karena menunggu suami pulang dari kerja, atau menunggu kiriman uang saat sudah berjauhan. Aku akan membawamu ikut serta ke kota, dan kita bisa berjuang bareng di sana.”

Tatapan Bang Fariz sudah beralih lagi padaku. Bulu matanya yang lebat dan lentik tidak bergerak sedikitpun. Itu bulu mata mirip perempuan, bahkan setengah mirip denganku.

Dulu bila Bang Fariz sedang berbohong, biasanya bulu mata itu akan bergerak dengan sendirinya. Ia juga tidak kuat nahan untuk menatap orang yang tengah dibohonginya, lalu karena tak ada tanda sedikitpun, apakah benar mengartikan tak ada kebohongan darinya? Aku bisa leluasa meraih cita-cita meski menikah dengannya? Dan bahkan ia akan berjuang bareng denganku?

Allah … ini mungkin terlalu abu-abu, tapi pilihanku tetap menjadi penentu masa depan itu. Adakah aku harus istikharah lebih dulu, apa ini yang Ibu maksud agar aku tidak hanya memahaminya melalui hitam dan putih? Entahlah, tapi aku harap tetap berpegang pada tali jawaban-Mu di balik do’a ini.

Salsa. W

Semuanya Masih Abu-abu 3


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Salsa

   

Saya hanya penulis pemula yang lebih memfokuskan pada Fiksi, karenanya di sini kalian mungkin lebih mendapati karya-karya saya berupa cerpen. Saya menerima masukan dari siapa saja, silakan dm ig @penasalsa bila ada saran perbaikan. Terima kasih

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments