Cerpen   

Menari Bersama Luka


Menari Bersama Luka 1

(Perasaan kita layaknya menabur garam di luka yang sama. Hanya akan menambah keperihan masing-masing.)

Rasio di leher lelaki itu kembali berhasil mengacak-ngacak perasaanku, terlebih setelah dengan santainya dia kemudian menyerahkan surat undangan disertai namanya dengan perempuan lain. Aku perlu menarik napas sambil menekan dada berkali-kali, sebelum akhirnya menatap sosok di depanku itu lagi.

“Jadi kapan kalian akan nikah?” tanyaku akhirnya, tapi tiba-tiba menyadari kebodohan itu makin diperparah setelah melihat undangan sebelumnya.

“Oh tanggal tujuh belas, ya? Berati minggu depan. Hehe, Maaf.”

Aku seperti sudah gila, menjawab pertanyaan sendiri dengan tawa garing yang anehnya tetap membuat lelaki itu diam, menatap tanpa ekspresi sedikitpun.

“Kenapa enggak sekalian aja ajak dia ke sini, Jo? ‘Kan bisa aku kenalan sekaligus ama dia. Tapi nih ya, kalo perkiraanku sih … dia pasti baik, cerewet, dan pintar, sama kayak kamu. ‘Kan jodoh katanya adalah cerminan diri sendiri, hehe.”

Johanes tetap tak menanggapi apa-apa, hanya tatapannya yang kini lebih lekat, sampai-sampai membuat tawaku mendadak hambar sebelum akhirnya memutuskan untuk ke kamar mandi.

Jangan tanya, apa yang akan aku lakukan di sana. Perih dan luka itu pasti jawabannya, sampai-sampai air keran yang kemudian kunyalakan hanya penyamar dari tangis yang tertahan.

Ini konyol! Sudah tidak ada kisah lagi di antara kami. Semuanya hanya masa lalu, di mana bahkan kami sudah memutuskan untuk hidup dengan orang yang berbeda. Aku dengan Mas Rendra, dan Johanes dengan—

“Kau terluka?”

Aku tergeragap, berpaling, dan mendadak berjengit begitu melihat Johanes berdiri menghadapku. Tubuhnya bersandar pada sisi pintu yang kemudian dia tutup dengan pelan. Entah sejak kapan dia masuk, tapi jelas itu tidak baik. Cepat-cepat kuisyaratkan agar lelaki itu pergi.

“Harusnya kau marah dan halangi aku, El. Sama seperti aku menghalangi kamu dulu. Atau  hanya aku saja yang di sini berjuang sendirian?”

Baca juga  Bukan Salah Mama

“Aku tak ada hak untuk melakukan itu, Jo. Sudah, jangan bicara ngawur, cepat minggir, gak baik!”

Tanganku mengibas di depannya, tapi dia malah tertawa sambil menyilangkan tangan di depan dada. Astagfirullah, lelaki ini sepertinya  gemar sekali melatih kesabaranku, padahal jelas ini hanya akan menambah perih di luka yang sama.

“Meski begitu, kau tetap lebih menyukaiku daripada suami kurang ajarmu itu, ‘kan?”

Johanes menyudahinya dengan kekehan kecil, tapi aku terlalu tak peduli. Lebih lagi bila harus membahas tentang Mas Rendra.

Lelaki biadab itu bukan hanya menyeretku pada kecaman-kecaman ketakutan, tapi juga nyaris merenggut nyawaku di sela-sela perkosaannya yang tak mengenal waktu. Seminggu lalu, aku bahkan harus melarikan diri dari rumah, dan tuntutan perceraian itu pasti akan menyusul ke pengadilan. Masih berbaik hati aku tak melaporkan sikap bejatnya itu!

Dengan sekali hentakan kasar, kudorong tubuh Johanes lalu cepat-cepat keluar. Tapi tidak, dia bahkan lebih dulu menarik lenganku, mendorong ke sisi tembok, lalu menggunakan dua tangan untuk menghalau sisi kanan dan kiri, membuatku mau tak mau harus terkunci di dekat tubuhnya yang beraroma mirip kayu manis.

Aroma itu begitu familier, dulu bahkan aku sering mencium aroma yang sama diikuti sandaran pada bahunya, dan dia dengan penuh sabarnya mendapat pukulan kemarahan berkali-kali dariku, meski jelas waktu itu bukan Johanes yang membuatku menangis.

“Dengar, Elya. Kau mencintaiku dan kau jangan menyakiti diri sendiri dengan selalu menghindariku!”

Ia menekan setiap kata, dan aku sudah yakin sikap otoriternya pasti akan menyusul setelah itu.

“Kau tak perlu berpura-pura lagi! Aku suka Elya yang blak-blakan seperti dulu! Aku suka Elya yang serba menjadikan aku sebagai tumpuan masalahnya. Hanya menangis di bahuku dan—”

Baca juga  Jangan Samakan Cinta dan Bercinta ya! Nih Bedanya!

“Cukup! Itu dulu!”

Kupotong cepat. Dadaku mendadak memanas, melebur bersama keperihan-keperihan masa lalu, dan pada akhirnya memang tak pernah sepenuhnya bisa menghalau ketidakrelaan itu.

“Aku bukan Elya yang dulu, kamu hanya temanku dan sekarang aku memiliki suami—”

“Jadi kapan kalian akan cerai?”

Di luar dugaan, ia malah bertanya segamblang itu. Aku bahkan harus menunduk begitu wajahnya makin mendekat dan menatap lekat.

“Cepatlah urus perceraianmu, El, setelah itu kita bisa menikah!”

Singkat lalu melepaskan tumpuan tangannya yang tadi menghalangi pergerakanku. Ia mundur sebelum akhirnya membuka pintu.

“Kau jangan berpikir aku oppa-oppa Korea-mu saat melakukan pengurungan tadi, ya. Aku pasti gak akan macam-macam, kok. Baik-baik Elya-ku.”

Tubuhnya hilang di balik pintu bersamaan dengan kekehan kecil dan suara langkahan menjauh. Aku hanya menelan ludah, mencoba mengartikan semuanya, termasuk kata-katanya tadi tentang Mas Rendra dan menikah dengannya …? Allah, tanpa dikatakan berulang-ulang pun, sudah pasti aku menerimanya sejak dulu, tentu kalau tak ada tembok pembatas yang menjadi dasar utama perbedaan itu.

Kami sudah lama hidup bersama, sejak aku suka mengepang rambut, dia bahkan selalu dengan usilnya menarik-narik kepangan itu. Rumah kami juga hanya berjarak beberapa meter, ditambah lagi ikatan keluarga yang tak terlalu jauh.

Mamanya adalah saudara Ibuku dan merupakan penganut Kristen Katolik tulen. Ibu juga penganut yang sama, tapi entah bagaimana Ibu kemudian menikah dengan Ayah yang merupakan lelaki Muslim sekaligus menjadi pilihan agamaku. Tentu saja bahwa aku dan Johanes adalah sepupu bila ditilik dari silsilah keluarga. Apa-apa kami serba bersama, sampai-sampai entah bagaimana harus berakhir dengan terpenjara di balik perasaan masing-masing?

****
“Agama, agama, dan agama. Selalu saja agama. Apa tak ada yang lebih pantas selain itu, hah? Harus berapa kali kutegaskan, El, berbeda bukan berarti harus menjauh!”

Baca juga  Hal Yang Perlu Kalian Ketahui, Ketika Sedang Jatuh Cinta

“Tapi juga bukan berarti harus menikah!”

“Kenapa tidak? Mama papamu menikah, padahal mereka jelas-jelas berbeda. Mereka bahkan—”

“Papaku Muslim dan mamaku Non Muslim, ada sebagian ulama yang masih membolehkan itu, sementara untuk perempuan Muslim tak ada sama sekali. Hukum apa pun itu, Muslimah harus menikah dengan Muslim!”

Nadaku jadi ikutan tinggi, tak peduli menjelaskan  pada Johanes disertai emosi itu bisa jadi menambah kekesalan lelaki ini, terlebih aku sendiri juga tidak mau terlalu memaknai perasaan ini yang pada akhirnya luka selalu jawabannya.

“Jadi maksud kamu, tak ada pilihan selain aku harus jadi mu’alaf lebih dulu?”

Dengan sekali tarikan napas berat dia berujar setelahnya, aku sampai mendongak sebelum menggeleng.

“Tidak, Jo, kau harus menjadi Muslim dengan keinginan sendiri bukan dengan alasan menikahiku, dan tolong jangan ganggu aku!”

Tanpa mengatakan apa pun lagi, aku segera pergi, tak mempedulikan lelaki itu yang akhirnya mengerang keras. Suara pecahan gelas menyusul setelahnya, dan aku yakin Johanes sudah meluapkan kemarahan itu di balik amukannya, tapi biarkan! Semuanya akan lebih menyakitkan jika harus menolongnya sekarang.

Aku bahkan ingin lebih jahat dari ini, membiarkan dia membenci sekaligus menjauh dibandingkan mencintai tapi akhirnya tersayat oleh pisau-pisau kenyataan yang tak pernah berpihak pada kami, dan semua itu sepertinya cukup berhasil.

Dua hari setelahnya aku bahkan tidak lagi melihat Johanes. Pun hingga mencapai minggu, bulan, dan tahun. Terakhir kabar tentang pernikahan itu rupanya hanya akal-akalan Johanes. Dia ngin menguji perasaanku yang mungkin sama seperti dulu?

Astagfirullah, aku tidak tahu apa yang selalu terpikir di otak lelaki itu, tapi jelas, pada akhirnya nama Johanes memang selalu berhasil menempati urutan ke dua setelah Ayah sebagai laki-laki yang kucintai, meski selamanya perasaan kami hanya akan berpulang pada keperihan masing-masing.

Salsa. W

Menari Bersama Luka 3


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Salsa

   

Saya hanya penulis pemula yang lebih memfokuskan pada Fiksi, karenanya di sini kalian mungkin lebih mendapati karya-karya saya berupa cerpen. Saya menerima masukan dari siapa saja, silakan dm ig @penasalsa bila ada saran perbaikan. Terima kasih

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments