Opini   

“Ah Tuhan”: Gemuruh Pemberontakan Tuhan Saat Pandemi Covid-19


"Ah Tuhan": Gemuruh Pemberontakan Tuhan Saat Pandemi Covid-19 1

Pandemi Covid-19 masih berlangsung dan mungkin terus berlangsung untuk waktu cukup lama. Ribuan jiwa sudah menjadi korban dari virus mematikan yang tak kasat mata ini. Data Covid19.co.id (5 November 2020) menunjukkan angka yang “bombastis”. Jumlah positif adalah 425.796 orang, sembuh: 357.142 orang, dan yang meninggal: 14.348 orang. Jumlah tersebut masih tentatif dengan terus membuka kemungkinan bahwa akan terus bertambah untuk waktu yang lama. Dan kita sebagai korban yang masih diberi kesempatan untuk ‘menang’ melawan Covid-19, hanya berempati dan turut berduka cita bagi para keluarga korban. Hanya ini yang bisa kita lakukan sebagai empati yang sederhana. Tanpa harus menyentuh dan berpelukan secara fisik.

Menembus Celah Laboratorium

"Ah Tuhan": Gemuruh Pemberontakan Tuhan Saat Pandemi Covid-19 3

Kita masih terus bertanya-tanya, siapakah yang salah dalam situasi ini? Siapa yang harus bertanggung jawab? Jawaban yang pasti justru bersifat ‘belum pasti’. Artinya, virus Corona sebagai Rahmat Laboratorium Wuhan Cina, masih disangkal oleh pemerintah Cina sendiri. Sebaliknya, mereka justru menuduh Pasukan Militer Amerika yang mengikuti parade (lomba) militer dengan sengaja membawa virus tersebut. Karena merasa tidak terima, Trump yang mewakili pemerintah Amerika kembali mengutuk dengan mengatakan “Virus Cina”. Trump menjadi “Pahlawan” dan Cina sakit hati.

Selain itu, gemuruh lainnya terus terjadi. Kala pelbagai teori konspirasi mulai memanfaatkan momentum untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Salah satu Teori Konspirasi mengatakan bahwa virus ini merupakan hasil manipulasi Bill Gates. Dengan demikian, aksi empati Gates untuk menolong para korban pandemi Covid-19, dianggap memperalat manusia dengan menanam cit-cit sebagai alat untuk mengontrol manusia (Remote Control).

Dari celah laboratorium Wuhan Cina, lalu disusul oleh Trump yang mengutuk-mengutuk bagikan Tukang Sihir zaman klasik, hingga Gates yang menjadi korban Teori Konspirasi, kita terseret dan akhirnya tersesat dalam gemuruh kebingungan ini. Siapa yang salah? Dan siapa yang harus bertanggung jawab?

Tuhan?

Penyebab utama dari celah-celah Laboratorium Wuhan China, akhirnya bermuara pada perkara akan Tuhan. Tuhan menjadi “Kambing Hitam” ulah manusia yang biadab ini. Singkatnya, pandemi Covid-19 adalah buah kutukan Tuhan. Tuhan yang bersalah sehingga Tuhan sendiri yang harus bertanggung jawab. Benarkah demikian?

Gemuruh Tiada Akhir

"Ah Tuhan": Gemuruh Pemberontakan Tuhan Saat Pandemi Covid-19 4

Tuduhan tersebut hemat saya seperti yang terjadi dalam peristiwa Auschwitz. Orang-orang Yahudi yang tak bersalah dipanggang habis-habisan. Atas tindakan itu, gema dan gemuruh akan ketidakpercayaan Kepada Tuhan mulai bergelora, “Tuhan telah mati di Auschwitz, Tuhan telah mati di Auschwitz, dan Tuhan telah mati di Auschwitz”.

Dari Auschwitz, pandemi Covid-19 yang telah menelan ratusan ribu jiwa tak bersalah kembali menggelotorkan “Pemberontakan Kepada Tuhan”. Semua ikut memberontak, semua ikut menagih kasih, dan semua menunggu mukjizat Tuhan. Namun apa hasilnya?

Hasilnya adalah sebuah “gemuruh” (kekacauan). AS-Cina saling menuduh. Macron dan Erdogan masih sibuk “perang urat syaraf” atas aksi terorisme. Rusia sudah mengklaim “menang” menghasilkan vaksin Covid-19. Di Indonesia masih sibuk protes UU Cipta Kerja tanpa peduli angka dan korban Covid-19 semakin melonjak. 

Apakah Tuhan yang salah? Ah Tuhan!

"Ah Tuhan": Gemuruh Pemberontakan Tuhan Saat Pandemi Covid-19 5

Baca juga  Ikhlas adalah KUNCI menjadi Ojek Online sejati

Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Nando Sengkang

   

Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara-Jakarta.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments