Opini    , Psikologi   

Iri Hati dan Jiwa yang Rapuh


Iri Hati dan Jiwa yang Rapuh 1

Lilik menjerit kesetanan. Ia berteriak dan memaki setiap hari. Semua tetangganya merasa sangat terganggu.

Ada saja yang membuat Lilik menjadi berang. Ia teringat bagaimana adik-adik iparnya sukses. Ada yang jadi polisi, menikah dengan PNS, diterima di perusahaan besar, minimal jadi petani dengan sawah yang luas.

Lilik iri. Bayangan akan kesuksesan adik-adiknya membelenggu pikiran dan jiwanya. Ia jadi pribadi yang rapuh dan akhirnya kewarasannya memudar. Ia jadi gila. Teriak-teriak setiap hari dan mengumpat. Melemparkan kata-kata kotor. Suaminya malu, merekapun pindah ke bagian desa yang lebih terpencil jauh dari keramaian.

Apa yang terjadi dengan tokoh Lilik di atas juga bisa terjadi pada siapa saja. Iri akan berkembang menjadi kanker yang berbahaya yang siap menggerogoti jiwa bahkan kewarasan kita.

 

Iri Menciptakan Nuansa Negatif

Lantas apa itu iri? Iri adalah kondisi dimana kita tidak mampu menyamai orang lain. Iri muncul dari hati yang dengki, suka membandingkan diri dengan orang lain serta berusaha ingin seperti mereka.

Baca juga  15 Tips untuk Meningkatkan Produktivitasmu

Iri bisa hadir karena berbagai keadaan. Mungkin kita sudah berusaha tetapi dicurangi atasan, tetangga, teman, atau klien. Sehingga hati kita memberontak. Kita iri tidak bisa seperti mereka. Padahal beruntung karena perbuatan curang adalah seperti menanam bom waktu yang berbahaya.

Iri selalu hadir dengan nuansa negatif, jika dibiarkan berlarut-larut. Hal ini akan mengubah kita menjadi mudah marah, pemberang, pembenci, bahkan orang jahat yang mereka-reka celaka untuk orang lain.

Dalam berbagai cerita dan epos dikisahkan bagaimana perang, kejahatan dan kekejian muncul dari hati yang memelihara sifat iri.

Seorang ratu yang kaya raya lagi berkuasa iri ada wanita yang lebih cantik darinya. Maka dikutuknya si putri jelita itu. Itulah kisah Putih Salju atau Snow White.

Baca juga  5 Tips Memaafkan Agar Hidup Lebih Bahagia

Atau kisah puteri tidur dikutuk oleh peri yang merasa iri karena tidak diundang dalam pesta oleh raja dan ratu. Peri mengutuk sang puteri akan tertidur ketika jemari indahnya menyentuh jarum jahit.

 

Hidup Tak Selalu Mulus

Memang jalan hidup tak selalu mulus. Ada saja orang yang berada di atas kita. Namun bukan berarti itu memberi kita kesempatan untuk memelihara rasa iri.

Iri sama saja dengan meminum racun namun berharap orang lain yang mati. Ini konyol. Subyek yang menjadi target iri dengki belum tentu hidupnya terusik, sedang mereka yang memelihara hati yang iri sudah pasti hidup dalam luka batin yang teramat dalam. Penderitaan juga enggan untuk pergi. Inilah penyiksaan psikologis yang berpotensi membuat orang jadi kehilangan kewarasan.

 

Mengelola Energi Negatif

Pilihan ada di tangan kita. Ingin hidup dengan rasa iri yang membunuh perlahan atau mau sukses? Jika memilih yang kedua, belajarlah untuk berdamai dengan diri sendiri. Perbanyak ucapan syukur. Kelola energi negatif.

Baca juga  Ayah Membuat Aku Menjadi Lebih Aku!!

Jadikan kesuksesan orang lain sebagai pelecut yang akan mendorong diri untuk terbang jauh lebih tinggi lagi. Inilah motivasi. Jadikan iri sebagai motivasi terbaik.

Memang mengubah energi negatif menjadi positif tidaklah mudah namun rasanya itulah satu-satunya jalan atau jiwa yang iri akan terus menguasai kita dan menyeret dalam penderitaan yang lebih menyedihkan setiap harinya.

Jangan patah semangat. Akan selalu ada cara untuk meraih sukses asalkan konsisten, terus berinovasi serta pantang menyerah.

Sebaliknya, jika menyerahkan jiwa pada sikap iri, alih-alih lebih sukses, Anda berpotensi seumur hidup menjadi insan yang gagal dan merana. Menyesal kemudain tidak akan membantu.

Iri Hati dan Jiwa yang Rapuh 3


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Koala Merah

   

Seorang penulis lepas yang suka fotografi, koding dan seni kontemporer. Tertarik dengan isu sosial, kreativitas dan teknologi.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments