Hewan    , Sejarah   

Wajah Fauna Nusantara Abad Silam Versi Wallace


Wajah Fauna Nusantara Abad Silam Versi Wallace 1

Alfred Russel Wallace (1823-1913) boleh dibilang sebagai petualang sejati. Tidak hanya di sekitar Inggris, negeri kelahirannya, atau Amerika, tetapi juga menjelajahi Asia. Selama 8 tahun (1854-1862), dia sempat mengitari wilayah dari Singapura sampai Papua. Catatan dan hasil penelitiannya terus diterbitkan ulang dan menjadi kajian para cerdik pandai.

Wajah Fauna Nusantara Abad Silam Versi Wallace 3

Lewat bukunya berjudul Malaya Archipelago, kita dapat menyimak jejak perjalanannya. Para ilmuwan masa silam seringkali menamai Nusantara dengan sebutan Malaya. Sedangkan archipelago karena dominasi laut. Kata itu berasal dari bahasa Yunani, arche artinya “utama” dan pelago artinya “laut”. Wilayah Nusantara tempo doeloe lebih luas dari wilayah Indonesia mutakhir. Sebagian besar memang berada dalam teritori Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Wajah Fauna Nusantara Abad Silam Versi Wallace 4

Wallace membagi pulau yang dikunjunginya dalam lima kelompok. Pertama, kepulauan Indo-Malaya, terdiri dari Semenanjung Malaysia dan Singapura, Kalimantan, Jawa, dan Sumatera. Kedua, kelompok Timur, terdiri dari Timor, Flores, Sumbawa, Lombok, dan beberapa pulau yang lebih kecil. Ketiga, Sulawesi, terdiri dari Kepulauan Sula dan Buton. Keempat, kelompok Maluku, terdiri dari Pulau Buru, Seram, Bacan, Halmahera, Morotai, serta kepulauan yang lebih kecil seperti Ternate, Tidore, Makian, Kayoa, Ambon, Banda, Gorong, dan Watubelu.

Baca juga  Fotografer Jepang Berhasil Mengabadikan Kucing Liar yang Merubah Trotoar Menjadi Rumah & Tempat Bermain Bagi Mereka

Sedangkan yang kelima adalah kelompok Papua, terdiri dari pulau besar Nugini, serta Kepulauan Aru, Misool, Salawati, Waigeo, dan beberapa pulau lainnya. Kepulauan Kai dimasukkan dalam kelompok ini karena pertimbangan etnologi, walaupun secara zoologis dan geografis masuk dalam kepulauan Maluku.

Dalam catatan Wallace, Kepulauan Malaya dari timur ke barat membentang 4.000 mil lebih, dengan lebar 1.300 mil dari utara ke selatan. Luas ini sama dengan luas dari Eropa hingga Asia Tengah. Pulau Borneo disebut Wallace bisa diletakkan di seluruh Inggris Raya dan akan dikelilingi lautan hutan. Dapat disaksikan bahwa semua bentangan laut yang memisahkan Pulau Jawa, Sumatera, Borneo, Malaka, dan Thailand begitu dangkal. Jadi, ketika penjelajahan Wallace dilakukan, pemisahan ini belum lama terjadi. Dahulu merupakan satu daratan.

Pendapat ahli mengatakan bahwa geologis permukaan bumi dari awal terbentuk terus-menerus mengalami perubahan dan masih akan terus berlangsung. Menurut Wallace, uji zoologi bisa membuktikannya. Misal, gajah dan tapir di Sumatera dan Borneo, badak di Sumatera, kerbau liar di Borneo, dan banteng di Jawa juga mendiami beberapa bagian Asia Selatan. Tentu, binatang-binatang itu tidak bisa melintasi lautan yang kini memisahkan wilayah-wilayah tersebut. Menurut Wallace, Sumatera sebagai pulau terakhir yang terpisah dari benua Asia.

Baca juga  5 Fakta Unik Yang Jarang Diketahui Orang Mengenai Yakuza Jepang, Ada Tes Tertulis!

Sedangkan semua pulau dari Sulawesi dan Lombok ke arah timur menunjukkan kesamaan dengan Australia dan Nugini. Perjalanan dari Jawa atau Borneo ke Sulawesi atau Maluku akan terpampang jelas perbedaannya. Di Jawa atau Borneo, hutan-hutannya dihuni berbagai jenis kera, kucing liar, rusa, musang, berang-berang, dan berbagai jenis tupai. Di Sulawesi dan Maluku tidak ditemukan, tetapi terdapat kuskus berekor prehensil. Burung yang melimpah di pulau bagian barat adalah pelatuk, barbet, trogon, murai, dan leaf-thrushes. Burung penghisap madu dan lory kecil dijumpai di pulau bagian timur.

Wallace tidak jarang mendapatkan fauna yang langka. Ketika menyinggahi Jawa selama 3,5 bulan (18 Juli hingga 31 Oktober 1861), dia menyebut Jawa sebagai pulau tropis paling cantik dan paling menarik di dunia. Pulau Jawa adalah pulau paling subur, paling produktif, dan paling padat penduduknya di wilayah tropika. Secara umum, harimau, badak, dan banteng berkeliaran tanpa gangguan. Di Jawa bagian timur, tepatnya di Wonosalem, dia melihat burung merak yang berbeda dengan merak India. Merak Jawa tertutupi dengan bulu-bulu hijau seperti sisik ikan dan jenggernya memiliki bentuk tak sama. Merak tidak ditemukan di Sumatera dan Borneo.

Baca juga  9 Fakta Menarik Blobfish, Si Ikan Buruk Rupa!

Setelah sepekan di Wonosalem, Wallace menuju desa Djapanan dan mempereloh spesimen unggas-hutan berwarna hijau yang langka (gallus furcatus). Punggung dan lehernya bersisik cantik dengan bulu merah tua dan jenggernya yang berujung lembut berwarna ungu violet yang berubah menjadi hijau di bagian dasarnya. Ayam hutan (gallus bankiva) juga ditemukan di daerah ini. Ayam ini suaranya lebih pendek dan kasar daripada ayam umumnya. Nama lokal ayam ini adalah bekeko. Saat perjalanan terakhir ke kepulauan Papua, dia mengklasifikasikan burung cenderawasih dalam 18 spesies di mana masing-masing dijabarkan ciri khasnya.

Wajah Fauna Nusantara Abad Silam Versi Wallace 5

Narasi petualangan Wallace sangat referensial untuk mencermati sejarah alam dan kekayaan fauna di Nusantara tempo silam. Tentu, perlu perbandingan dengan narasi-narasi yang dipaparkan sejarawan lain.

Wajah Fauna Nusantara Abad Silam Versi Wallace 6


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Hendra Sugiantoro

   

juru tulis, pemustaka, pengkliping koran, periset buku lawas, penikmat tokoh, dan penyeru literasi

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments