Kerja & Kenyamanan Hati

Kutu Loncat tak selalu buruk. Cari akar masalahnya, bukan melulu menyalahkan orangnya.2 menit


25
25 upvote
Kerja & Kenyamanan Hati 1

Supri akhirnya memilih resign lagi dari pekerjaannya. Harus bekerja delapan jam penuh dan sering lembur tanpa gaji tambahan membuatnya berpikir ulang, apakah selama ini ia bekerja atau dipermainkan.

Belum lagi dengan jarak yang begitu jauh antara rumahnya dan tempat kerjaan. Rumahnya hanya sederhana, sebuah bilik dari seng bekas yang ia dirikan di tanah pemerintah.

Ia bercita-cita menyekolahkan anak-anaknya sampai kuliah. Tetapi dengan gaji yang sangat kecil, Mamat dan Roy pasti cuma sampai SMA. Atau bahkan lebih buruk lagi, putus sekolah di tengah jalan.

Ia lalu bertekad untuk cari pekerjaan lainnya. Dan tentu saja mengundurkan diri dari pekerjaan yang saat ini ia tekuni. Padahal baru 1 tahun dia bekerja. Dan di kalangan teman-temannya, Supri akhirnya sering disebut si kutu loncat.

Baca juga  5 Platform yang Siap menjadikanmu Seorang Penulis

 

Fenomena Kutu Loncat

Apa yang terjadi dengan tokoh rekaan Supri di atas sebenarnya merupakan representasi dari sebuah fenomena yang cukup terkenal di dunia kerja, yakni kutu loncat.

Apa itu kutu loncat? Ini adalah sebutan bagi insan yang suka gonta-ganti pekerjaan. Masalahkan jangka waktu dia bekerja bisa sangat singkat sekali, kurang dari satu tahun atau bahkan hanya beberapa bulan saja.

Para pekerja yang disebut kutu loncat ini mencoba berbagai lowongan kerja dan kemudian seolah-olah dengan mudah pindah mencari tempat yang baru.

 

Menyikapi Persoaalan Kutu Loncat

Tentu ada banyak yang geram melihat fenomena kutu loncat, khususnya para HRD, personalia, atau bahkan petinggi perusahaan.

Begitu menjadi seorang pekerja, tentu ada beban dan tanggung jawab yang melekat. Dengan melakukan resign, terlebih tiba-tiba, tentu saja roda perusahaan menjadi kacau. Terlebih jika tenaga pengganti belum ada.

Lalu bagaimana menyikapi hal ini dengan tepat? Mengingat hal ini merupakan masalah klasih, klise namun bisa berakibat fatal ada baiknya bersikap arif dan bijaksana.

Baca juga  Indonesia 'Masih' Belum Siap Pembelajaran Online

 

Fasilitas dan Gaji

Semua orang bekerja terutama karena ingin mendapatkan gaji. Sudahkan perusahaan memikirkan besaran gaji dan fasilitas dibandingkan dengan tanggung jawab yang harus diemban pekerja.

Jika ternyata gaji yang diberikan sangat kecil dan terlebih tidak sesuai dengan apa yang pernah dijanjikan, tentu saja orang yang ingin meningkatkan kualitas hidupnya tidak ingin berlama-lama bertahan.

 

Tingkat Kesulitan

Selain masalah gaji, satu hal yang membuat orang mudah meloncat dan mencari kerja baru adalah mengenai tingkat kesulitan. Apakah tingkat kesulitan pekerjaan sedemikian hebatnya? Perlukan menambah tenaga? Apakah tidak ada sistem terbaru yang bisa diaplikasikan untuk membantu para pekerja?

 

Kenyamanan

Kenyamanan juga penting. Bahkan sering orang rela melepas pekerjaan dengan gaji besar ataupun fasilitas menarik karena tidak mendapat kenyamanan.

Baca juga  Menulis Adalah Sarana Pembebasan Terbaik

Ada banyak faktor yang berkontribusi dalam kenyamanan ini. Salah satunya adalah faktor kepemimpinan, ruang kantor, lingkungan kerja, dll.

 

Karakter

Tidak selamanya semua ini berkaitan dengan kantor. Ada juga jenis pekerja yang memang berkarakter sebagai kutu loncat. Mereka tidak segan untuk kabur dari tanggung jawab dan mencari-cari peluang untuk bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Semua ini terutama sekali memang berkaitan dengan sifat dan karakter dari pekerja yang bersangkutan. Namun memiliki jiwa oportunis seperti itu juga merupakan sebuah kewajaran. Ia tidak ingin terjebak berlama-lama di tempat yang terutama dianggap tidak mampu membantunya mencapai mimpi-mimpinya.

Ada hal penting lainnya yang perlu diingat. Dari sudut pandang lain, perusahaan dan pengusaha juga tak segan mengganti karyawan yang dianggap tidak memenuhi ekspektasi mereka. Jadi, bukankah ini merupakan hal yang sudah wajar di dunia kerja?


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

25
25 upvote
Guritno Adi Siswoko

Legend

Seorang penulis lepas yang suka fotografi, koding dan seni kontemporer. Tertarik dengan isu sosial, kreativitas dan teknologi.