Cerpen   

Tangan – Tangan yang Terbuat dari Duit


Tangan - Tangan yang Terbuat dari Duit 1

Tak ada yang lebih berharga dari kebaikan dan kejujuran kalau bukan duit—kata Dargontoloyo padaku. Dia bahkan berani  bertaruh melalui Pilkades kali ini. Siapa pula yang tak senang bila itu satu-satunya cara untuk menaklukkan kecongkakannya itu. Otaknya sudah lama dikuliti materialisme dan kepincangan berpikir.

Marilah … tidak perlu menganggapku hanya berbual-bual dalam perang politik. Mulut kalian akan disumpal oleh kain-kain kebenaran bila coba menyangkalnya, dan biar kuperjelas sedikit tentang kataku tadi.
Sebut saja pilihanku itu ‘Dia Yang Terlalu Istimewa’.

Dia beristrikan seorang penjual bakso kecil-kecilan di samping Si Istimewa sendiri hanyalah guru SD dengan honorarium di bawah tiga ratus ribu per-bulan. Dulu aku pun diajarinya bersama Si Dargo. Tapi sial memang Si Dargontoloyo itu. Tak tahu balas budilah ia. Kalau neraka bisa mengejar-ngejarnya, sudah pasti tubuhnya hangus terbakar.

“Lihatlah bajuku ini bagus sekali, kau tidak punyak.”

Ia menunjuk bajunya yang bergambar kelapa sebagai lambang Kepala Desa pilihannya. Bagus memang, terlihat bersih dan rapi, tapi mataku terlalu sakit dibuatnya.

“Akan lebih bagus lagi kalau kau tak memakainya.”

Aku melengos setelah mengatakan itu. Dan dia langsung terbahak, sampai Si Rahmat yang lewat di samping rumah ikut bergabung lalu mereka menyebutku iri, iri, dan Iri. Selalu seperti itu.

Tahulah kalian, mereka menyebutnya bukan tanpa alasan. Di antara kader masing-masing, hanya kaderku yang miskin. Tapi sekaligus tahulah aku. Pilihan mereka didasari duit-duit yang disusupi jauh-jauh hari. Aku pun sempat diajaknya memilih selain si Istimewa. Katanya terlalu kasihan padaku yang tak diberi uang oleh kaderku.

Baca juga  Semuanya Masih Abu-abu

Kalau Si Rahmat bukan sepupuku dan akan berisiko dimarahi Bibi, sudah pasti kuajak taruhan dan akan kukentuti habis-habisan dia.

Kupilih meninggalkan mereka, lalu bergabung dengan para pencoblos. Ada tiga calon Kepala Desa yang kini berjejer di kursi masing-masing. Semua memakai lambang. Si urut satu adalah jagung, lalu urut dua, kelapa, dan si urut tiga adalah ubi. Tak tahulah aku kenapa pulau kecil yang berada di ujung Madura ini gemar sekali menggunakan nama-nama tumbuhan sebagai lambang pemilihan. Sejak dulu-dulu pun memang itulah adanya.

Selama menunggu giliran, kudengar bisik-bisik yang membuat hatiku menari saking gembiranya. Cepat-cepat kutemui Rahmat dan Dargo setelahnya. Menepuk bahu mereka lalu berujar, “Pak Istimewa pasti menang!”

“Dia miskin!”

“Tapi banyak yang dukung.”

“Dukungan tanpa duit apa masih bertahan?”

“Bisa!”

“Bodoh! Kau kira makanan bisa dibeli dengan kebaikan? Mereka mau kenyang. Pilih yang pasti-pasti saja. Kalau dikasih duit itu sudah pasti, lah Pak Istimewa …? Belum tentu dia ingat sama rakyat kalau menang nanti.”

Sial! Makin melebihi komentator-komentator handal saja  bicaranya. Tak percaya ia, padahal orang-orang di sekitar tadi sempat terang-terangan berdo’a semoga Pak Istimewa yang menang. Sambil berdumel tak jelas kutinggalkan mereka lalu tiduran di rumah.

Baca juga  Antara Dua Pilihan

Kuminta Mamak untuk membangunkanku bila sudah dapat kabar siapa pemenangnya. Benar-benar tak sabar aku ingin mengentuti mulut busuk Si Dargo. Biar ia sadar bualan-bualannya itu tak lebih busuk dari kentutku.

****
“Nak, bangun ….”

Entah sudah berapa lama aku tertidur. Saat membuka mata lagi, samar-samar Emak  tampak mengusap keringatanya.

“Menang atau kalah, Mak?”

“Menang. Kau tak salah.”

Aku loncat dari kasur. Tak cuci muka dan langsung ke rumah Pak Salim setelah mengambil ayam dari kandang. Dan selama kutinggalkan ayam si Dargo yang sengaja kutangkap beberapa hari lalu itu, aku menengok sebentar ke tempat Pak Istimewa.

Ramai sekali rumahnya. Orang-orang ada yang bersorak-sorak, mengucapkan selamat sambil bersalaman. Di antara mereka rupanya ada Si Dargo yang tanpa kucari datang sendiri.

“Kurang ajar kau, Jim. katamu Pak Istimewa tak banyak uang, ternyata numpuk juga buat ngakali pencoblosan.”

Apa-apaan Si Tolol ini. Sudah kalah dia masih mengoceh juga. Bukannya mengaku kalah malah minta tonjok mulutnya itu. Tanganku jadi mengepal, dan hampir-hampir saja kutonjok kalau tak sadar ada yang kurasa lebih pas untuk dikatakan padanya.

Baca juga  Menunggu Kejelasan Status Dari Seseorang

“Sudah kusembelih ayammu. Siap-siap nanti ke rumahnya Bu Atikah untuk minta maaf. Sekalian jangan lupa, kalau aku kentut karena kebanyakan makan ayam, siap-siap cium pantatku.”

Dia mendengkus dan wajahnya langsung memerah. Tawaku refleks meledak setelah meninggalkannya. Tak sabar rasanya aku melihat si congkak itu memohon-mohon minta maaf.

Tak selang beberapa jam setelahnya, kami segera pergi. Membawa sate ayam sekaligus yang akan kami beri pada keluarga Pak Istimewa. Pintu rumahnya terbuka dan samar-samar ada suara dari dalam.

Saat hendak kuucap salam, Dargo langsung  mencekal lenganku lalu maju dengan isyarat jari yang ditempelkan ke bibir. Apa pula si sinting ini.

Meski ingin menarik kepalanya, aku mengikutinya saja. Mengendap-ngendap ke dalam, sampai kini tak jauh di depan kami. Duduk di kursi kayu ada istri Pak Istimewa bersama Pak Karim, salah satu orang terkaya di kampung kami. Dia menyerahkan amplop sambil berujar, “Terima kasih, Pak. Ini masih setengahnya, nanti saya tambah lagi kalau suami saya gajian. Saya puas sekali, suami saya jadi menang.”

Belum sempat aku mengartikannya, Dargo sudah memegang kedua bahuku lalu menekannya sampai aku membungkuk. Dia membalikkan badan sampai pantatnya mengenai tepat pada bagian hidungku. Tak selang setelahnya, bau tak sedap itu memasuki penciumanku. Sial, dia mengentutiku! 

Tangan - Tangan yang Terbuat dari Duit 3


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Salsa

   

Saya hanya penulis pemula yang lebih memfokuskan pada Fiksi, karenanya di sini kalian mungkin lebih mendapati karya-karya saya berupa cerpen. Saya menerima masukan dari siapa saja, silakan dm ig @penasalsa bila ada saran perbaikan. Terima kasih

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments