Opini    , Budaya   

Benarkah Youtube Lebih Baik Dari TV


Benarkah Youtube Lebih Baik Dari TV 1

Platform Alternatif

Salah satu sebab kenapa Youtube bisa begitu perkasa di medio 2010-2015 adalah karena faktor esensial ini : Youtube lebih baik dari TV!

Sejak kehadirannya di jagat dunia maya, platform berbagi video ini memang memberikan dampak yang besar untuk masyarakat, seperti berubahnya perilaku dalam mencari sumber hiburan.

Pada era 90an dan 2000an, TV menjadi satu-satunya sarana untuk memuaskan dahaga masyarakat akan hiburan yang tidak bisa didapatkan dengan bergosip bersama tetangga, main gaplek di kala jaga siskamling atau mencari belalang sambil mencuri ketela pak tani.

Namun sayangnya yang terjadi kemudian adalah gagalnya TV menghadirkan tayangan yang variatif. Mereka yang tidak suka sinetron tentang naga dan raja yang naik mobil serta joget-joget dengan lagu memekakkan telinga akhirnya frustasi dan tidak punya pilihan selain dua hal : jadi apatis atau terpaksa ikut selera yang sudah dipersiapkan.

Baca juga  Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pembelajaran di Sekolah

 

Hijrah Jadi Youtuber

Lalu duar………. Youtube mulai populer di Indonesia. Tentu saja kaum muda sebagai avant garde yang menyambut pertama kali. Hiruk pikuk dunia maya mulai terasa. Niche¬†musik indie, react atas berbagai fenomena yang populer serta review barang jadi trend.

Kemudian disusul dengan topik games, petualangan seru ala traveler non titipan agen wisata dan review makanan hadir. Youtube sangat variatif. Terlebih bagi mereka yang bisa Bahasa Inggris, maka kesempatan untuk menikmati berbagai konten berkualitas, asyik, menarik, beragam dan berwawasan terbuka lebar.

Itulah Youtube di masa lalu. Setidaknya lima atau sepuluh tahun yang lalu. Hingga kemudian para selebritas dan pegiat dunia hiburan juga mencium hal ini. Mereka sadar bahwa Youtube bisa lebih dari TV. Biaya produksi bisa ditekan namun keuntungan berpotensi datang berlipat kali ganda.

Lalu negara api menyerang, eh salah. Salah hijrahlah mereka, bukan satu,dua atau tiga, tetapi berbondong-bondong.

Baca juga  Viral, Video Polisi Todong Pemuda Yang di Paksa Membawa Narkoba

Benar kini Youtube makin jaya. Youtuber makin banyak dan niche makin beragam. Namun serasa ada yang bergeser. Youtube makin mirip TV!

Konten gaming, review kosmetik, mukbang dan paling hits saat ini : give away menjejali kanal berbagi video itu. Dengan tim yang solid dan tentu saja dukungan finansial, muncullah berbagai channel baru milik para pegiat yang sebelumnya aktif di televisi.

Kini makin banyak artis yang jadi Youtuber. Juga para Buzzer baik dari yang sebelah sini maupun sebelah sana. Belum lagi para politikus yang ingin cari panggung. Dan parahnya lagi, saluran televisi.

Ada gula ada semut. Ada Megumi ada bapak-bapak kesepian. Tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api. Tidak mungkin ada susu berceceran kalau tidak ada yang menumpahkan. Tidak mungkin ada anak kalau tidak ada orang tuanya. Ada sebab ada akibat. Keberadaan insan jagat hiburan di Youtube tentu saja karena ingin mencari sesuatu, bisa ketenaran, uang, koneksi, atau kombinasi semuanya.

Baca juga  8 Hal yang biasanya dilakukan oleh orang Tionghoa pada saat Imlek

Kini yang jadi tantangan adalah bagaimana masyarakat khususnya generasi muda, apakah masih berjiwa avant garde? Beranikah untuk tidak tenggelam dalam topik-topik memamerkan kekayaan dan mempertontonkan kemurahaan hati? Beranikah untuk menghargai mereka para Youtuber dengan vlog-vlog yang tampil beda?

Silahkan semua berpendapat. Selera setiap orang berbeda. Ada yang ke Youtube karena ingin drama-drama baru, bahkan kalau bisa dapat drama di TV plus di Youtube. Itu sah-sah saja. Nanti pada akhirnya semua akan bermuara pada pasar. Tetapi yang jadi mengerikan adalah jangan-jangan selera pasar dipaksa tunduk pada para pencipta konten. Semoga bukan itu yang terjadi karena jika iya, maka kita butuh platform baru.

Benarkah Youtube Lebih Baik Dari TV 3


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Koala Merah

   

Seorang penulis lepas yang suka fotografi, koding dan seni kontemporer. Tertarik dengan isu sosial, kreativitas dan teknologi.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments