Cerpen   

Penantian dan Kenangan


Penantian dan Kenangan 1

Sudah empat musim berlalu, sejak terakhir kali kita duduk di sini. Kita berjanji akan setia bersama selamanya. Menulis setiap detik, setiap menit indah yang kita lalui untuk dibaca anak cucu kita nanti.

Tapi rupanya semua hanya tinggal kenangan, saat musim pergantian antara musim panas dan hujan. Bukan hanya air yang mengalir, tapi air mataku juga ikut bergulir saat kamu meminta untuk berpisah.

Bagaimana kabarmu saat ini? Apa kamu baik-baik saja?

Seperti telah bermimpi sekian lama. Untuk sementara waktu aku telah berkelana. Tapi tetap saja di sinilah aku berakhir. Penantian dan kenangan.

Baca juga  Before I Leave

Meski saat aku berpaling yang kulihat hanya postur tubuh tinggi dengan rambut yang selalu rapi. Apakah ini mimpi? Atau aku hanya terlalu merindukanmu hingga melihat bayanganmu di tengah siang begini.

“Sudah lama tidak jumpa?”

Bahkan suaranya pun terdengar sama.

“Oni?”

Pria itu tersenyum. Membuatku yakin bahwa ini bukanlah mimpi. Tapi sungguh dia yang berdiri di depanku saat ini. Setelah sekian lama. Bagaimana kabarnya? Aku hanya bisa mematung, terdiam dan tak berani bertanya.

Baca juga  Semuanya Masih Abu-abu

Mungkin akan aneh jika aku menanyakan bagaimana keadaannya sekarang. Atau aku takut akan patah hati seandainya tahu kini dia sudah memiliki penggantiku.

Haruskah aku bertanya atau hanya memandanginya?

Dia sungguh tidak berubah. Masih sama seperti 2 tahun lalu saat pergi meninggalkanku. Bahkan senyum nakal itu masih sama, sungguh menggoda.

Lama terdiam hanya memandanginya, kupalingkan wajah. Aku tidak ingin dia tahu bahwa aku masih mengharapkannya hingga kini. Tapi semakin aku acuh, dia justru membuat gerakan yang membuatnya mendekat.

Baca juga  Claudia

Berjalan dengan tenang ke arahku yang tidak berani menatap matanya. Tidak mampu tenggelam dalam kenangan. Lebih baik aku bergegas pergi sebelum semuanya terlambat.

Tapi tiba-tiba dia menghentikan langkahku dengan meraih lenganku dan berkata, “Awalnya aku pikir aku akan baik-baik saja, tapi seiring waktu aku semakin memikirkanmu dan semakin mengerti bahwa aku tidak bisa hidup tanpamu. Apakah mungkin perasaanmu sama denganku?”

Penantian dan Kenangan 3

Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Rado