Opini    , Kriminal   

Kerusuhan Rasial & Amerika yang Hipokrit

George Floyd, seorang pria kulit hitam dibunuh polisi. Rakyat marah, kerusuhan pecah. 2 menit


Kerusuhan Rasial & Amerika yang Hipokrit 1

Apa kabar Amerika, sudah makan burger hari ini? Bagaimana harga minyak global, masih amankah? Oh, perseteruan dengan China? Mungkin ada yang lebih menarik, cobalah berkaca pada dirimu. Atau bertanyalah pada George Floyd. 

Kematian George Floyd adalah bentuk penindasan paling terkini dari negeri Paman Sam. Awalnya dia berniah menukarkan voucher di sebuah toko. Tetapi sang penjaga toko mencurigai vouchernya palsu. Polisi lalu datang, mengaku karena mendapat laporan.

Akhir cerita, Pemuda yang ingin menukarkan voucher itu harus meregang nyawa karena ditindih dengkul polisi.

“Aku tak bisa bernafas…” ulangnya berkali-kali. Ia akhirnya mati sia-sia setelah 4 menit ditekan oleh lutut si polisi. Sungguh perbuatan jenius.

Tidak menunggu sampai berhari-hari, kerusuhan pecah. Warga tidak terima tindakan cerdas bin jenius dari aparat itu. Amerika bergejolak. Bukan oleh rudal Iran, spionase Rusia atau manuver ekonomi Cina, melainkan oleh ulahnya sendiri memperlakukan warga kulit hitam secara tidak beradab.

Baca juga  5 Superhero Kulit Hitam Terpopuler & Terkuat

Tidak hanya di Minnesota, protes juga dilakukan di Los Angeles, Memphis dan Chicago. Tentu saja yang paling parah ada di Minneapolis.

Gubernur Minnesota bahkan meminta Garda Nasional untuk hadir dan mengambil langkah-langkah terkait perlindungan dan pemulihan ketertiban. Bahkan Presiden Donald Trump juga sampai melemparkan statement. Dari sini bisa kita lihat bagaimana besarnya kerusuhan yang pecah yang dimulai dari kematian yang tidak perlu dari seorang pria kulit hitam oleh polisi kulit putih yang ceroboh.

Sudah bukan rahasia jika Amerika hobi sekali mengurusi permasalahan dalam negeri negara lain. Berbagai tuduhan kerap mereka muntahkan untuk musuh-musuhnya, antara lain sebagai negara iblis, penindas HAM dan korup. Coba tanya pada Korea Utara, Kuba atau Venezuela.

Tetapi nampaknya sekarang takdir berkehendak lain. Satu lagi bobrok negeri Pamela Anderson itu terungkap, yakni bagaimana slogan demokrasi tak lebih dari omong kosong belaka.

Baca juga  Menjadi Manusia Yang Seimbang

Memang tak ada negara demokratik yang sempurna, tetapi kematian George Floyd dan warga kulit hitam sebelumnya akibat tindakan sewenang-wenang aparat kulit putih sudah tak dapat dibiarkan saja.

Menurut lembaga bernama Mapping Police Violence, warga kulit hitam punya potensi tiga kali lebih besar untuk dibunuh oleh polisi daripada warga kulit putih.

Padahal baru beberapa tahun yang lalu, Kota Ferguson membara. Michael Brown, remaja kulit hitam yang tak bersenjata dibunuh oleh seorang polisi kulit putih.

Bukannya berdiam diri saja, pemerintah negara bagian sudah cukup berusaha dan berinovasi memerangi keteledoran aparatnya yang berkali-kali bikin geram warga kulit hitam. Keputusan penting diambil, yakni dengan memperlengkapi kamera di badan serta berbagai pelatihan.

Baca juga  SEO, Siapa yang Kita Hadapi? Manusia Atau Bot?

Walau begitu lagi dan lagi, seorang warga tidak berdosa jadi korban. Kali ini di Minnesota. Apakah ini yang terakhir? Semoga saja.

Penting bagi Amerika saat ini untuk lebih bijak bertindak, yakni melakukan evaluasi pada kasus-kasus serius yang sedang menimpanya.

Resesi ekonomi paska pandemik bukan tidak mungkin akan menerpa negeri Drew Barrymore itu, dan makin memperlebar jurang antara si kaya dan miskin.

Tetapi apakah dengan ini Amerika akan berhenti bertindak sebagai polisi dunia? Tentu tidak. Inilah sebuah fenomena lucu yang mempertontonkan hiprokritnya Amerika Serikat.

Anda bisa bertemu dan menyapa Paman Sam, maka bolehlah kita bertanya :

Apa kabar Amerika, sudah makan burger hari ini? Bagaimana harga minyak global, masih amankah? Oh, perseteruan dengan China? Mungkin ada yang lebih menarik, cobalah berkaca pada dirimu. Atau bertanyalah pada George Floyd.

Kerusuhan Rasial & Amerika yang Hipokrit 3

Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Koala Merah

Legend   

Seorang penulis lepas yang suka fotografi, koding dan seni kontemporer. Tertarik dengan isu sosial, kreativitas dan teknologi.