Cerpen   

Touch Love


Touch Love 1

Suara berisik yang entah bersumber darimana itu seketika memecahkan konsentrasi seorang gadis yang sedang mencoba mencerna buku paket yang tengah dibacanya. Dia mengetukkan ujung pensil ke kepalanya, sambil bersungut kesal gadis itu bangkit dari duduknya untuk menghampiri seseorang yang berdiri tak jauh dari tempatnya sambil membelakanginya.

Dalam hati, berbagai makian serta sumpah serapah sudah berada di ambang mulutnya, sebentar lagi pasti akan tumpah ke orang tersebut. Namun langkah kakinya berhenti ketika mengetahui siapa dalang yang membuat segala keributan di perpustakaan ini.

Seorang cowok berpakaian sama dengannya, wajah tampan dengan rambut agak kemerahan mungkin karena dicat atau menurut guru-guru memang sudah dari sononya. Anarkila—atau lebih akrab dipanggil Kila—langsung menyeret kakinya untuk menjauhi orang itu. Seketika dia membatalkan semua ucapan yang ada di kepalanya, mana mungkin dia berani memaki cowok itu. Yang ada bukannya menang, tapi malah dia yang jadi terkenal di Sekolah.

“Hey!”

Kaki Kila melemas seketika saat suara teriakan itu terdengar di telinganya, kontan saja matanya membulat sempurna. Dengan penuh ketidakrelaan, gadis cantik itu akhirnya memutuskan untuk menoleh. Dan sesuai instingnya, yang meneriakinya itu adalah orang yang sama yang mengganggu konsentrasinya belajar.

Kila mencoba untuk tersenyum ke arah cowok di depannya yang kini menatap penuh ke arah dirinya.

Perpustakaan yang sudah sepi, menambah kesan seram di sini. Cowok itu kini berjalan mendekat ke arahnya, jujur saja rasanya gadis itu mau lari saja daripada dihampiri oleh Gavin Linggara anak kelas XII-A, si Ketua Badboy di SMA-nya yang terkenal dengan nakal dan tak punya hati—menurut segelintir orang yang pernah dikacangin sama Gavin waktu ditegur.

Dari pertama kali mereka ketemu, Kila memang sudah merasakan aura yang tak sedap dari Kakak kelasnya yang satu ini. Dibanding seniornya yang lain, Kila sama sekali tak pernah menyapa bahkan kalaupun mereka berpapasan, paling Gavin hanya melemparnya pakai kertas atau apapun yang dia temukan di dekatnya. Sejak itu, Kila langsung tak ingin berurusan dengan cowok nakal yang satu ini. Cari gara-gara sama Gavin? Sama aja lo ngasih tumbal ke perampok.

“Lo mau kemana?” Hanya suara datar yang terdengar saat Kila kembali menyeret kakinya untuk keluar dari sana. Lagian apa sih yang dilakukan cowok kaya dia di perpustakaan begini? Ganggu orang aja! Rutuk Kila dalam hatinya.

“Keluar, emang kenapa? Masalah buat Kakak?”

Gavin menyeringai menatap gadis di depannya, seakan mendapatkan sebuah mangsa baru. Kila menelan ludah, dia menyesal telah menjawab pertanyaan seniornya itu. Mana sok berani lagi, kalau sudah seperti ini matilah dia.

Dia semakin mendekat ke arah gadis itu, tangannya menyentuh pundak Kila, kontan gadis itu langsung menutup mata saat Gavin menatapnya dengan tajam. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, keringat dingin menetes di balik wajah cantiknya. Kila benar-benar takut saat ini.

Lama Gavin terdiam memandang seluruh sisi wajah gadis di depannya, rambut hitam panjang, dengan sebuah pita oranye menempel pas di poninya. Pikiran cowok itu melayang kemana-mana, seketika dia tersadar dan langsung melepaskan pegangannya di bahu cewek itu.

“Lo udah boleh buka mata! Gue nggak ngapa-ngapain!”

Perlahan mata gadis di depannya terbuka, dan menampakkan mata hitam beningnya. Atau dalam pikiran Gavin cewek itu hampir menangis, karena dilihat dari matanya yang berkaca-kaca. Kila menunduk menyembunyikan air matanya yang nyaris jatuh karena Gavin. Kontan saja Gavin kalap, karena biarpun seorang badboy, tapi riwayatnya dia nggak pernah sekalipun ngebikin seorang cewek sampai menangis.

“Sorry! Jangan nangis dong! Gue cuma bercanda.” Gavin hendak memeluk gadis di depannya, namun secepat kilat Kila menghindari tangan jahil cowok itu. Gavin langsung mengangkat tangannya sambil menggeleng malu.

Baca juga  Bukan Salah Mama

Kila mengelap sudut pipinya yang berair, Gavin langsung menarik tangan gadis itu untuk duduk. Kali ini Kila menurut saja, dia langsung duduk sambil menunduk tanpa mau melihat wajah Gavin yang sama sekali membuat dia tambah takut dekat-dekat cowok itu.

“Maaf!” Lagi-lagi Gavin mengucapkan kata-kata itu.

Lama Kila terdiam, kemudian gadis itu mengangguk dalam posisi yang sama. “Nggak pa-pa kok Kak.” Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.

“Ada apa sih di bawah? Retsleting gue ketutup kok, jadi nggak usah takut kalau liat sesuatu yang aneh.” Ujar Gavin, ternyata ucapan teman-temannya tentang cowok ini benar. Kila menyesal mengapa dia harus bertemu dan terjebak dengan biang onar sekolahnya di sini.

Akhirnya Kila mendongak, matanya jatuh tepat di retina cowok itu. Seketika dia mengalihkan pandangannya, karena jantungnya kembali berdegup keras. Dia memekik dalam hati, kenapa sih gue harus ketemu dia!

“Anarkila? Nama lo keren kaya aksi anarkis gitu yah! Atau jangan-jangan lo itu orangnya anarkis?” Sumpah tangan Kila sudah gatal pengen membekap mulut cowok di depannya ini.

“Panggil Kila aja Kak, nggak ada sangkut pautnya sama anarkis dan tolong Kakak berhenti bertanya!” Gavin takjub karena cewek itu berbicara dalam satu napas, dia mengangguk paham.

“Lo nggak usah manggil gue Kak, emangnya gue Kakak lo? Abang aja, abang ganteng gitu!” Gavin senyam senyum sambil menatap wajah junior di depannya.

Kila berdiri dari tempat duduknya dan hendak melangkah keluar, namun tertahan ketika Gavin lebih dahulu menarik tangannya. Lagi-lagi Kila hanya bisa menahan amarah yang memuncak, dia terlalu takut untuk melawan cowok ini. Jadilah dia hanya berbalik dan menatap Gavin seakan sedang bertanya “ada apa lagi?”

“Mana HP lo! Cepat! Atau gue ambil sendiri nih?” Gavin menyeringai, mata Kila sukses membulat mendengar omongan cowok itu, kontan saja Kila merogoh kantong bajunya dengan tergesa. Dia langsung menyodorkan benda itu ketika sudah mendapatkannya.

Dengan gesit Gavin menekan tombol-tombol di HP cewek itu, kemudian menempelkan HP di telinganya. Tak berapa lama getaran terasa di kantong celana Gavin, dia menunjukkan HP-nya ke arah Kila.

“Save nomer gue, jangan lupa kasi embel-embel ganteng. Oke!” Gavin mengembalikan barang yang dipinjamnya itu kepada sang empunya, Kila langsung memutar kedua matanya malas. Sambil menerima HP-nya, dia melangkah menjauh keluar dari perpustakaan, meninggalkan Gavin yang masih terdiam menatap kepergian Kila.

Setelah ada usiran dari penjaga Perpustakaan, barulah cowok itu ikut beranjak, pastinya sesudah mengerjai Bu Ani dengan menempelkan permen karet di kursi beliau.

* * *

Kila yang baru saja ke luar dari toilet mendadak bergetar hebat saat beberapa cewek sedang menunggunya di luar sambil berkacak pinggang. Perasaan gadis itu mulai tak enak, saat salah satu dari mereka mendekat ke arahnya. Dia refleks mundur beberapa langkah untuk menghindari cekalan yang akan dilayangkan perempuan di depannya itu.

“Eh lo cewek sok cakep! Baru jadi adek kelas udah berani deket-deket cowok gue!”

“Siapa?” Tanya Kila dengan wajah polos.

“Sok amnesia lo! Ya Gavin lah!”

“Oh Gavin, sorry yah Kak. Saya nggak deket sama dia.”

“Eh jawab lagi! Dasar cewek sialan lo!” Kila kontan berteriak saat tangan seniornya itu menarik kuat aset kebanggaannya. Rasanya kepala cewek itu ikutan tertarik, sakitnya seketika melanda seluruh kepalanya. Kila terisak saat Vio tiba-tiba hendak menampar wajahnya untuk yang kedua kalinya.

Baca juga  3 Film Komedi Romantis yang Menarik Ditonton Saat Social Distancing

Tangan Vio tertahan saat sebuah tangan lebih dahulu memegangnya. Dia menoleh dan mendapati Gavin sudah berada di sana sambil memasang tampang amarah yang tertahan. Kontan ketiga temannya langsung melepaskan cekalan yang ada di tubuh Kila, cewek itu jatuh merosot ke lantai dengan penampakkan yang sangat jauh dari kata cantik.

Gavin langsung memelintir pelan tangan cewek di depannya, Vio meringis sambil memasang tampang kasihannya. Tapi Gavin sama sekali tak terpengaruh. Dari awal dia sudah tahu kalau Vio menyukainya. Bahkan sudah dalam kategori fans fanatik dirinya, sifat cewek itu yang agresif membuat Gavin menolak mentah-mentah waktu ditembak Vio. Bagi Gavin, dia lebih suka mengejar dibanding dikejar. Dan melihat tingkah Vio yang seperti itu, bukan menambah nilai plus di mata cowok itu, tapi malah bikin dia seketika ilfeel.

“Lo udah keterlaluan, Vi!”

“Kenapa sih lo nggak pernah peka sama gue? Gue kurang cantik? Atau kurang kaya!” Teriak Vio dengan suara tertahan, sementara Kila langsung menutup telinganya mendengar suara nyaring cewek itu.

“Lo kurang waras! Sekarang lo pergi dari sini!” Gavin berjongkok ke arah Kila yang masih terduduk di lantai, dengan sigap cowok itu langsung menggendong tubuh ringan Kila.

Tanpa pamit, dia keluar dari toilet dan pastinya dengan seorang gadis di dalam gendongannya. Vio hanya bisa menatap sendu kepergian Gavin, dengan tangan terkepal dia melemparkan HP-nya sampai benda itu hancur berantakan akibat tumbukan keras di dinding.

Seluruh ruang lingkup sekolah mulai dari kelas X hingga XII seketika heboh saat melihat Gavin keluar dari toilet wanita, bukan hal itu yang membuat mereka geger, tapi cewek yang ada digendongannya lah yang menjadi perbincangan seluruh gadis, serta fans dari seorang Gavin. Mereka bertanya-tanya, siapa kiranya gadis yang entah beruntung atau bagaimana bisa digendong secara gratis oleh the Most Wanted SMA Airlangga itu.

Gavin tak mengindahkan tatapan super kepo dari para fansnya itu, dia terus saja berjalan hingga tubuhnya tak tampak karena dimakan tikungan jalan. Dia langsung masuk ke dalam ruangan di depannya itu. Seorang wanita muda yang tadinya duduk, seketika berdiri saat melihat Gavin masuk ke dalam ruangan itu bersama salah satu siswanya sendiri.

“Gavin? Kenapa ini, kamu apain dia?”

“Bu, jangan tanya dulu. Tolong urus dia, soal jawaban nanti saya bakal jelasin semuanya.” Gavin meletakkan tubuh Kila di atas ranjang UKS. Cowok itu duduk di kursi saat Ibu UKS mencoba memberikan pertolongan pertama pada gadis itu. Kila masih meringkuk dengan wajah yang nyaris lebam akibat tamparan dari Vio yang cukup kasar di pipinya.

Gavin menatap dari jauh saat Bu Endang mulai mengobati wajah serta merapikan rambut panjang Kila yang berubah kusut dan cukup mengerikan untuk dilihat. Gavin menghela napasnya berat, cowok itu sangat menyesali perbuatan Vio yang sangat keterlaluan. Rasanya darah cowok itu mendidih saat melihat apa yang terjadi dengan Anarkila, si gadis yang mulai saat itu akan menjadi tanggung jawabnya.

Entah tanggung jawab seperti apa, yang jelas setelah ini Gavin memastikan tak akan ada yang berani berbuat macam-macam lagi dengan cewek itu.

Dia berjanji dalam hatinya, sejak hari ini dia akan menjaga cewek itu dari apapun yang membuatnya takut. Gavin tersenyum samar, saat Bu Endang sudah selesai mengolesi salep di wajah Kila.

* * *

Dua bulan semenjak kejadian hari itu, Vio sudah tak berani lagi berbuat apa-apa. Karena sejak diobatinya Kila hari itu, Gavin selalu menguntit gadis itu kemana-mana, terutama kalau ke toilet. Bukan maksud Gavin buat kurang ajar, cuma dia nggak mau saja kejadian kemarin terulang lagi. Tapi hal itu malah membuat Kila merasa jengkel, kadang dia pura-pura tak tahu saat Gavin mencoba menggodanya.

Baca juga  Bukan untuk Pergi

“Tuh orang satu emang kurang ajar! Atau dia nggak ada kerjaan sih? Ngikutin gue mulu!” Keluh Kila saat dilihatnya Gavin menatap dia dari jauh. Disa sahabat sebangkunya, cuma mendelik dan mengekori telunjuk Kila.

“Syukur dong Kil, jadi sekarang nggak ada yang berani gangguin lo lagi. Lagipula gue nge-ship kok kalian berdua. Gue doain semoga lo cepet jadian sama Kak Gavin!” Saat itu juga seseorang datang dan berteriak dengan suara lantang.

“Amin!” Mata Kila hampir keluar saat Gavin sudah muncul di hadapan mereka. Mendengar suara nyaring cowok itu, beberapa siswa siswi yang berada di kantin langsung melirik ke arah tiga orang itu, termasuk Vio yang masih terus menatap nanar Kila. Cewek itu meringis saat ditatap seperti itu. Ini semua emang gara-gara Kak Gavin! Ngapain juga gue ketemu sama nih setan satu! Argh! Frustasi, ingin sekali Kila mengigit leher cowok di depannya ini.

“Dis, bisa kasi kita privasi berdua?” Tanya Gavin lembut menatap Adik kelasnya itu. Dengan semangat Disa mengangguk, sementara Kila melototkan matanya saat mendengar jawaban dari temannya itu. Disa nyengir, sambil mengacungkan jempolnya, cewek itu berlalu dari sana dan meninggalkan Kila bersama Gavin.

Hening melanda, hanya terdengar suara lembut angin yang membelai rambut panjang Kila. Gavin duduk tepat di depan adik kelasnya ini, dia sengaja memilih di depan agar bisa leluasa menatap wajah Kila. Gavin berdehem menyadarkan lamunan cewek itu, kontan Kila melirik sekilas kemudian mengalihkan lagi pandangannya.

“Gue dianggurin aja nih?”

“Terus Kakak pengennya apa? Dibeliin makanan atau dikerjain PR-nya?” Balas Kila acuh.

“Maunya dibelai kamu!” Balas Gavin dengan senyum menggoda. Kontan saja pipi Kila langsung bersemu merah mendengar ucapan cowok itu, bukan karena malu, tapi bikin darah tinggi mendengar rayuan Gavin yang asal ceplos itu.

“Kak, gue mohon nggak usah gangguin gue lagi. Risih tau nggak, gue udah berasa tawanan dikawal sama Kakak terus.”

“Lo kan cewek gue, ya mesti gue ekorin kemana-mana lah, nanti lo diambil cowok lain kan berabe urusannya.”

Kila mendelik mendengar ucapan kurang ajar dari seniornya ini. “Sejak kapan gue jadi cewek lo Kak!?” Entah ini pernyataan atau pertanyaan, yang jelas Kila tak terima diklaim sebagai pacar dari Gavin. Bisa-bisa rusak reputasinya selama ini sebagai anak baik-baik, hanya karena pacaran sama Gavin.

“Sejak sekarang!” Tanpa malu Gavin mendekat dan menabrak lembut pipi cewek di depannya, kontan saja Kila membeku di tempat saat Gavin dengan kurang ajar mencium pipinya. Kila langsung mengelap pipinya yang bekas pendaratan bibir cowok di depannya itu.

Tangan Kila terkepal kuat, dengan perasaan menggebu-gebu dia bangkit dari duduknya.

“Kurang ajar lo Kak! Sini nggak lo! Gue nggak rela pipi gue terkontaminasi sama lo! Awas lo Kak Gavin!” Teriak Kila kelewat besar, Gavin langsung berlari dari sana saat Kila mulai ikut lari di belakangnya. Dia ketawa ngakak melihat wajah Kila yang berubah meradang.

“Ayo kejar gue kalo bisa!” Ejek Gavin, hal itu membuat Kila semakin naik darah. Dasar cowok sialan lo! Rutuknya sambil terus gencar menyusul Gavin yang berada tak jauh di depannya.

Kila menarik napas kemudian tersenyum dan mulai meraih Gavin sambil menarik telinga cowok itu dan ketawa melihat ekspresi Gavin seperti dihakimi sama Ibunya sendiri.

Touch Love 3

Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Yufan