Cerpen    , Psikologi   

Hidup Menjadi Hampa Karena Masalah Keluarga


Hidup Menjadi Hampa Karena Masalah Keluarga 1

Pada suatu pagi yang cerah, aku dibangunkan oleh suara burung-burung yang berkicau merdu di jendela.

Saat itu suasana hatiku sangat bahagia, pasalnya aku berhasil menyelesaikan sebuah lukisan yang sudah lama aku buat.

Oh ya, namaku Abdi, teman-temanku bilang aku itu sombong, mungkin karena terlalu banyak ngomong bareng tembok kali ya?, hehe.

Aku mandi setelah itu bersiap-siap untuk pergi ke sekolah dan saat aku hampir selesai, hp ku berbunyi seperti ada pemberitahuan.

Saat aku cek, ternyata lukisan yang sudah bersusah payah aku buat berhari-hari ditolak dan itu membuat moodku pagi itu jadi sangat buruk.

Aku pergi ke sekolah dengan wajah murung dan mataku merah karena menahan tangis.

Saat aku tiba di kelas, 3 sahabatku datang menghampiriku, sahabatku bernama Baihaqi, Adi, dan Anto.

“Abdi, kamu kenapa?” Tanya Baihaqi

“Lukisan yang aku liat kan ke kalian ternyata ditolak” ucapku sambil menunduk

Salah satu temanku mendengar pembicaraan kami dan menertawakanku namanya Zulham

“Haha kan ditolak, sudah aku duga, makannya lain kali jangan sombong dulu” ucap Zulham dengan nada sinis.

Saat itu, perasaanku campur aduk antara sedih, malu, marah, dan kecewa. Aku menutup mukaku dan menangis, aku tak bisa menahan air mata lebih lama lagi.

“Udah gak apa-apa, mungkin belum rezekinya lukisan kamu diterima, kamu kan bisa kirim lukisannya lagi.” Baihaqi berusaha menenangkanku.

Baca juga  Hindia, Terapi dan Depresi

“EMANG BUAT LUKISAN ITU MUDAH, HAH? KAMU ITU GAK NGERTI BAGAIMANA PERASAAN AKU SEKARANG.” Emosiku sudah tak tertahankan lagi.

Semua orang yang ada di kelas terdiam dan kembali ke tempat duduknya masing-masing.

Sejak kejadian itu, kau absen 3 hari dan meratapi kegagalanku di masa lalu seakan akulah orang yang paling menderita dan kesulitan.

Setelah 1 minggu berlalu, kehidupanku sudah mulai normal walaupun masih ada sedikit rasa kecewa di hati.

Saat itu adalah pelajaran olahraga. Kami semua dikumpulkan ke tengah lapangan yang panasnya menyambar sampai ke ubun-ubun.

Kami bermain badminton, aku setim dengan Baihaqi. Sebelum memulai permainan, Baihaqi menaikkan lengan bajunya dan terlihat beberapa luka sayatan di tangannya.

Itu membuatku terkejut terheran-heran.

“Tanganmu kenapa Bai?.” Tanyaku dengan santai

“O..oh ini? Bukan apa-apa kok” sambil dengan cepat menutup lengan bajunya.

Aku tidak terlalu curiga dengan luka sayatan itu, mungkin saja itu cuma terkena duri atau gimana.

Dari hari ke hari, luka sayatan di tangannya menjadi sangat banyak dan sifatnya pun mulai berubah, yang dulunya suka memberi support buat teman-temannya dan sering membuat jokes garing sekarang menjadi lebih pendiam dan pemurung.

Selain itu, ada banyak memar di wajahnya

Aku dan 2 sahabatku menyadari hal itu, kami bertiga menghampiri Baihaqi

“Bai, kalau ada masalah cerita saja dengan kami mana tau kami bisa bantu atau meringankan beban kamu.” Ucap Anto

Baca juga  5 Film Korea Paling Menguras Air Mata, Jangan Lupa Siapkan Tisu Saat Menonton

“Iya.” Ucapku dan Adi serentak

“Nggak, aku gak apa-apa kok, cuma ada masalah keluarga sedikit itu aja.” Ucap Baihaqi

Karena ucapan Baihaqi itu, kedua sahabatku menjadi tenang tapi tidak denganku, aku masih penasaran dan mulai sadar ada yang tidak beres.

Saat bel pulang berbunyi, aku memanggil Baihaqi untuk berbicara secara personal di bawah pohon mahoni.

Akupun sadar bahwa bukan cuma aku orang yang paling menderita di dunia ini, masih banyak orang di luar sana yang mungkin sedang bertaruh nyawa atau mendapat masalah yang besar sekarang seperti Baihaqi ini.

Baihaqi adalah anak pertama dari 3 bersaudara dan satu-satunya anak laki-laki di keluarganya.

Ternyata, Baihaqi setiap hari diperlakukan kasar oleh ayahnya. Ayah Baihaqi adalah orang yang suka mabuk-mabukan dan selalu berlaku kasar.

Selain itu, ibunya tidak mempedulikannya lagi dan menghilang entah kemana membawa kedua adiknya.

Baihaqi selalu dicambuk dengan ikat pinggang yang diujungnya ada besi tumpul.

Ia sudah melaporkannya ke guru BK sekolah. Guru BK tersebut menelpon pusat perlindungan anak untuk mengawasi sikap orang tua Baihaqi.

Ketika orang dari pusat perlindungan anak pergi, Baihaqi dihajar habis-habisan oleh ayahnya dengan cara memasukkan wajahnya ke dalam baskom yang berisi air mengadu kepada orang lain.

Baihaqi akhirnya mengakhiri ceritanya dan pulang karena sudah dijemput oleh ayahnya.

Baca juga  9 Masalah Pernikahan yang Dapat Menghancurkan Hubunganmu

2 hari kemudian saat tengah malam, aku mendapat pesan dari Baihaqi di hpku. Betapa terkejutnya aku saat melihat pesan tersebut karena Baihaqi ingin mengakhiri hidupnya.

Tanpa pikir panjang, aku menyelinap keluar rumah dan pergi ke rumah Baihaqi yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggalku.

Aku tau rumah Baihaqi karena kami sudah berteman sejak SD

Aku berlari sekuat tenaga dan yang ada di pikiranku adalah aku terlambat

Sambil terengah-engah, akhirnya aku sampai di rumahnya. Rumah tersebut seperti rumah kosong, lampu disana mati, hanya ada 1 ruangan dilantai 2 yang lampunya nyala.

Rumah tersebut tidak dikunci, aku masuk secara perlahan dan meraba-raba.

Aku tau ayahnya Baihaqi tidak ada di rumah karena setiap malam ia mabuk-mabukan.

Saat aku sampai di kamarnya Baihaqi, pintunya terbuka dan aku melihat obat-obatan dalam jumlah banyak berserakan di lantai.

Aku juga melihat Baihaqi yang menutup mukanya dengan bantal duduk di sudut ruangan.

Aku bersyukur karena Baihaqi belum sempat mengakhiri hidupnya.

Pada saat itu juga, aku putuskan untuk melaporkan peristiwa ini kepada ketua RT setempat.

Keesokan harinya, ayahnya Baihaqi berhasil ditangkap dan dipenjara dengan masa kurungan yang lama.

Akhirnya Baihaqi pergi bersama Tante dan pamannya dan memutuskan untuk pindah ke luar kota.

Sejak saat itu, Baihaqi pindah sekolah dan aku tidak pernah melihatnya lagi

Hidup Menjadi Hampa Karena Masalah Keluarga 3


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Fathurrahman

   

Hey! Jangan buang-buang waktu hanya untuk melihat profil ini, yang kamu cari ada di bagian "POST" silahkan diklik

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments