Hewan   

5 Hewan yang Paling Banyak Digunakan Sebagai Bahan Penelitian


5 Hewan yang Paling Banyak Digunakan Sebagai Bahan Penelitian 1

Lebih dari 100 juta hewan di seluruh dunia digunakan dalam pengujian. Itu termasuk tikus, reptil, ikan, burung, dan primata bukan manusia. Mereka digunakan di laboratorium untuk tujuan penelitian, dan dalam pengujian untuk keperluan kimia, obat-obatan, serta kosmetik. Pada dasarnya, mereka diperlakukan sebagai “jaminan” sehingga kita dapat “aman” menggunakan produk baru.

Pernyataan terakhir itu tidak berlebihan. Banyak dari mereka memiliki lubang di tengkoraknya, kulitnya terbakar, atau mereka tidak bisa bergerak dan ditahan selama berjam-jam. Ketika tidak ada psikolog dan psikiater untuk hewan, tidak ada keraguan yang menggambarkan berapa banyak stres maupun kecemasan yang dialami oleh mereka.

Hewan yang digunakan dalam pengujian memiliki tipe yang berbeda, tetapi beberapa lebih umum digunakan daripada yang lain. Menurut The Hastings Center, tikus, ikan, dan burung merupakan 96% dari hewan yang diuji di Amerika Serikat. Hewan pengerat lainnya seperti marmut dan hamster merupakan yang kedua. Mari kita pelajari lebih lanjut tentang hewan yang digunakan dalam pengujian.

1. Tikus

5 Hewan yang Paling Banyak Digunakan Sebagai Bahan Penelitian 3

Mari kita mulai dengan hewan yang paling umum digunakan, 93% dari semua hewan laboratorium menggunakan tikus. Sekarang kita tahu dari mana ungkapan “tikus lab” berasal.

Tikus mudah dipelihara dan dipindahkan, mereka bereproduksi dengan cepat sehingga keturunannya dapat diamati dalam waktu singkat. Tikus memiliki 96% kesamaan dari DNA manusia sehingga mereka berpikir tikus adalah subjek uji yang ideal, dan para peneliti dapat memaksimalkannya karena mereka tidak termasuk ke dalam Animal Welfare Act (AWA).

Baca juga  7 Eksperimen Manusia Terburuk dalam Sejarah

Tikus terus menjadi subjek uji yang paling umum terutama di bidang rekayasa genetika. Genom tikus telah berhasil diurutkan kembali pada tahun 2002 dan sejak saat itu, para ilmuwan yang terlibat dalam pengujian hewan telah melibatkan makhluk-makhluk lemah maupun tak berdaya ini dalam setiap pengujian genetik yang bisa dibayangkan.

Seorang peneliti dapat memesan setiap jenis tikus hasil rekayasa genetika dan dalam proses itu, para pemasok membuang ribuan nyawa hewan itu dalam upaya untuk mencapai jenis tersebut. Mutasi dan kelainan genetik berlimpah sebelum eksperimen “nyata” dimulai.

Menurut sebuah penelitian yang dipimpin oleh profesor Jeffrey Mogil dari McGill University dan University of British Columbia di Kanada, tikus dapat merasakan sakit dan mengekspresikannya seperti manusia. Tampaknya, para peneliti yang mempraktikkan pengujian hewan tidak peduli akan hal itu.

2. Hamster dan Marmut

5 Hewan yang Paling Banyak Digunakan Sebagai Bahan Penelitian 4

Masih dalam keluarga tikus, hamster dan marmut juga banyak digunakan. Pada tahun 2012, lebih dari 200.000 marmut dan lebih dari 147.000 hamster ditahan di laboratorium AS. Cukup mengejutkan, marmut dan hamster memiliki tujuan berbeda untuk penelitian hewan.

Sebagai contoh, marmut lebih sering digunakan dalam tes toksisitas serta dalam penelitian tentang efek yang berhubungan dengan tembakau dan alkohol, karena mereka memiliki saluran udara yang sangat sensitif terhadap alergen. Cidera tulang belakang, pendengaran, dan penelitian ginjal juga menggunakan marmut sebagai subjek.

Hamster, di sisi lain, adalah hewan pengerat pilihan jika melibatkan rasa dan penglihatan. Penelitian tentang kondisi lain seperti penyakit neoplastik, kanker pankreas, asma, dan sapi gila juga sering menggunakan hamster. Mereka mudah tertular penyakit tetapi juga bereproduksi dengan cepat, sehingga menjadikannya pilihan populer untuk penyakit yang disebutkan di atas.

Baca juga  Cara Mengetahui Umur Sugar Glider Beserta Ciri-cirinya

Sedihnya, banyak dari penelitian dan percobaan ini bahkan tidak mempertimbangkan untuk meringankan rasa sakit hewan ini saat menjalani prosedur tersebut. Hampir 25.000 marmut dan 33.000 hamster telah menjadi sasaran percobaan hewan brutal ini tanpa menggunakan analgesik atau anestesi.

3. Kelinci

5 Hewan yang Paling Banyak Digunakan Sebagai Bahan Penelitian 5

Kelinci juga populer digunakan dalam penelitian hewan lebih karena kepraktisan daripada sains. Menurut data tahun 2012, sebanyak 205.482 kelinci berada di laboratorium penelitian Amerika Serikat dan sekitar 35% di antaranya diuji pada tahun yang sama.

Kelinci lebih banyak digunakan untuk tujuan praktis karena mereka umumnya jinak, mudah berkembang biak, dan murah untuk dipelihara. Kelinci sering digunakan dalam penelitian kosmetik, seperti tes iritasi mata dan kulit. Prosedur yang sangat menyakitkan untuk menghasilkan antibodi poliklonal juga menggunakan kelinci, belum lagi tes tentang embriotoksisitas dan pirogenitas.

Mereka sering ditahan dalam pengekangan seluruh tubuh saat eksperimen sehingga mereka tidak dapat menyentuh mata atau luka kulitnya. Bahkan ada satu percobaan di mana kutu melekat pada kulit mereka yang dicukur dan dibiarkan memakan tubuhnya selama 5 hari berturut-turut.

4. Burung

5 Hewan yang Paling Banyak Digunakan Sebagai Bahan Penelitian 6

Di Uni Eropa, burung adalah kelompok ketiga yang paling umum digunakan sebagai hewan percobaan di belakang tikus dan hewan berdarah dingin. Ini termasuk parkit, finch, puyuh, dan merpati.

Baca juga  Sempat Dianggap Punah, 6 Spesies Hewan Ini Muncul Secara Mengejutkan

Banyak percobaan menggunakan burung yang berfokus pada influenza, penyakit menular, dan infeksi virus. Kalkun dan ayam digunakan pada bisnis peternakan hewan dalam upaya untuk membuat mereka tumbuh dan gemuk. Dalam percobaan ini, mereka diberikan berbagai macam bahan kimia untuk mengubah tingkat pertumbuhannya.

5. Ikan

5 Hewan yang Paling Banyak Digunakan Sebagai Bahan Penelitian 7

Akan sulit untuk menentukan dengan tepat berapa banyak dari ikan yang digunakan dalam penelitian hewan. Dalam perkiraan kasar, mungkin ada sekitar 7 juta ikan yang digunakan setiap tahun di Amerika Serikat untuk tujuan itu saja.

Pada 90-an kita melihat peningkatan penggunaan ikan dalam penelitian biomedis, tes toksisitas, dan akuakultur. Embrio transparan dari ikan zebra membuatnya menjadi favorit. Karena berkembang di luar ibu dan menetas hanya dalam 3 hari, embrio-embrio itu disukai oleh banyak ahli fisiologi dan peneliti pengembangan vertebrata.

Di Jepang, ikan medaka sering digunakan untuk pengujian karsinogenisitas. Dalam 70 tahun terakhir, ikan platy dan swordtail telah menjadi perlengkapan pemodelan karsinogenik, sementara yang lain digunakan sebagai tolok ukur untuk pencemaran lingkungan dan paparan bahan kimia.

Di mata banyak peneliti, ikan menyederhanakan proses yang kompleks karena kecil dan murah. Alasan ini, bagaimanapun, adalah pedang bermata dua. Karena mereka kecil, bahkan para ilmuwan ini tidak tahu bagaimana perasaan atau penderitaannya. Ketidakberdayaan mereka membuatnya dapat dihabiskan, karena peneliti menggunakannya dalam jumlah yang berlimpah, dan kemudian membuangnya dengan mudah.

5 Hewan yang Paling Banyak Digunakan Sebagai Bahan Penelitian 8


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Rado

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments