Kriminal    , Opini   

KDRT Rawan Terjadi Selama Pandemi, Perempuan & Anak Harus Dilindungi


KDRT Rawan Terjadi Selama Pandemi, Perempuan & Anak Harus Dilindungi 1

Dikarenakan adanya pandemi COVID-19, pemerintah memberi imbauan kepada masyarakat untuk melakukan pembatasan fisik, termasuk Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Hal ini membuat masyarakat diharuskan untuk berada di rumah saja dan melakuka karantina mandiri selama wabah virus korona baru masih ada. Namun, pembatasan fisik ini dapat menimbulkan kekhawatiran bagi kelompok rentan, salah satunya perempuan dan anak.

Dilansir dari DW, Koalisi Peduli Kelompok Rentan Korban COVID-19 (PEKAD) berpendapat bahwa imbauan pembatasan fisik atau #DiRumahAja menyebabkan polemik tersendiri bagi perempuan dan anak, khususnya mereka yang mengalami tekanan ekonomi dan psikis di dalam rumah tangganya.

Pendapat yang serupa juga diucapkan oleh I Gusti Ayu Bintang Darmawati Puspayoga, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. I Gusti menyebut bahwa perempuan dan anak adalah kelompok yang rentan menjadi korban terdampak pandemi COVID-19. Salah satu yang terbesar adalah risiko kekerasan berbasis gender semakin meningkat, termasuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) merupakan suatu tindak kekerasan yang dilakukan oleh seorang pengasuh, pasangan, maupun orang tua di dalam lingkungan keluarga. Secara umum, KDRT terbagi ke dalam empat bentuk, yaitu:

Kekerasan Fisik

KDRT Rawan Terjadi Selama Pandemi, Perempuan & Anak Harus Dilindungi 3

Pertama adalah kekerasan fisik, yakni setiap perbuatan yang dapat mengakibatkan rasa sakit atau luka berat. Kekerasan fisik dapat menyebabkan rasa trauma pada anak, yang membuat mereka tidak memiliki perasaan aman dan nyaman di dalam rumahnya sendiri.

Kekerasan Seksual

Kedua adalah kekerasan seksual, yakni segala perbuatan yang mengandung tindakan berunsur pemaksaan hubungan seksual dengan cara yang tidak disukai atau tidak wajar, juga pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain demi tujuan kormersil atau tujuan tertentu lainnya.

Baca juga  Hobi-hobi yang Bermunculan di Masa Pandemi

Kekerasan Psikis atau Emosional

KDRT Rawan Terjadi Selama Pandemi, Perempuan & Anak Harus Dilindungi 4

Ketiga adalah kekerasan psikis atau emosional, yakni setiap tindakan yang dapat mengakibatkan ketakutan, kecemasan, hilangnya kemampuan untuk bertindak, hilangnya rasa percaya diri, serta penderitaan psikologis berat dalam diri seseorang.

Kekerasan secara psikis meliputi perbuatan menyiksa dan mengintimidasi, memberi ancaman kekerasan, penjagaan yang cenderung berlebihan, pengurungan di dalam rumah, pemisahan (dengan anak misalnya), caci maki, juga penghinaan yang terus-menerus terjadi.

Penelantaran Rumah Tangga

Keempat adalah penelantaran rumah tangga, yakni perbuatan menelantarkan seseorang dalam lingkup rumah tangganya meski menurut hukum yang berlaku, orang tersebut memiliki kewajiban memberikan penghidupan, pemeliharaan, dan perawatan.

Penelantaran rumah tangga juga dapat disebut sebagai kekerasan ekonomi atau finansial, yang di dalamnya meliputi penolakan untuk memberi bantuan keuangan, penolakan untuk memperoleh keuangan, penolakan untuk memberi makan serta kebutuhan dasar lainnya, juga mengontrol layanan kesehatan, pekerjaan, dan sebagainya. Pembatasan atau pelarangan untuk melakukan pekerjaan yang layak di dalam atau di luar rumah juga merupakan bentuk penelantaran rumah tangga.

Peningkatan Kasus KDRT secara Global Selama Pandemi

KDRT Rawan Terjadi Selama Pandemi, Perempuan & Anak Harus Dilindungi 5

Berdasarkan laporan dari The Guardian (2020), peningkatan kasus KDRT terjadi secara global. Di Brazil, terjadi peningkatan aduan kasus KDRT hingga 40% atau 50 persen dan di Inggris terjadi peningkatan hingga 25 persen dalam tujuh hari setelah pengumuman karantina wilayah oleh pemerintah.

Baca juga  Covid-19 Masih Menyebar, Tetap Cuek?

Di Spanyol, peningkatan panggilan hotline terkait kasus KDRT meningkat sebanyak 20 persen selama beberapa hari dalam periode pembatasan fisik, sedangkan pemerintah Siprus mengklaim telah terjadi peningkatan panggilan hotline terkait kasus yang sama sebesar 30 persen dalam minggu pertama setelah negara tersebut mengumumkan kasus COVID-19 pertama yang terkonfirmasi.

United Nations Population Fund (UNFPA), badan PBB untuk bidang kesehatan dan reproduksi memperkirakan akan terjadi lebih dari 31 juta kasus KDRT jika karantina wilayah masih diberlakukan untuk enam bulan ke depan.

Peningkatan Kasus KDRT di Indonesia Selama Pandemi

Menurut data dari Sistem Informasi Online Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Simfoni PPPA), sejak 2 Maret hingga 25 April 2020, terdapat total berjumlah 643 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Dalam rinciannya, ada 275 kasus kekerasan yang dialami oleh perempuan dewasa dengan total korban mencapai 277 orang. Kemudian, ada juga kasus kekerasan yang dialami oleh anak sebanyak 368 kasus dengan jumlah korban mencapai 407 anak.

Data dari Tuani Sondang Rejeki Marpaung, anggota Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH Apik) memperlihatkan telah terjadinya peningkatan laporan atau pengaduan kasus kekerasan seksual, pemerkosaan, pelecehan seksual, dan pornografi dalam jaringan selama masa pembatasan fisik ini.

Tercatat adanya total 75 pengaduan kasus dari tanggal 16 Maret hingga 12 April 2020. Angka pengaduan tertinggi yang berada di peringkat pertama adalah penyebaran konten-konten intim di internet, disusul oleh kasus Kekerasan Seksual dalam Rumah Tangga (KDRT) pada peringkat kedua. Tuani menyebut, kasus KDRT menjadi sangat tinggi selama diberlakukannya pembatasan fisik karena korban tidak dapat melaporkan kekerasan yang dialaminya akibat situasi pandemi yang membuatnya tidak dapat keluar rumah.

Baca juga  Inilah Kondisi Dimana Nafsu Bercinta Wanita Meningkat Drastis!

Rumah Tidak Selalu Menjadi Tempat yang Aman

KDRT Rawan Terjadi Selama Pandemi, Perempuan & Anak Harus Dilindungi 6

Pada kenyataannya, rumah tidak selalu menjadi tempat yang aman untuk hidup. Bagi orang dewasa dan anak-anak yang hidup dalam kondisi KDRT, rumah kerap kali menjadi tempat di mana pelecehan secara fisik, seksual, maupun psikis terjadi. Hal ini dikarenakan rumah bisa menjadi tempat di mana penyalahgunaan kekuasaan dapat terjadi oleh pihak dominan, sering kali tanpa adanya pengawasan dari pihak luar.

Oleh sebab itu, kebijakan pembatasan fisik dan karantina wilayah tanpa disengaja akan dapat memberi orang yang menyalahgunakan kekuasaan untuk bertindak tanpa pengawasan. Norma dan sikap sosial yang mengisyaratkan harus adanya “kesucian” dalam kehidupan rumah tangga juga dapat mempersulit korban untuk berbicara, apalagi meninggalkan situasi kekerasan di dalam rumahnya akibat perasaan malu.

Maka dari itu, diperlukan adanya suatu tindakan untuk menangani kasus kekerasan seksual dan KDRT yang telah terjadi di dalam masyarakat selama masa pembatasan fisik dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Diperlukan juga upaya untukĀ  mencegah terjadinya kasus serupa untuk ke depannya selama masa pandemi ini.

KDRT Rawan Terjadi Selama Pandemi, Perempuan & Anak Harus Dilindungi 7


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

fadhli

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments