Cerpen   

Sebuah Kisah Untuk Dilupakan


Sebuah Kisah Untuk Dilupakan 1

Aku kembali ke taman ini. Untuk sekali lagi mengenang, sebelum kulupakan segala tentangmu. Masih seperti kemarin, dan juga hari-hari sebelum kemarin. Taman ini masih tetap saja tak dapat memanjakan sepasang mataku. Begitu banyak fasilitasnya yang tak berfungsi dengan baik.

Jam dinding yang menempel di tugu simbol kota sudah tidak lagi menunjukan waktu dengan benar. Tenaganya sudah terlalu lemah untuk memutar jarum-jarumnya yang tua. Sarana bermain anak-anak yang telah dibalut karat. Batang ilalang yang selalu genit menciumi lutut kita. Dinding yang beralih fungsi menjadi semacam papan tulis. Bahkan kata-kata yang tertera begitu jorok dan tak pantas.

Kau, yang sekarang telah pergi, sering kali menyandarkan bahumu pada bahuku di taman ini. Kau katakan kau mencintaiku, apakah kau pun merasakan hal yang sama? kau melanjutkan pernyataan dengan sebuah pertanyaan. Selalu seperti itu. Entah untuk yang keberapa kali. Berulang kali kau nyatakan hal sama. Berulang kali pula kau tanyakan hal yang sama.

Tanyamu tak berubah, begitu pula dengan jawabku. Seringkali kau tanyakan alasan akan penolakanku. Seolah masih tak percaya bahwa cintamu tak mendapat sambutku. Tetapi aku tak pernah bisa menjawabnya. Kau menangis dan bertanya, jika memang tak mencintaiku, mengapa dekapmu begitu hangat dan mendamaikan? Aku menjawab, mungkin karena hatimu telah terlalu dipenuhi harap akanku.

Pohon beringin yang berdiri di sudut utara itu begitu rindang. Di tengah siraman matahari kota yang jaraknya semakin dekat dengan kepala kita, sangat berguna untuk mendinginkan ubun-ubun yang membara setelah seharian menopang matahari yang garang. Banyak pasangan yang singgah di sana. Tetapi, kita tidak melakukannya. Kita lebih memilih duduk di bangku ini, bangku yang terbuat dari sambungan-sambungan pipa besi, dan diteduhi bayangan gedung tinggi. Panjang dan lebarnya hanya cukup untuk kita berdua saja. Tetapi itu membuatku merasa lebih nyaman.

Baca juga  Semuanya Masih Abu-abu

Pernah kau mengajakku untuk turut serta dengan pasangan lain duduk di sana, tapi aku menolak. Aku katakan aku tak mau seperti mereka, terjebak dalam cerita romantis yang cengeng. Kau hanya mendengus tak suka. Tapi kau mengikuti ketidaksukaanku. Dan kau pun kembali melingkarkan lengan halusmu pada pinggangku yang tak lagi ramping.

Selalu seperti itu. Kita selalu menyempatkan diri untuk mampir ke taman ini meski hanya sebentar. Tak ada yang istimewa sesungguhnya. Tetapi ada hal lain yang membuat kau dan aku tak mau mencari tempat lain untuk menghabiskan sisa-sisa hari kita. Pergi ke bioskop, misalnya. Atau pergi ke pusat perbelanjaan, yang di sana tak ada rumput yang mengganggu kakimu hingga gatal. Kita tidak melakukan itu. Kita lebih memilih taman yang tak indah ini.

Waktu terus berjalan, dan kita masih melakukan ini. Aku terus membalas pelukmu yang tak pernah kucintai. Kau terus menikmati kebersamaan denganku. Kita seolah tak menganggap kehadirannya yang belum lama ini menjadi kekasihmu. Kau katakan kau terpaksa menerima cintanya karena aku tak pernah mau membalas cintamu. Aku katakan cintailah dia. Balas cintanya. Itu lebih baik. Jangan mengharapkan sesuatu yang tak pasti dariku. Sementara waktu akan terus menggerus ketangguhanmu dalam menghadapi kesendirian.

Baca juga  Membuat Pembersih Tangan Alami

Setelah kata itu terucap dari bibrku, kurasakan tanganmu semakin erat menggenggam tanganku. Seperti akar beringin di sudut taman yang mengikat tanah dengan kuat. Kau terima cinta darinya dengan sepenuh hatimu. Tetapi kau tidak memberikan cintamu penuh-penuh kepadanya. Kesungguhanmu hanya padaku. Sementara aku masih saja seperti ini.
Pernah kutanyakan tentang perkembangan antara kau dan dia. Kau malah balik bertanya apakah aku mulai merasa cemburu. Aku jawab bahwa aku hanya ingin tahu sejauh apa langkah kalian berdua. Kau merasakan ada nada yang sedikit tinggi dari suaraku. Dan kau diam tak melanjutkan.

Entah di pertemuan keberapa kita ke taman ini. Kau lingkarkan sepasang lenganmu lebih erat dari biasanya. Seolah tak ada lagi hari esok untuk mendapatkan pinggangku. Kau rebahkan dirimu lebih pasrah dari biasanya. Matamu sembab dan layu. Begitu pula seluruhmu. Tak kurasakan adanya dirimu.

Saat kutanya padamu apa yang terjadi? Kau hanya menjawab dengan tangis tertahan. Kau terisak hingga nafasmu terdengar sesak. Kubiarkan kau bertarung dengan perasaanmu. Kutunggu hingga kau memenangkan pertarungan itu. Butuh waktu yang tidak sebentar. Tetapi akhirnya bibirmu memaksakan sebentuk kata-kata yang samar, namun masih bisa kutangkap dengan jelas. Lelaki itu ingin menikahimu.

Baca juga  Hidup Menjadi Hampa Karena Masalah Keluarga

Mataku menatap matamu yang kosong dengan begitu lama. Tak ada satu pun kata yang terucap dari bibirku. Begitu juga dengan bibirmu yang pucat. Tanpa kusadari, kekosongan di matamu menjalar mengisi ruang di dadaku tanpa aku bisa mencegahnya.

Apakah kau telah setuju? Aku bertanya. Kau mengangguk lemah. Kau katakan sudah tak lagi sanggup menghadapi situasi aneh ini. Cepat atau lambat ini semua harus berakhir. Usai berucap, isakmu kembali. Dan anehnya terasa mengiris dan melukaiku.

Aku diam. Hanya terdiam tanpa mengeluarkan kata-kata. Secara perlahan kau mulai menemukan dirimu kembali. Kau tak lagi menangis, hanya masih merebah pasrah pada bahuku. Pelukmu semakin erat melingkariku. Sementara aku, aku terpuruk oleh rasa kehilangan tanpa bentuk.

Mungkin suatu saat nanti, putaran roda waktu akan menggilas segala ingatan akan kenangan yang dulu pernah membuat kau dan aku buta. Kau akan melupakan aku dan aku tak akan pernah mengingat dirimu. Akan ada manis yang lain, juga pahit yang lain yang akan mengisi hari-hari kita. Kisahmu usai kisahku usai. Kisah kita kan selesai. Walau aku tak tahu entah kapan?

Sebuah Kisah Untuk Dilupakan 3

Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

El-Pedia