Opini   

Jogja Kamu Berubah, Tapi Aku Nggak


Jogja Kamu Berubah, Tapi Aku Nggak 1

Kalau kata orang-orang untuk membuat terpikat dan menjadi perhatian bisa menggunakan susuk, mungkin konsep ‘kata orang’ tersebut bisa diaplikasikan atau diibaratkan langsung untuk kota Yogyakarta atau Jogja. Kenapa seperti itu? Karena Jogja memang punya daya tarik tersendiri untuk semua kalangan, tidak hanya wisatawan, namun bagi pemuda–pemudi diluar Jogja yang ingin mengadu nasib sekaligus menuntut ilmu di kota ini.

Tidak hanya UGM (Universitas Gajah Mada) saja yang bercokol dan mentereng di mesin pencarian Google ketika kita mencari dengan kata kunci “Universitas di Jogja”, tapi ada UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), ISI (Institut Seni Indonesia), UNY (Universitas Negeri Yogyakarta), dan kawan – kawannya. Kali ini, konsep ‘terserah’ sangat cocok diaplikasikan untuk para calon mahasiswa/mahasiswi khususnya dari luar Jogja dalam memilih Universitas dan bakat yang diminati, walaupun pada akhirnya para orang tua harus kembali memantau isi dompet serta ATM dan meyakinkan diri sendiri bahwa budget untuk buah hati tercinta lebih dari cukup, cukup untuk bulanan, cukup untuk bensin, cukup untuk bayar kost, dan cukup untuk nongkrong bareng teman-temannya di kedai kopi kekinian, bukan di angkringan atau sate klathak.

Baca juga  Kapan Harus Nge-KICK Akun Yang DM Gengges di Medsos?

Dulu sebelum smartphone melanda dunia, menurut saya, informasi mengenai sudut kota Jogja masih sangat terbatas, dan terbilang hanya itu-itu saja infonya, oleh karena itu tempat nongkrong dan warung makan yang saya kunjungi hanya sebatas ditempat itu saja, tapi kali ini berbagai macam informasi mengenai wisata di Jogja, tempat makan, tempat ngopi, tempat belanja murah bisa dengan mudah dicari dalam genggaman setiap orang.

Jogja Kamu Berubah, Tapi Aku Nggak 3

Mungkin saya termasuk salah satu orang yang beruntung, karena ayah saya adalah seorang anak petani asli Jogja, tepatnya di daerah Pangukan, Sleman. Memutuskan untuk merantau ke Bogor, hingga akhirnya berkeluarga dan ke-Jogjaan nya seperti tertransfer kuat ke saya, hingga setelah lulus Sekolah Menengah Akhir saya memutuskan untuk berkuliah di Jogja. Selesai di tahun 2011, dengan berat hati saya kembali pulang dengan niat untuk mengaplikasikan ilmu saya di Ibukota, walaupun pada akhirnya kurang beruntung. Disaat ketidak beruntungan itulah saya merasa menyesal telah memilih untuk meninggalkan Jogja, namun demikian, saya masih bisa mudik bersama keluarga, tidak hanya di Lebaran saja, tapi di hari-hari biasa.

Baca juga  Ikhlas adalah KUNCI menjadi Ojek Online sejati

Perkembangan kota ini terbilang sangat cepat, ketika kembali ke Jogja ada beberapa hal yang saya perhatikan dan ternyata itu sudah berubah, salah satunya ialah dibangunnya sebuah hotel besar yang sangat mentereng dan mewah di daerah Jalan P.Mangkubumi, Jetis. Ketika melewati jalan tersebut untuk menuju ke kota saya hanya bisa bilang “wow!”, karena menurut saya itu adalah komentar terbaik daripada saya harus menggunjing, toh itu pun sudah bisa membangun perekonomian untuk wilayah sekitar, jadi, warga asli tidak perlu repot-repot merantau ke Ibu kota yang tidak bisa menjadi jaminan mutu untuk sukses.

Sebagai keturunan asli Jogja yang lahir dan dibesarkan di kota hujan, Bogor, saya sempat protes dan bergumam sendiri mengenai harga tanah yang ada di kampung orang tua saya. Ya, harga tanahnya menurut saya “Ediyann larange ora umom!”(gila mahal banget!), bahkan orang tua saya pun harus berpikir detail kalau mau membeli tanah yang ada dikampungnya, karena kalau tanahnya mampu kebeli tapi tidak bisa dibangun, sama saja.

Baca juga  7 Destinasi Wisata Menarik di Sleman, Sungguh Mempesona!

Sampai saat ini hati saya tidak berubah untuk terus memilih Jogja sebagai tujuan hidup selanjutnya, walaupun Jogja sudah banyak berubah menjadi lebih atau kurang baik, tapi ‘susuk’nya masih sangat kuat untuk saya kunjungi selalu. Bukan hanya saya saja, tapi pasti banyak orang merasakan hal yang sama terhadap kota Jogja, terutama bagi mereka yang bukan asli Jogja tetapi pernah hidup, tinggal dan memiliki kenangan indah di kota Istimewa ini. Maka tidak salah kalau kota ini di cap sebagai Daerah Istimewa, seperti lirik lagu Jogja Istimewa yang dinyayikan oleh JHF (Jogja Hip Hop Foundation) ‘Jogja jogja, jogja istimewa, istimewa negerinya, istimewa orangnya’.

Jogja Kamu Berubah, Tapi Aku Nggak 4


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Adit Pramudyo

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments